Overste Sroedji

by - November 05, 2025


Moch. Sroedji dan para sahabat seusai badminton di Kreongan. Dokumentasi milik Alm. Elok Satiti. Repro pada 15 April 2015, atas izin Oma Elok Satiti


SROEDJI anak nomor dua dari tujuh bersaudara. Kakak lelakinya bernama Mochtar. Lima adik kandungnya masing-masing bernama Ukim, Mardiyah, Zubaedah, dan Fatimah. Paling bungsu bernama Minah. Dua adiknya yang terakhir, Fatimah dan Minah, mereka lahir di Kediri. Sedangkan lima lainnya, semuanya lahir di Bangkalan. Itulah mengapa Sroedji memiliki dua ruang bertumbuh di masa kecil, Bangkalan dan Kediri.

Orangtua Sroedji hidup sebagai pedagang. Hasan dan Amni. Jalan hidup niaga membuat mereka terbiasa berkeliling antar desa. Sedangkan kepindahan mereka dari Madura ke Kediri, selain alasan ekonomi, di Kediri mereka punya tempat jujugan. Ada saudara di sana. Selama di Kediri, mereka tinggal di kecamatan Gurah, Kediri, tepatnya di dusun Kauman. 

Semisal dibuatkan curriculum vitae, kira-kira jadinya akan seperti ini.

1 Februari 1915: Mochamad Sroedji lahir di Bangkalan, Madura, dari pasangan Hasan dan Amni.

1922 – 1929: Memasuki usia tujuh tahun, Sroedji sekolah di Hollandsch-Inlandsche School Kediri.

1929: Tamat dari Hollandsch-Inlandsche School, Sroedji melanjutkan proses belajarnya di sekolah teknik pertukangan Ambactsleergang di Malang.


1933 – 1934: Sroedji menyelesaikan studinya di Ambactsleergang Malang, dengan beberapa praktik kejuruan dilakukan di Burger Ambachtsschool Surabaya.

1934 – 1938: Di periode ini Sroedji muda mencoba mengikuti garis hidup keluarganya sebagai seorang pedagang. Ia berdagang dari satu tempat ke tempat yang lain, berpindah-pindah mengikuti cara Ayahnya dalam berdagang, hingga menyeberang ke Pulau Kalimantan. Dirasa tidak memiliki naluri tajam dalam berdagang, tak seperti Ayah dan dua saudara lelakinya, Mochtar dan Ukim, maka Sroedji tak melanjutkan pekerjaannya. 

Setelah merasa gagal berdagang, Sroedji kembali ke Jawa Timur dan kembali aktif di Hizbul Wathan Malang. Dari sana ia memperoleh kesempatan untuk mengikuti kursus pemberantas malaria.

1938: Sroedji mulai bekerja di gezondheidskantoor alias Djawatan Kesehatan Rakjat di Jember sebagai mantri malaria. Ia bekerja sedari tahun 1938 hingga 1943.


28 September 1939: Moch. Sroedji dan Mas Roro Roekmini menikah di Bangkalan, Madura. Tak lama kemudian, Sroedji segera membawa istrinya ke Jember.

1938 – 1941: Setibanya di Jember, di usianya yang cukup muda, 23 tahun, Sroedji segera adaptasi, melakukan kerja-kerja kesehatan sebagai mantri malaria, dan merapat pada organisasi kemasyarakatan Muhammadiyah Cabang Jember.

1941 – 1942: Di periode pendek ini Sroedji tercatat aktif sekali di organisasi kepemudaan IM atau Indonesia Moeda, aktif berorganisasi di Muhammadiyah Cabang Jember dengan posisi tertinggi sebagai sekretaris Muhammadiyah Jember, aktif juga menelurkan pemikirannya perihal dunia olahraga di Jember. Itulah catatan singkat perjalanan hidupnya sebelum invasi jepang menggantikan kolonialisme Belanda. 


Catatan selanjutnya adalah tentang karier militer Sroedji, saya ambilkan dari catatan lama yang saya bikin di sekitar tahun 2013 - 2015. 


SPOILER: KARIER MILITER SROEDJI dan JALUR WINGATE


1. Pada 8 Desember 1943, Sroedji dilantik sebagai opsir PETA di Lapangan Ikada.
2. Tugas pertama Sroedji adalah sebagai komandan kompi untuk Karesidenan Besuki - Batalyon 1 Kencong, di bawah Daidanchoo Soewito.
3. Setelah dibacakan Proklamasi, pada 23 Agustus 1945 Soekarno mengumumkan keberadaan Badan Keamanan Rakyat atau BKR. Selanjutnya, Sroedji ada di BKR Resimen II dan memegang Batalyon di sebuah wilayah di Jember.
4. Pada 5 Oktober 1945, keluar Maklumat Pemerintah, BKR dianggap tidak mewakili tentara kebangsaan. Untuk itulah dibentuk Tentara Keamanan Rakyat atau TKR, dan BKR melebur di dalamnya. Kehadiran TKR disusul dengan terbentuknya 10 Divisi di Jawa dan 6 Divisi di Sumatra. Sedangkan daerah Jawa Timur pada waktu itu dipertahankan oleh kekuatan berikut.

a. Divisi VI/Madiun-Kediri, berkedudukan di Kediri
b. Divisi VII/Bojonegoro-Surabaya-Madura, berkedudukan di Mojokerto
c. Divisi VIII/Malang-Besuki, berkedudukan di Malang.

Catatan: Perlu diketahui bahwa di Jawa Timur sebelumnya sudah ada Divisi-divisi, yaitu Divisi V, VI, VII, dan VIII. Setelah terjadi pembentukan seperti di atas, maka Divisi VII dan VIII digabungkan menjadi satu dan menjadi Divisi VIII. Divisi-divisi itu diberi nama Divisi V/Ronggolawe, Divisi VI/Narotama, dan Divisi VII/Untung Suropati.

Dibentuknya TKR membuat posisi Sroedji ada di dalam Resimen IV/TKR/Divisi VIII yang berkedudukan di Jember. Ia berpangkat Mayor dan tetap memegang Batalyon, dikenal sebagai Batalyon Sroedi atau Batalyon Alap-alap. Sedang Komandan Resimen IV waktu itu adalah Kolonel Soerodjo Mangoenprawiro. 5. Keluar Penetapan Pemerintah No. 2/S.D. 7 Januari 1946 tentang perubahan sebutan Tentara Keamanan Rakyat menjadi Tentara Keselamatan Rakyat, dengan singkatannya tetap TKR. Dalam hitungan hari, PP tersebut segera berganti lagi. Pada 25 Januari 1946 keluarlah Penetapan Pemerintah RI No. 4/S.D. Ia membawa akibat peleburan Tentara Keselamatan Rakyat menjadi Tentara Republik Indonesia atau TRI. Dari sini dunia ketentaraan kita mulai menemukan bentuknya, seperti yang telah saya ceritakan di catatan sebelumnya.
Adapun Sroedji, ia masih memegang Batalyon Alap-alap.

Di masa TRI, tiga Kompi Batalyon Soegondo dimasukkan ke dalam Batalyon Alap-alap. Batalyon lainnya juga mengalami perubahan.
6. Di pemula Juni 1946, dua Resimen TRI, yakni Resimen III/TRI dan Resimen IV/TRI juga dilebur menjadi satu hingga bernama Resimen 40/TRI/Damarwulan/Divisi VII Suropati dengan Komandan Resimennya adalah Kolonel Tahirudin Cokroatmojo. Adapun Kolonel Soerodjo Mangoenprawiro yang sebelumnya menjabat sebagai Komandan Resimen IV dipindahkan ke Staf Divisi VII.
Mengenai Batalyon Alap-alap pimpinan Sroedji, ketika perubahan di atas terjadi, ia tetap ada di bawah Resimen 40/TRI/Damarwulan/Divisi VII yang bermarkas di Kencong. Namun bidang perjuangannya adalah diperbantukan di front Surabaya dan sekitarnya. Selain tugas-tugas Nasional, juga melaksanakan tugas Internasional, yaitu ketika mereka melakukan pengawalan pemulangan terhadap tawanan perang dan interniran. Juga ketika melakukan pengawalan pengangkutan beras untuk dikirimkan ke Pemerintah India.
Catatan: Mengenai pengiriman beras ke India, bermula dari persetujuan Sjahrir dengan KL. Punjabi pada 27 Juli 1946. Ia diceritakan secara detail dalam buku Sejarah Revolusi Kemerdekaan (1945 - 1949) Daerah Jawa Timur, hal. 124.
7. Pada Januari 1946, Sroedji menjadi Resimen Komandan 39 di Lumajang dengan Mayor Imam Soekarto sebagai Kepala Staf-nya.
8. Pada 3 Juni 1947, TRI berganti menjadi TNI.
9. Pada 21 Juli 1947 terjadi Agresi Militer yang pertama.
10. Pada 17 September 1947, Batalyon Alap-alap dan Batalyon Garuda Putih dilebur menjadi satu dengan nama Batalyon Gerilya VIII atau BG VIII. Sebagai Komandan Batalyon adalah Mayor Sjafioedin. Penggabungan ini dilaksanakan di Pagar Gunung, Ambulu.
Sebelum terjadi penggabungan dua batalyon, dibentuklah organisasi baru yang bernama Comando Offensive Guerilla (COG). Ia dirancang untuk mempermudah pemberian komando kepada Resimen. Untuk daerah pertahanan Resimen 40 menjadi COG III.
11. Aksi Agresi Militer disusul dengan perintah gencatan senjata pada 5 Agustus 1947.
12. Meskipun perintah gencatan senjata telah diserukan, namun tercapainya persetujuan gencatan senjata baru terjadi pada 17 Januari 1948, bersamaan dengan persetujuan politik di atas kapal Renville.
Persetujuan itu hanya memuat pokok-pokoknya saja, sehingga antara Januari hingga Desember 1948 diadakan perundingan namun tanpa hasil. Hingga kemudian pada 11 September 1948 pihak Belanda menyatakan kepada Komisi Tiga Negara (Comitee of Good Office) bahwa tidak ada gunanya lagi berunding dengan RI.
13. Dari pokok-pokok Persetujuan Renville, berikut yang tercatat secara umum.

a. Belanda hanya mengakui Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Sumatera sebagai bagian wilayah Republik Indonesia
b. Disetujuinya sebuah garis demarkasi yang memisahkan wilayah Indonesia dan daerah pendudukan Belanda
c. TNI harus ditarik mundur dari daerah-daerah kantongnya di wilayah pendudukan di Jawa Barat dan Jawa Timur.

Dari sisi militer, pokok-pokok persetujuan itu menyebabkan pasukan yang berada di garis demarkasi daerah pendudukan Belanda harus hijrah ke kantong-kantong Republik.
14. Antara 14 Februari hingga 24 Februari 1948, Resimen 40/Damarwulan hijrah, dari basis perjuangannya di Jember (Besuki), menuju daerah pedalaman Blitar, Kediri, Tulungagung, dan sekitarnya. Ia adalah hijrah besar-besaran yang telah tercatat oleh sejarah.
15. Terjadinya Re-ra yang dimulai pada bulan April 1948 menjadikan pimpinan Resimen 40/Damarwulan Letkol Prajoedi Atmosoedirdjo dibebaskan dari jabatannya. Sebuah catatan menyebutkan bahwa ia kemudian dipindahkan ke Jogja. Kemudian diangkatlah Letkol Moch. Sroedji sebagai Komandan Resimen 40/Damarwulan.
Tak hanya perubahan di sisi Komandan Resimen 40/Damarwulan, terjadinya Re-ra juga menjadikan beberapa anggota yang turut hijrah dari Besuki tidak tersusun dalam formasi di kesatuan-kesatuan. Mereka akhirnya banyak yang kembali ke daerah Besuki untuk meneruskan perjuangannya.
16. Pada 20 September 1948 AH. Nasution memulai operasi penumpasan PKI Muso, sedangkan Kolonel Soengkono diangkat sebagai Gubernur Militer Provinsi Jawa Timur. Dari sini dibentuklah Satuan Gabungan Angkatan Perang (SGAP) yang dirancang untuk menumpas ekor pemberontakan PKI di wilayah Blitar dan sekitarnya. Komandan Satuan/Staf Gabungan itu dipimpin oleh Moch. Sroedji.
17. Tanggal 25 Oktober 1948 keluar Keputusan Menteri Pertahanan RI No. A/532/42 yang menyatakan bahwa Staf Pertahanan Jawa Timur dihapuskan dan Komando Divisi I dibentuk. Tampil sebagai Panglima Divisi I/Jawa Timur adalah Kolonel Soengkono.
Sejak hari tersebut, Moch. Sroedji menjabat sebagai Brigade III/Divisi I Damarwulan.
18. Pada 19 Desember 1948 pukul 00.00 Belanda mulai melancarkan aksi militer untuk menghancurkan Republik Indonesia. Di hari yang sama, pukul 20.00 melalui RRI Kediri, Panglima TNI Divisi I/Jawa Timur memerintahkan kepada pasukannya untuk melaksanakan Perintah Siasat No. 1/GMUDT/48 tertanggal 20 November 1948. Di antara perintah tersebut adalah sebagai berikut.
Brigade III dengan kesatuan-kesatuannya 'wingate' untuk menghadapi front Jember dengan memperhatikan jurusan Lumajang - Klakah - Jember - Banyuwangi.
19. Pada 21 Desember 1948, pasukan Brigade III/Divisi I Damarwulan di bawah komando Letkol Moch. Sroedji mulai menyusun kekuatannya untuk kembali ke daerah Besuki/Jember. Gerakan Wingate-action ini sesuai dengan strategi TNI, yaitu dengan cara menyusup ke belakang garis pertahanan musuh.

Brigade III Damarwulan melakukan rapat komando untuk pertama kalinya pada 19 Desember 1948, sebagai upaya menentukan siasat. Di hari yang sama, seperti yang telah tertulis di atas, Belanda telah melanggar garis demarkasi dengan di antaranya masuk Kepanjen. Garis demarkasi sendiri membujur mulai Sentul di pantai utara Bojonegoro - Karangggeneng - Dukun - Lamongan – ke selatan sampai Kesamben di barat Mojokerto - Mojoagung - Gunung Argowayang - Pujon - Gunung Kawi - Wagir - Kebon Agung - Gunung Semeru - dan terus ke pantai selatan.
Mulailah Brigade III Damarwulan mengadakan imbangan gerakan dengan memasuki daerah pendudukan Belanda di daerah Besuki melalui Malang Selatan. Tugas utama Brigade ini adalah kembali menduduki kantong-kantong yang ditinggalkan pada waktu hijrah untuk selanjutnya melaksanakan perang gerilya. Adapun batalyon-batalyon BRIGADE III Damarwulan adalah sebagai berikut:
a. Batalyon 25 - Mayor Sjafioedin
b. Batalyon 26 - Mayor EJ, Magenda
c. Batalyon 27 - Kapten Soedarmin
d. Batalyon Depot - Mayor Darsan Iru

Ikut pula kesatuan lain yang tidak termasuk Brigade III Damarwulan, antara lain, 2 kompi Mobil Brigade dan 1 kompi Marinir ALRI. Poin-poin penting:
Blitar dan sekitarnya adalah titik pangkal persiapan Wingate-action dari batalyon-batalyon Brigade III Damarwulan.
Titik pencar adalah desa Penanggal di Lumajang, lewat jalur Malang selatan.
Titik tujuan adalah daerah perbatasan Jember - Bondowoso. Namun dalam hal ini dicukupkan sampai dengan desa Karang Kedawung di Mumbulsari Jember, tempat terjadinya pertempuran hebat, 8 Februari 1949.

Pergerakan selanjutnya dari masing-masing batalyon:
Batalyon 25 beserta Staf Brigade lainnya melalui jalan tengah, dimana mengerucut pada pertempuran Karang Kedawung.
Batalyon 26 masuk Malang Selatan melalui Sumbermanjing, lalu kembali bergerak ke tujuan melalui Klakah Utara.
Batalyon 27 dengan sebagian Staf Brigade bergerak dari Kediri menuju Malang Selatan, kemudian menempuh perjalanan lewat pantai selatan menyusuri hutan Meru Betiri menuju Banyuwangi.
Batalyon Depot bergerak dari Gurah menuju Malang selatan, untuk kemudian bergabung dengan Batalyon 26 bergerak melalui Klakah utara.
Di dalam gerakan ini, Komando Brigade dipimpin sendiri oleh Letkol. Moch Sroedji, sedangkan Komando Territorium dipimpin oleh Letkol dr. Soebandi.
Batalyon Sjafiudin, sewaktu menduduki Kesamben di tanggal 20 Desember 1948, bertemu dengan pasukan Belanda, yang sewaktu itu bergerak dari Binangun ke Kesamben.
Pertukaran letusan peluru terjadi dengan sengitnya. Selama dua jam, yang akhirnya karena tujuan batalyon ini tiada untuk bertempur di Kesamben, maka Batalyon Sjafioedin menghindarkannya dan terus maju menuju ke timur. Dalam pertempuran ini satu truk yang mengangkut peluru dari Wlingi menuju Kesamben, tertangkap oleh musuh sedang seorang prajurit gugur, korban pada pihak musuh tidak diketahui.
Guna memelihara perhubungan, maka setelah pertempuran tersebut anggota Staf Brigade dibagi menjadi dua, sebagian di bawah pimpinan Letnan II Maridjo, mengikuti Batalyon Sjafiudin, dan sebagian lagi di bawah pimpinan Letnan I Soetjipto, mengikuti Batalyon Soedarmin.
Kurir istimewa dari Komando Brigade di bawah pimpinan Letnan IW. A. Soe'eb, mencari hubungan dengan komando Divisi I.
Perlu mendapat catatan di sini, bahwa bergeraknya Brigade Damarwulan ini, tiada ketinggalan pula ikut serta keluarga yang telah bertekad sehidup-semati dengan para pahlawannya.
Sebelum menerobos garis demarkasi, maka pada tanggal 21 Desember Komando Brigade merubah haluannya, mengikuti Kompi Winoto dari Batalyon Sjafiudin, yang telah berada di sekitar Sumbertempur Kepanjen.
Esok harinya, tanggal 22 Desember 1948 diadakan pertemuan kilat, untuk menentukan siasat lanjutan guna menerobos garis demarkasi dimana hadir juga Mayor Roesman dari Brigade IV. Ini adalah Rapat Komando Brigade III Damarwulan yang kedua, posisi di Sumbertempur - Kepanjen.
Pada tanggal 4 Januari 1949, Penanggal bisa direbut kembali. Di tempat inilah dilakukan siasat berikutnya. Setelah berhasil menerobos musuh di Penanggal, Senduro dan Pasirian, selanjutnya bergerak melalui Bodang, Bandirejo, Kali Bondoyudo mendekati perbatasan Besuki.
Pada tanggal 17 Januari 1949, kesemuanya telah menduduki perbatasan Besuki sebelum mencapai Kaliglagah di Sumber Baru, Jember. Ia adalah wilayah yang berbatasan langsung dengan Lumajang.
Dari Penanggal menuju Sumber Baru, melalui nama-nama tempat berikut ini. Bodang - Tanggung - Bandira - Salak (menyeberangi sungai Bondoyudo) - dan Sarangan. Baru kemudian sampai di Sumber Baru.
Berikutnya adalah menentukan siasat lebih lanjut yaitu menguasai kembali daerah Besuki, yang akhirnya ditentukan siasat sebagai berikut: Staf Komando Brigade dengan diikuti Batalyon 25 bergerak melalui daerah selatan Argopuro menuju ke Jember Utara, dan kemudian berputar ke Jember selatan terus ke timur.
Batalyon 26 dengan Depot Batalyon menuju ke utara, menerobos gunung Lamongan, yang setelah itu, Depot Batalyon mengambil jalan lurus menuju perbatasan Paiton - Besuki, sedang Batalyon 26 mendaki gunung Argopuro ke timur, menguasai daerah Bondowoso - Situbondo dari sebelah barat, dimana semua perjalanan ini diatur secara berangsur-angsur.
Pada tanggal 19 Januari 1949, tiba di sebuah tempat bernama Andong Biru. Keesokan harinya bergerak menuju Sumber Duren, Takata, Kertosuko. Di Plaosan dan Krucil mendapat perlawanan dari 1 seksi O.W (Onderneming Waker). Oleh karena perlawanan mereka tak berarti, maka batalyon ini melanjutkan perjalanannya melalui Bantur - Kedung Sumur - Pancur - Kalidandang - menuju ke Wringin Anom.
Pada tanggal 24 dan 25 Januari 1949 di Wringin Anom (sektor Titeng), Batalyon menghadapi satu pertempuran dengan satu kompi Belanda. Mereka menggunakan pesawat-pesawat pem-bom.Sengaja tak mengadakan perlawanan, batalyon terus menuju ke Sumber Anyar melalui Widoropayung ke Baderan daerah Besuki.
Berikut adalah pergerakan dari sektor lain:
Batalyon 26
Jalan yang ditempuh oleh Batalyon ini ialah melalui dua pegunungan. Pertama naik Gunung Lemongan - Klakah, dan keduanya naik Gunung Argopuro, dimana keadaannya masih sangat lebat dan penuh dengan binatang buas.
Sebagai pelopor batalyon ini adalah Seksi Letnan II Harjoto. Pun dalam perjalanan ini mereka harus menghadapi perlawanan-perlawanan dari pihak musuh yang jumlahnya jauh lebih besar. Yang perlu menjadi catatan di sini ialah pertempuran di sektor Paterana , dimana batalyon ini kehilangan satu seksi beserta Komandannya, yaitu Letnan II Harjoto.
Batalyon 27
Untuk memasuki daerah Besuki dengan melalui Pantai Selatan dan Gunung Terong di perbatasan Jember - Banyuwangi, Batalyon ini harus menyeberangi sungai Bondoyudo.Walaupun perjalanan ini tidak seberat seperti melalui Pegunungan Hyang - Argopuro, tetapi kesukaran-kesukaran yang dihadapi juga tak kalah beratnya daripada batalyon-batalyon lainnya, karena daerah yang dilalui ini merupakan tanah yang kering dan sangat 'tjengkar' yang membawa akibat kesukaran dan penderitaan dalam usaha bahan perawatan.
Pun di samping itu mereka harus juga menghadapi pertempuran-pertempuran besar dan kecil, antara lain di sektor Sukamade - Banyuwangi.

Depot Batalyon

Karena kedudukannya di Kediri, maka Depot Batalyon ini baru bergerak (start wingate) pada tanggal 21 Desember 1948 dari Jengkol - Pare.
Perjalanannya menyusup ke Timur menerobos daerah pegunungan Kelud - melalui Margomulyo - Gogoniti dan Bumirejo, dimana pada tempat ini bertemu dengan Komando Brigade dan Batalyon 25. Pada tanggal 28 Desember 1948 mengadakan rapat penentuan siasat untuk menerobos daerah Malang selatan.
Baru saja selesai dan sewaktu akan bergerak sudah menghadapi pertempuran dengan pihak Belanda yang membawa korban 3 orang. Dengan adanya ini, haluan terpaksa berubah, dan mengambil jalan melalui Pagak terus menuju Sumbermanjing. Di waktu bermalam di Pagak, Batalyon tersebut menghadapi serangan dari udara, tapi tak membawa korban.
Akhirnya malam itu juga melanjutkan perjalanannya dengan melalui Sumbermalang - Ngampelgading - ke Sumbermanjing.

Catatan

Rute nama-nama desa yang saya dapatkan dari Mbak Irma Devita Purnamasari adalah seperti berikut ini:

Permulaannya di Kesamben (Wlingi) - Sumbertempur (Kepanjen) - Bunurejo (Kawi) - Sumbermanjing – Tempursari – Ampelgading – Penanggal. Tanggal 13 Januari1949 meninggalkan Penanggal ke Besuki melalui jalur Badang – Tanggung - Bandiro Salak – Kali Bondoyudo – Sarangan – Kaliglagah - Tanah Merah – Argopuro – Andongbiru – Bancur –Kedungsumur – Pancur – Kalidandang – Wringinanom - Balaswidoro Pancung – Sumberanyar

Lebih detailnya mungkin seperti ini:

Dari Binangun menuju Kesamben - terus menuju ke timur - Sumbertempur (Kepanjen) - Bunurejo (Kawi) - Sumbermanjing – Tempursari – Ngampelgading - Penanggal sebagai titik pencar batalyon. Dari Penanggal menuju Sumberbaru, melalui nama-nama tempat berikut ini. Bodang - Tanggung - Bandira - Salak - dan Sarangan. Baru kemudian sampai di Kaliglagah Sumberbaru.

Pergerakan kemudian diteruskan dari Sumberbaru menuju Tanah Merah

Tanah Merah – Argopuro – Andongbiru – Sumber Duren - Takata - Kertosuko - menuju Plaosan dan Krucil - Bantur – Kedungsumur – Pancur – Kalidandang – Wringinanom - Widoropayung - bergerak ke Baderan – Sumberanyar.

Selanjutnya, mengerucut pada jalur perjalanan Komando Brigade III Damarwulan yang diikuti oleh Batalyon 25

Dari Blitar menuju Penanggal.
Pasukan menghadapi banyak pertempuran, diantaranya pertempuran di titik-titik berikut ini:
Kesamben - Seloputro - Jamboewer / Sumberrejo / Gogoniti (Wlingi) - menuju pertempuran di Pagak (Kepanjen) - lalu pertempuran hebat di Tempursari. Pertempuran sangat dahsyat di Tempursari terjadi pada 1 hingga 2 Januari 1949.
Desa Tempursari adalah koridor untuk akses keluar masuk daerah Malang - Besuki.
Pertempuran di Tempursari membuat Letkol Moch Sroedji merubah siasat Wingate-action. Komando Brigade III, Batalyon 25, 27 dan Depot putar haluan melalui Perkebunan Sumber Urip, kemudian terus bergerak menuju Penanggal.

PERJALANAN TEMPURSARI - PENANGGAL

Perjalanan ini melewati titik-titik pertempuran Pronojiwo - Jarit - Candipuro - barulah sampai ke Penanggal Lumajang pada tanggal 8 Januari 1949. Jalur selanjutnya:
Dari Penanggal menuju perbatasan Tanggul - Jatiroto (Kaliglagah). Dari sini Depot dan Batalyon 26 memisahkan diri menuju ke utara. Kraksan - Paiton - untuk menuju Situbondo – Bondowoso.
Komando Brigade III diikuti oleh Batalyon 25 terus bergerak melalui jalur tengah.
Dari Kaliglagah (Jatiroto) melalui garis dalam (jalan tengah/daratan) - menuju daerah sekitar Kecamatan Sumberjambe, Jember. Tujuan akhir tetap Maesan, untuk tempat kontrol komando.

PERJALANAN DARI KALIGLAGAH

Pada 17 Januari 1949: Dari Kaliglagah menuju Perkebunan Aengsono (Jatiroto) - lalu bergerak menuju Perkebunan Sumber Ayu dan Gondang. Pada bulan Februari 1949

Dari Perkebunan Gondang bergerak menuju Wuluhan
Titik-titik pertempuran yang dihadapi:

Di desa Darungan (Tanggul) - menuju Sumbercanting di Bangsalsari - terus bergerak ke Tugusari (masih di Bangsalsari). Awal Februari 1949 KOMANDO BRIGADE III disertai dengan Batalyon 25 tiba di dusun Pomo di Lojejer. Kini masuk kecamatan Wuluhan, Jember.
Berikutnya.

Brigade III disertai Batalyon 25 meninggalkan dusun Pomo dan bergerak menuju desa Jenggawah - Jatisari - Gayasan di kecamatan Ajung. Dari Gayasan ini menuju Mumbulsari - terus hingga sampai di desa Karang Kedawung.



SPOILER di atas semoga cukup memberi gambaran ringkas seputar karier militer Sroedji dan jalur Wingate-action hingga Wehrkreise-action, dua strategi yang digunakan pasukan republik ketika perang melawan pasukan Belanda era 1947 - 1949. 

Tentu saja kisah perjalanan hidup Moch. Sroedji teramat panjang untuk diceritakan. Tidak sesederhana catatan di atas, juga catatan yang tersembunyi di spoiler, berjudul, "Karier Militer Sroedji dan Jalur Wingate." Berikut akan saya ceritakan pelan-pelan di blog tamasja ini, dimulai sejak Sroedji remaja hijrah dari Kediri ke Malang untuk sekolah di Ambactsleergang.

Menurut Hengky Herutomo, Ayahnya adalah teman sekolah Moch. Sroedji. Ayah Hengky Herutomo bernama Moektohar, tamatan Burger Ambachtsschool (B.A.S) vande stadsgemeente Soerabaja pada 21 Juni 1934. Jadi ketika melakukan praktik, Sroedji yang bersekolah di Ambactsleergang akan menuju ke Burger Ambachtsschool Surabaya. Semacam ada kerja sama antara Ambactsleergang Malang dengan Burger Ambachtsschool di Surabaya. Dua-duanya sama-sama sekolah berbasis teknik. Antara Moch. Sroedji dengan Moektohar, dua-duanya tercatat sebagai anggota Hizbul Wathan, sebuah gerakan kepanduan Muhammadiyah. Mereka juga sama-sama suka olah raga korfball.  

Ditambahkan oleh Hengky Herutomo, salah satu putra Moektohar, selain sama-sama tergabung dalam satu klub korfball, baik Moektohar maupun Sroedji di usia antara 15 hingga 19 tahun telah aktif di gerakan kepanduan Muhammadiyah Hizbul Wathan, Malang – Surabaya. 

Demi kebutuhan itu, saya dengan ditemani Zuhana AZ dan Rendra Sasongko Adi pernah datang ke kediaman Bapak Hengky Herutomo di Kabupaten Karanganyar. Poin-poin di atas adalah hasil wawancara saya dengan beliau pada 23 November 2017. 

Telah saya ceritakan sebelumnya bahwa di periode 1934 - 1938 Sroedji pernah belajar mendalami dunia dagang. Sayangnya langkah itu tidak bisa dibilang berhasil. Itu hasil analisis saya berdasarkan penuturan kedua putri Moch. Sroedji ketika kami melakukan wawancara, baik di Jakarta maupun di Jember. 

Setelah merasa gagal berdagang, Sroedji kembali ke Jawa Timur dan kembali aktif di Hizbul Wathan Malang. Dari sana ia memperoleh kesempatan untuk mengikuti kursus pemberantas malaria. 

Pendidikan untuk pemberantas malaria tertulis dalam buku kecil pengantar peresmian Monumen Nasional Pahlawan Letkol inf. Moch. Sroedji, ditandatangani oleh Panglima Daerah Militer VIII/Brawijaya, Mayor Jenderal TNI Witarmin, pada 14 Agustus 1975. 

Narasi selanjutnya yang akan saya tulis di blog tamasja ini adalah pengembangan dari catatan-catatan sebelumnya yang sudah saya suguhkan di atas, juga yang di kolom spoiler. Akan saya mulai ulang dari masa ketika Moch. Sroedji tiba di Jember pada 1938, di usianya yang masih sangat muda. ia akan terus saya kembangkan menjadi narasi yang lebih lengkap. Anda bisa melanjutkan membaca bila membutuhkan informasi tentang Sroedji dan hal-hal di sekitar hidupnya. Semisal kebutuhannya hanya untuk selayang pandang, saya kira catatan di atas sudah cukup mewakilinya. 

Sebagai catatan: 

Untuk ukuran blog personal, narasi kali ini menjadi semacam liputan khusus yang sangat panjang. Mohon maaf bila dirasa kurang nyaman. 



OVERSTE SROEDJI 

Oleh: RZ Hakim 


Setibanya di Jember, di usianya yang cukup muda, 23 tahun, Sroedji segera adaptasi, melakukan kerja-kerja kesehatan sebagai mantri malaria, dan merapat pada organisasi kemasyarakatan Muhammadiyah Cabang Jember. Beruntung bagi Sroedji, lokasi Muhammadiyah Jember tak jauh dari tempat ia bekerja di Djawatan Kesehatan Rakjat—kini Rumah Sakit Paru Jember—di lingkungan Jember Lor. 

Sebagai Mantri Malaria, Moch. Sroedji kerap berada di lapangan untuk melakukan pemetaan wilayah. Pemetaan ini berfungsi untuk mengetahui posisi mana saja tempat-tempat yang berpotensi menjadi sarang nyamuk, tempat mana pula yang dihuni oleh nyamuk-nyamuk dewasa. Bila titik-titik tersebut sudah diketahui, maka tugas Moch. Sroedji selanjutnya menjadi lebih mudah. Bila sebuah lokasi disinyalir menjadi sarang jentik nyamuk, maka di sana akan dilakukan pembersihan. Menguras kolam, bak mandi, membersihkan tempat-tempat yang jadi genangan air, atau menyarankan kepada warga sekitar untuk memasukkan ikan tawes dan atau ikan kepala timah di sebuah kolam serta di persawahan yang berair. Bisa juga dengan menyarankan masyarakat untuk menanam tumbuh-tumbuhan yang rindang di tepian anak sungai agar bermanfaat untuk menutupi air dari sinar matahari.

Bila sebuah tempat diketahui banyak dihuni oleh nyamuk dewasa, maka dilakukan pengasapan. Obat kinine/kina dibagikan pula di sana. Orang-orang disarankan memasang kelambu atau kain kasa. Biasanya kain kasa ini dipasang di ranjang, agar selama terlelap aman dari gigitan nyamuk.

Itulah fungsi pemetaan wilayah bagi seorang mantri malaria. 


Limabelas bulan setelah pernikahannya, pasutri Sroedji – Roekmini dikaruniai seorang anak laki-laki. Mereka memberinya nama Sucahjo. Sucahjo lahir di Jember pada 5 Januari 1941. 

Di tahun yang sama, 1941, Sroedji sudah tercatat aktif di kegiatan-kegiatan kepemudaan Muhammadiyah, di antaranya di IM, Indonesia Moeda. Tidak mudah untuk masuk menjadi anggota Indonesia Moeda, sebab mereka ketat sekali dalam melakukan regenerasi. Bila tak sesuai dengan semangat Indonesia Moeda, calon anggota akan ditolak. Bila sudah menjadi anggota tapi perilaku mereka tidak sesuai dengan perilaku organisasi, maka segera ada rekomendasi pengusiran. Meskipun demikian, pada 1941, keanggotaan Indonesia Moeda bertambah dari 59 menjadi 116 anggota, 15 di antaranya perempuan, dan 19 anggota luar biasa. 

Di Indonesia Moeda, sebuah organisasi kepemudaan yang diresmikan sejak 31 Desember 1930 tersebut—hasil penggabungan dari organisasi Jong Java, Pemoeda Indonesia, dan Jong Sumatra—posisi Moch. Sroedji adalah sebagai Pimpinan Olah Raga, berdua bersama Sri Moeljatno. 

Pada 1941, Moch. Sroedji tercatat sebagai bendahara Organisasi Muhammadiyah Cabang Jember. Terpilih sebagai ketua umum di pertemuan tahunan Muhammadiyah Jember saat itu adalah Soerodjo, dengan wakilnya adalah Sanjoto. 

Peresmian Moch. Sroedji sebagai bendahara Muhammadiyah Cabang Jember tepatnya terjadi pada 16 Agustus 1941. 


Di tahun yang sama, 1941, di usianya yang ke-26 tahun, ia turut berperan aktif dalam mendirikan Vereeniging Regentschaps Personeel, semacam asosiasi staf di Pemerintah Kabupaten Jember. 

Rapat pendirian VRP tersebut dihadiri oleh beberapa pejabat, di antaranya perwakilan dari penyelenggara daerah, kementerian, hingga departemen pendidikan. Untuk kebutuhan VRP, dibentuklah semacam dewan sementara, dengan anggota yang terdiri atas R. Soedibio, Kepala Dinas Pemkab M. Soewito, Pengawas M. Joewono, Sub Pengawas R.Soetojo, perwakilan dari pengawas pendapatan daerah kabupaten, juga perwakilan masyarakat yaitu R. Soetarman dan R. Soeharto serta Bapak Soegeng, M. Bambang Soewono, K. Soekarto dan Moch. Sroedji.

Dalam perjumpaan itu, lahirlah Dewan Komisaris, dengan Moch. Sroedji sebagai Komisaris untuk wilayah kota. 

Jadi, untuk mencapai tujuan VRP, kabupaten Jember dimekarkan menjadi kota Jember di bawah yurisdiksi komisaris Moch. Sroedji, sedangkan komisaris untuk Jember Utara terdiri atas dua orang yaitu R. Soetarman dan M, Joewono. Komisaris untuk Jember Selatan dipercayakan pada R. M. Soegeng dan R. Soeharto.  

Dalam rapat pendirian VRP itu juga ditetapkan penasehat, dan memutuskan juga untuk menghubungi H.B. di Surabaya untuk urusan dalam negeri. 

Vereeniging Regentschaps Personeel (VRP) memiliki tujuan yang bagus, selain menumbuhkan solidaritas, mencari cara untuk urusan dana, ia juga mendorong penyelesaian pekerjaan-pekerjaan dengan cara-cara yang benar. 


Sroedji dan Sepak Bola. 


Telah disinggung di atas bahwa di organisasi kepemudaan Indonesia Moeda, Sroedji punya tanggung jawab sebagai Pimpinan Olah Raga. Bagi Sroedji pribadi, dari sekian bidang olah raga yang dia sukai, satu di antaranya adalah sepak bola.

Rasa cinta Moch. Sroedji terhadap sepakbola ia tunjukkan dengan bersedia duduk sebagai dewan pimpinan asosiasi bersama Soeharmadie dan I. Soekarto (Imam Soekarto). Sejak 1941, mereka menggagas keberadaan Persibeda, Persatoean sepakraga Indonesia Besoeki dan daerahnja. 

Berdasarkan pendapat yang disampaikan dalam pertemuan di dewan asosiasi, pembentukan asosiasi sepak bola tersebut dinilai sangat penting bagi sepak bola Indonesia, khususnya sepak bola perkotaan.

Persibeda punya tujuan mulia, yaitu ingin menyatukan seluruh klub sepak bola di Karesidenan Besoeki. Maka dari itu, dipilihlah nama Persibeda. Ia diniatkan agar dapat bergabung dengan PSSI, sebuah persatuan sepak bola di Jawa saat itu. 

Kelak sejarah mencatat dasar-dasar pemikiran yang telah ditanamkan tentang betapa pentingnya memikirkan dunia sepak bola di Jember dan sekitarnya, ia seperti terbang ditiup angin seiring datangnya Jepang. 


Korfball.


Ada olah raga lain yang disukai Sroedji selain sepak bola, dan Sroedji aktif di sana. Ia adalah korfball, sebuah permainan olah raga yang populer di zaman Hindia Belanda, terutama di lingkungan pelajar dan organisasi kepemudaan seperti Indonesia Moeda. Tentu diperkenalkan oleh Belanda. 

Korfball adalah sejenis olahraga bola mirip basket. Bedanya, bila di korfball jumlah pemain dalam satu tim terdiri dari delapan orang pemain, dimana setiap tim harus terdiri dari empat laki-laki dan empat perempuan. Mereka harus bekerja sama untuk memasukkan bola ke dalam sebuah korf/keranjang. Korf itu dipasang di sebuah tiang setinggi tiga setengah meter.

Menurut Hengky Herutomo, lelaki kelahiran Situbondo, 1 Oktober 1948 yang juga salah satu putra Moektohar, Sroedji dan Moektohar selain aktif di Hizbul Wathan juga pernah satu klub di tim korfball. Ini dia buktikan dengan selembar foto tahun 1933 yang sayangnya keadaan foto tersebut telah rusak di bagian potret diri Sroedji.  



Tampak dalam foto di sekitar tahun 1933 di Surabaya, Moektohar duduk paling kiri agak menjorok ke belakang, dan Moch. Sroedji ada di belakangnya dengan posisi berdiri—foto dalam keadaan rusak berjamur

Tim Korfball ini adalah gabungan antara siswa Burger Ambachtsschool Soerabaja dan siswa Ambacht Leergang Malang. 

Pada 1941, susunan pengurus departemen korfball di Jember adalah sebagai berikut: Sri Moeljatno, v/z; Soemarmo, sekretariat; Kapten Moch. Sroedji dan Moektohar, serta ketua seksi putri adalah Ibu Soeljiati. 

Dalam permainan korfball, Sroedji juga dikenal sebagai wasit pertandingan. Sebagai contoh, suatu hari mendekati akhir tahun 1941, di bulan September, terjadi pertandingan korfball antara IM dan MSV di lapangan Nieuweweg. Waktu itu, penasehat persatuan olah raga MULO juga hadir, mungkin karena MSV sedang tampil bertanding. Pertandingan tersebut dimenangkan oleh MSV. Adapun wasit dalam pertandingan tersebut adalah Moch. Sroedji. 

1942

Memasuki tahun keempat tinggal di Jember, Sroedji masih sibuk dengan tugas-tugas pemetaan, arsip, dan penyuluhan. Ia adalah bagian dari pekerjaannya sebagai mantri malaria. Pekerjaan menuntutnya untuk membagi ruang, di dalam ruangan dan terjun ke lapangan. 

Di luar urusan pekerjaan, Sroedji adalah pengurus inti Muhammadiyah Cabang Jember. Belum lagi dia aktif sekali di organisasi Indonesia Moeda cabang Jember. 

Kelak jaringan Muhammadiyah yang ia ikuti membawanya pada takdir sejarah yang berbeda. Orang-orang yang berjuang bersamanya dalam mempertahankan kemerdekaan, sebagian adalah orang yang telah dia kenal di lingkup Muhammadiyah. Di antara mereka adalah Kjai H. Tahiroedin, Soerodjo, Soewito, R.S. Budhijarto, A. Koesnadi, R. Soetodjo, hingga Imam Soekarto.

Untuk mengerti sepak terjang Moch. Sroedji kelak selaku Komandan Brigade III/Divisi I Damarwulan, kita harus memahami posisi kedua nama di atas; Soerodjo dan Kjai H. Tahiroedin. 

Soerodjo adalah Ketua Muhammadiyah Cabang Jember, dengan Moch. Sroedji sebagai bendaharanya. Di masa pendudukan Jepang, Soerodjo mengikuti pendidikan PETA dan lulus dengan pangkat Daidancho.

Demikian pula dengan Kjai H. Tahiroedin. Ia adalah Ketua Dewan Konsul Muhammadiyah Jember di masa kepemimpinan Soerodjo. Kelak ia juga mengikuti pendidikan PETA dan lulus dengan pangkat Daidancho. Tugas seorang Daidancho adalah mengadakan dan memperhatikan latihan-latihan kemiliteran.

Kedekatan Sroedji dengan Imam Soekarto juga sudah dimulai sejak ia ada di Jember, sebab keduanya sama-sama aktif di Muhammadiyah dan di Indonesia Moeda. Baik Imam Soekarto maupun Sroedji, dua-duanya getol merintis keberadaan kesebelasan Persibeda. 

Sepak terjang Imam Soekarto juga sangat nampak di tahun 1949 paska gugurnya Letkol Moch. Sroedji dan paska terjadinya insiden Letkol Abdul Rivai.  

Beruntung bagi Sroedji, meskipun dikenal aktif di Organisasi Muhammadiyah Cabang Jember yang berpusat di Pagah, tapi ia mudah bergaul dengan tokoh-tokoh Nahdliyin. Tak bisa dipungkiri, ini berkaitan erat dengan keluarga besar istrinya di Bangkalan yang masih berkerabat dekat dengan Syaikhona Kholil Bangkalan. 

Pekerjaannya sebagai seorang mantri malaria juga menuntut Sroedji untuk sering-sering memberikan informasi pada masyarakat, melakukan dialog, banyak-banyak mendengarkan, dan itu semua mengharuskan Sroedji untuk turun ke lapangan. Dari sini, dapat disimpulkan bahwa di antara yang sering dilakukan oleh Sroedji adalah silaturahmi ke tokoh-tokoh agama di pesantren yang bertebaran di Jember. Wilayah Karesidenan Besuki di masa itu memang dikenal sebagai kota santri.


Secara sosial kemasyarakatan, selama tinggal di Jember Sroedji tak punya kendala bahasa. Ia fasih berbahasa Madura, bisa pula berbahasa Jawa dengan baik. Kalau pun tak bisa keduanya, di detik-detik kedatangan Jepang semangat nasionalisme menguat. Bahasa Indonesia telah digunakan dengan penuh semangat. Untuk bahasa Belanda, dapat dipastikan Sroedji mempelajarinya ketika menimba ilmu di Ambactsleergang Malang, dan ketika melakukan praktik-praktik teknik di Burger Ambachtsschool (B.A.S) vande stadsgemeente Soerabaja, di mana di B.A.S dia jumpa dengan karibnya yang bernama Moektohar. Persahabatannya dengan Moektohar berlanjut sampai Jember, manakala mereka berdua jumpa lagi di Jember dan sama-sama aktif di kegiatan-kegiatan Muhammadiyah. 

Segala modal sosial itu memudahkan Moch. Sroedji untuk memiliki jaringan pertemanan yang sehat. 


Pengaruh pemikiran Soerodjo dan Kjai H. Tahiroedin pada Moch. Sroedji.


Soerodjo lahir di Malang, 5 September 1909. Dalam sebuah catatannya yang berjudul ‘Sekelumit Perjuangan Demi Tanah Air Tercinta,’ ia menulis kalimat pembuka sebagai berikut, “Jaman penjajahan Belanda saya tidak tergolong orang yang dapat bekerja sama dengan pihak penjajah, saya banyak berkecimpung di organisasi Muhammadiyah, sebagai Ketua Muhammadiyah Cabang Jember.” Disebutkan juga dalam catatan di bawahnya bahwa Soerodjo bersama-sama para tokoh Pondok Pesantren di Jember menyambut gembira peranan perjuangan pergerakan Kemerdekaan Indonesia.

Ada dua hal yang bisa kita renungkan dari catatan Soerodjo. 

1. Di masa penjajahan Belanda, anggota Muhammadiyah seperti Soerodjo tidak tergolong orang yang dapat bekerja sama dengan pihak penjajah
2. Ada sinergi pada penggalan kalimat, ‘bersama-sama para tokoh Pondok Pesantren di Jember.

Tampak dalam dua hal tersebut, telah ada pemikiran bahwa penjajahan adalah buruk, dan kemerdekaan adalah hak. Ia patut diperjuangkan bersama-sama tanpa memandang latar belakang organisasi. 

Di masa Jepang, di permulaan Agustus 1945, Soerodjo memiliki pendirian yang sama. Ia tergolong orang yang tidak dapat bekerja sama dengan pihak penjajah. Dalam catatannya Soerodjo menulis, ia termasuk Perwira PETA yang dianggap nakal oleh pihak Jepang, dan dikhawatirkan mengikuti jejak Supriadi. Oleh Jepang, perwira-perwira yang dianggap nakal ini dikucilkan atau ditawan secara halus di Kyo Iku Tai Bogor. Di antara para Daidancho itu ialah:

1. Daidancho Soedirman dari Purwokerto/Banyumas–kemudian Panglima Besar Jenderal Soedirman
2. Daidancho Soedirman dari Bojonegoro–pada 1983 tercatat sebagai Letjen Purnawirawan
3. Daidancho Dr. Goenawan dari Cirebon
4. Daidancho Soerodjo dari Jember
5. Daidancho Istiklah dari Banyuwangi.

Maksud Jepang mengucilkan mereka tentu agar mereka tidak dapat memimpin pemberontakan, sebab para perwira ini dikenal berani pada Sidokan-nya. Itulah mengapa mereka harus dipisahkan dari kesatuan.

Pada akhir tahun 1946 Soerodjo dipindahkan ke Divisi VII di Malang ditempatkan pada bagian kemasyarakatan. 

Ada yang menarik dari pendirian Soerodjo di pemula tahun 1947. Waktu itu ia menolak surat penetapan dari Menteri Pertahanan Amir Sjarifoeddin sebagai Panglima TNI Masyarakat/Biro Perjuangan dengan pangkat Jenderal Mayor, sebab hal itu ia anggap sebagai tandingan terhadap Panglima Divisi VII, Jenderal Mayor Imam Soedjai.

Dari sini dapat disimpulkan jika Soerodjo memiliki peran penting sebagai tokoh di balik koordinasi di wilayah Karesidenan Besuki, utamanya di Jember. Ia menolak kenaikan pangkat hanya karena itu akan berdampak pada perpecahan. Namun ia dan Kjai H. Tahiroedin bersedia diturunkan pangkatnya dari Kolonel menjadi Letnan Kolonel, atas kebijakan waktu itu. 

Soerodjo memiliki jaringan yang baik dengan para tokoh Pondok Pesantren di Jember, baik dari Muhammadiyah maupun Nahdlatul Ulama. Sedangkan Kjai H. Tahiroedin dapat merawat jalinan persahabatan dengan tokoh-tokoh Pondok Pesantren di luar Jember, terutama di Bondowoso dan Situbondo. Kedua tokoh ini tentu menjalin hubungan pula dengan tokoh-tokoh Hizbullah di Jember seperti Haji Sjeh dan Sulton Fadjar Njoto. Mereka kemudian berbagi peran. Ada yang menempati posisi sebagai motor penggerak dan pemikir, menjalin hubungan dengan pengusaha dermawan seperti Syamsul Arifin  di Kota Jember, ada yang urus bidang-bidang perundingan, ada pula yang membidangi masalah mengumpulkan massa. Untuk yang saya sebutkan terakhir,tentu  itu adalah wilayah istimewa milik para tokoh Nahdlatul Ulama di Karesidenan Besuki yang memiliki pengaruh besar. 

Sedari semula, Moch. Sroedji seolah dipersiapkan untuk menempa jiwa kepemimpinan. Dia jauh lebih muda dari Kjai H. Tahiroedin dan Soerodjo, terbukti mengerti cara menempatkan diri, ada di lingkungan terpelajar dan berkegiatan di Hizbul Wathan sedari masa sekolah, aktif di kegiatan Muhammadiyah di Jember, dan poin penting lainnya adalah kenyataan bahwa keluarga istrinya adalah keluarga Nahdlatul Ulama yang berkerabat dekat dengan Syaikhona Kholil Bangkalan. Mas Roro Roekmini sendiri lahir di Bangkalan. Makam Ayahnya ada di dekat makam Syaikhona Kholil Bangkalan. Kiranya itu semua adalah modal sosial yang besar sekali bagi Moch. Sroedji manakala ia harus memimpin Pasukan Brigade III/Damarwulan yang terdiri atas aneka karakter dan latar belakang. 

Soerodjo, Kjai H. Tahiroedin, dan tokoh-tokoh masyarakat lainnya yang ada di sekitar hidup Moch. Sroedji, mereka adalah tali pengikat yang cukup kuat dan tokoh yan turut andil mempertimbangkan arah, hingga menjadikan pergerakan Pasukan Damarwulan terorganisir dengan rapi dan memiliki satu alasan yang sama yaitu mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. 

Njoto adalah rekan Sroedji yang paling muda. Dia bersekolah di MULO Jember, yang lokasi sekolahnya pernah ada di seberang Djawatan Kesehatan Rakjat, tempat Sroedji bekerja. Di tahun 1941, Njoto aktif dalam kegiatan-kegiatan Indonesia Moeda, di usianya yang ke-14 tahun. Kelak ia ada di jajaran kementerian di masa pemerintahan Sukarno. Pertemanan antara Sroedji dan Njoto hanya sampai 1942. Ketika Jepang datang, Njoto pindah sekolah dan tak lagi ada di Jember. 

Di tahun 1965, di usianya yang ke-38 tahun, kepada media berbahasa Belanda Njoto berkata, “Saya berprofesi sebagai seorang revolusioner, sejak saya berusia 14 tahun.” 

Dapat disimpulkan, ruang hidup Moch. Sroedji selama tinggal di Jember terbilang sehat. Mereka merespon keadaan geopolitik saat itu dengan perbincangan-perbincangan bermutu, melakukan sesuatu untuk ruang hidup yang lebih baik di segala bidang, berjuang memberantas buta aksara secara terorganisir melalui Indonesia Moeda, memperhatikan dunia kesehatan hingga olah raga. Hingga detik-detik menjelang kedatangan Jepang, Sroedji masih terlibat aktif di dunia pemikiran dan aktif berorganisasi. Di waktu senggang, dia memanfaatkannya dengan bersosialisasi dan berolahraga. Tampak dalam foto di pembuka narasi panjang ini, Sroedji sedang menikmati waktu di Kreongan – Jember untuk bermain badminton, di tahun 1942.


Ketika Jepang datang, alur sejarah negeri ini menjadi berbeda. 


Sama seperti di kota-kota lain di Indonesia, Jember pun turut berubah. Ada perombakan struktur pemerintahan. Noto Hadinegoro, ia dicopot dari jabatan Bupati setelah 13 tahun memimpin Jember, digantikan oleh Boediardjo yang menduduki jabatan antara tersebut sampai 1943, sebelum kemudian digantikan oleh R. Soedarman. 

Sekolah-sekolah ditutup untuk kemudian dibuka kembali oleh pihak Jepang, dengan kurikulum baru, sesuai kepentingan Jepang.

Di bidang kesehatan sama saja. Dokter-dokter Eropa yang ada di Jember tidak nampak lagi. Akibatnya Jember mengalami penyusutan dokter spesialis secara drastis. Semisal masih terlihat orang Eropa di Jember, berarti keahliannya masih dibutuhkan oleh Jepang.

Gedung-gedung di Jember mengalami perubahan nama, termasuk gedung-gedung sekolah dan rumah sakit.

"Ketika Jepang masuk, tiba-tiba semua menjadi berbeda. Pantas saja jika orang-orang yang hidup di masa kependudukan Belanda bilang, zaman normal telah berganti. Lihat foto di atas, ada stempel warna merah. Itu stempelnya Jepang. Semua foto wajib diberi tanda itu. Bahkan foto-foto lama, yang dijepret sebelum era Jepang masuk di sini, juga mendapat perlakuan yang sama." 

Rupanya selain melakukan kontrol pada pers, pihak Jepang juga mendata siapa saja warga pemilik radio, hingga urusan album foto. Mereka menjalankan politik isolasi, berharap rakyat di tanah jajahannya hanya dapat mengakses informasi-informasi dari pihak Jepang saja.

Sejak Jepang datang menggantikan Belanda, Sroedji sekeluarga tak lagi menempati fasilitas rumah di utara stasiun Jember yang berarsitektur Eropa. Mereka tinggal di sebuah hunian di wilayah Gebang, Jember, di selatan perlintasan rel kereta api. 

Jepang merubah semuanya. Sosial, pendidikan, politik, ekonomi, budaya, militer, pers, hiburan, kuliner, sarana wisata dan penginapan, transportasi, kesehatan, semuanya. 

Zaman pendudukan Jepang, ketika ada kesempatan belajar di bidang ketentaraan, Muhammadiyah Jember mengirim anggota-anggotanya untuk mengikuti pendidikan paramiliter, terutama PETA. Ia dipandang seirama dengan Hizbul Wathan atau Kepanduan Tanah Air.

Dari Muhammadiyah Jember, muncullah nama-nama tokoh perjuangan di era 1945-1949 seperti Kjai H. Tahiroedin, Soerodjo, Soewito, R.S. Budhijarto, A. Koesnadi, R. Soetodjo, Imam Soekarto, hingga Letkol. Moch. Sroedji.

1943 

Soepomo, anak kedua dari pasangan suami istri Moch. Sroedji dan Roekmini lahir di Gebang, Jember, pada 5 Oktober 1943. Di bulan yang sama, Oktober, Sroedji mengikuti pendidikan perwira Pembela Tanah Air (PETA) angkatan pertama. Bertempat di Bogor, Sroedji mengikuti pendidikan tersebut bersama 606 calon perwira lainnya dari Jawa, Bali dan Madura, dari Oktober hingga 8 Desember 1943. 

8 Desember 1943: Sroedji bersama perwira lain dilantik oleh Saiko Sikikan sebagai opsir PETA di Lapangan Ikada—kini di sebelah selatan lapangan Monas Jakarta—pada 8 Desember 1943. 

Mata kuliah yang didapat selama mengikuti Pendidikan dan Latihan PETA antara lain; semangat, situasi dunia, sejarah perang, pelajaran khusus yang antara lain spionase, pelajaran praktis yang antara lain; senam, gulat, sumo dan berenang. Ada juga pengetahuan teknis, antara lain menembak, widya wisata ke perkebunan dan pabrik-pabrik, dan kegiatan ekstra kulikuler seperti menyanyikan lagu-lagu perang. Ia menyebabkan tumbuhnya rasa percaya diri, serta mengenal pola-pola instruktif di tubuh pasukan PETA itu sendiri. 


Setelah upacara pelantikan selesai,maka para perwira tantara PETA diperbolehkan pulang ke daerah asalnya masing-masing. Kemudian di tiap-tiap Syu (Karesidenan) dibentuk batalyon-batalyon tantara PETA. Pemuda-pemuda setempat yang berbadan sehat dan memenuhi persyaratan direkrut menjadi prajurit-prajurit sukarela atau giyuhei. Banyak di antara mereka berasal dari pasukan keibodan dan seinendan. 

Di akhir bulan Desember 1943, ketika para perwira PETA itu baru tiba di Jember, mereka semua diundang di kediaman Tuan Kalisat Sontyo, di Kalisat, Jember. Perihal undangan adalah perjamuan. Tasyakuran guna menghormati para prajurit PETA  angkatan pertama yang akan berangkat menuju ke tangsi. Perjamuan tersebut dikunjungi kurang lebih 150 orang. Di sana juga diadakan pidato dan nasehat-nasehat oleh Tuan Kalisat Sontyo. Keesokan harinya para prajurit berkumpul di alun-alun Kalisat untuk bersama-sama berangkat menuju ke tangsi di salah satu tempat. 

1944 

Di dalam Tentara PETA ada lima macam pangkat atau lebih tepat dinamakan jabatan, yakni: 
1. Daidanchoo atau komandan batalyon
2. Chuudanchoo atau komandan kompi
3. Shoodanchoo atau komandan peleton
4. Bundanchoo atau komandan regu
5. Giyuhei atau prajurit sukarela.
Daidanchoo sengaja dipilih dari kalangan tokoh-tokoh masyarakat seperti ulama, kaum pergerakan kebangsaan, pegawai pamongpraja, penegak hukum dan sebagainya. Pada tahun 1944 usia para Daidanchoo rata-rata 38 tahun. Para Shoodanchoo dipilih dari kalangan mereka yang telah bekerja,tetapi belum mencapai pangkat dan belum menduduki jabatan tinggi, misalnya klerk, juru tulis, guru, dan sebagainya. Usia para Shuudanchoo di tahun 1944 rata-rata adalah 31 tahun. 


Januari 1944

Tugas pertama Shoodanchoo Moch. Sroedji adalah menjadi Komandan Kompi 4 di Kencong, di bawah Daidanchoo Soewito. Tugas itu ia mulai sejak Januari 1944. Karena dulu sama-sama terlibat aktif di Muhammadiyah Jember, Sroedji tak memiliki kendala komunikasi dengan Daidanchoo Soewito. Bedanya, kini mereka ada di sistem komando militer.

KENCONG adalah daerah penting di Jember yang secara bentang alam dan ekonomi terbilang strategis. Selain dikenal sebagai daerah perkebunan, pertanian, dan memiliki pabrik gula, ia juga berbatasan dengan kabupaten Lumajang di bagian Barat. Bagian selatan merupakan pantai, yaitu Pantai Paseban, sebuah perairan laut yang terbuka. 

Adapun peran penting yang dilakukan oleh Moch. Sroedji saat itu adalah turut aktif membentuk Daidan/Batalyon di Karesidenan Besuki, khususnya di Kencong. 
Karesidenan Besuki saat itu terdapat lima Daidan.

1. Daidan Bondowoso 
2. Daidan Jember wilayah Kencong
3. Daidan Banyuwangi wilayah Benculuk
4. Daidan Jember wilayah Kota
5. Daidan Banyuwangi wilayah Kota.

Menjadi seorang perwira kemiliteran membuat Sroedji tidak lagi melakukan kerja-kerja sebelumnya sebagai Mantri Malaria. Bahkan meskipun pihak Jepang secara terang-terangan menyatakan perang terhadap malaria. Sroedji sempat mengikuti ‘perang’ itu di rentang masa yang pendek sebelum berangkat ke Bogor. Kini sebagai militer, Sroedji harus patuh dan taat instruksi. Berat memang, mengingat dia baru saja memiliki bayi, anak keduanya. Tugas telah menanti. Membentuk daidan dan merekrut rakyat Jember untuk menjadi Tentara Pembela Tanah Air. 

Chuudanchoo Sroedji membawahi tiga peleton.Masing-masing peleton terdiri dari 30 – 50 personil. 

Berikut gambaran singkat susunan ketentaraan dalam PETA:

Tiap batalyon beranggotakan sekira 535 personil yang dipimpin oleh seorang komandan batalyon. Dalam istilah Jepang, daidanchoo. Pangkat daidanchoo setingkat mayor. Setiap batalyon terdiri atas empat kompi yang dipimpin oleh seorang komandan kompi atau chuudanchoo, berpangkat setingkat kapten. Sroedji ada di posisi ini. Tiap kompi terdiri atas tiga peleton yang dipimpin oleh seorang komandan peleton atau shoodanchoo, dengan pangkat setingkat letnan. Setiap peleton terdiri atas empat regu yang dipimpin oleh seorang komandan regu atau budanchoo, dengan pangkat setingkat sersan. Tiap regu beranggotakan sebelas prajurit. Dalam PETA, prajurit bisa pula disebut giyuhei.

7 Juni 1944

Sroedji dan para perwira lulusan PETA di Jember pernah mengikuti rapat akbar di alun-alun kota Jember pada Rabu, 7 Juni 1944, ketika Soekarno datang ke kota ini. Soekarno mengadakan perjumpaan massal dengan rakyat. Rapat umum. 

Agustus – September 1944

Antara Agustus hingga pertengahan September 1944, Jepang mengeluarkan maklumat kushukeiho alias tanda bahaya udara, agar diadakan penggelapan sedari pukul duabelas malam, demi menyempurnakan penjagaan di Besuki Shuu, Bondowoso Ken, Jember Ken, serta Panarukan Ken.  Besuki Shuu bahkan menyerukan tiga peraturan berikut:
1. Buat Bondowoso Ken, Jember Ken, dan Panarukan Ken, makanan buat sahur supaya dimasak sebelum jam duabelas malam. Dan buat Banyuwangi Ken sebelum jam sebelas malam, yaitu guna menjaga menyinarnya api
2. Waktu sahur boleh memakai lampu yang tertutup, jangan sampai bersinar keluar dan waktunya kira-kira jam 3.30 sampai jam 5.30

3. Pada waktu sahur bilamana ada kushukeiho, lampu harus segera dipadamkan. 

Maklumat tanda bahaya udara tersebut adalah tanda bahwa posisi Jepang dalam Perang Dunia II sedang tidak baik-baik saja. Mereka terus mengalami kemunduran secara geopolitik. 1944 adalah tahun dimana kedudukan Jepang dalam Perang Pasifik semakin terdesak, garis pertahanannya telah dapat ditembus oleh pasukan sekutu. 

Sroedji sendiri mengalami kisah sedih di antara waktu itu. Ayah mertuanya, M. Tajib Nitisasmita wafat pada 15 Agustus 1944, ketika Roekmini sedang hamil bakal anak ketiganya. Almarhum M. Tajib Nitisasmita dimakamkan tak jauh dari makam Syaikhona Kholil Bangkalan. 

7 September 1944

Perdana Menteri Jepang yang baru, Kuniaki Koiso, pada 7 September 1944 berkata di depan sidang Parlemen Jepang, "Indonesia akan diberi kemerdekaan di kemudian hari." Pernyataan itu kemudian dikenal dengan sebutan Janji Koiso. Berbeda dengan Perdana Menteri sebelumnya, Jenderal Hideki Tojo, Koiso memberi izin kepada rakyat Indonesia untuk mengibarkan bendera merah putih di kantor-kantor pemerintah, tetapi harus berdampingan dengan bendera Jepang, hinomaru. Pengibaran merah putih juga terjadi di Jember.


MEMASUKI TAHUN 1945 


Peristiwa yang paling mudah diingat di pemula 1945 adalah Pemberontakan PETA di Blitar pada 14 Februari. Lalu, Jepang menyerah tanpa syaratkepada Sekutu, 14 Agustus 1945. Disusul kemudian Republik Indonesia menyatakan kemerdekaannya melalui pembacaan Proklamasi pada 17 Agustus 1945. Dua hari paska Proklamasi, PETA dibubarkan. Sebagai gantinya, pada 22 Agustus 1945 dibentuklah BKR, Badan Keamanan Rakyat. 

Di masa-masa genting tersebut, ketika negeri ini pernah berjalan tanpa tentara untuk sekian hari, Sroedji yang seorang komandan kompi ketika PETA belum dibubarkan, dia sibuk turut mempelopori pembentukan BKR Resimen II di Jember, di bawah Soewito, eks Daidanchoo.

Untuk BKR Resimen I di Bondowoso, ditunjuk Kjai H. Tahiroedin Cokroatmodjo sebagai pimpinannya. Sama seperti Soewito, Kjai H. Tahiroedin juga rekan Sroedji di lingkup Muhammadiyah.

Dari BKR menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR) pada 5 Oktober 1945, lalu tiga bulan kemudian berubah lagi menjadi TRI, Tentara Republik Indonesia. Kelak pada tanggal 3 Juni 1947 Presiden mengesahkan dengan resmi berdirinya TNI, Tentara Nasional Indonesia.

Susunan TKR Besuki di masa itu masih sederhana. Resimen IV pimpinan Soerodjo berkedudukan di Jember dan Resimen III pimpinan Kjai H. Tahiroedjin  di Bondowoso.

Susunan kekuatan dan dislokasi pasukannya masih terdiri atas lima batalyon:

1. Batalyon Rasadi di Situbondo
2. Batalyon Magenda di Bondowoso
3. Batalyon Abdul Rivai di Banyuwangi
4. Batalyon II Soegondo di Jember/Kebonsari
5. Batalyon I Moch. Sroedji di Jember/Kencong. 

Dibentuknya TKR membuat posisi Sroedji ada di dalam Resimen IV/TKR/Divisi VIII yang berkedudukan di Jember. Ia berpangkat Mayor dan tetap memegang Batalyon, dikenal sebagai Batalyon Sroedi atau Batalyon Alap-alap. Sedang Komandan Resimen IV waktu itu adalah Kolonel Soerodjo Mangoenprawiro. 

Bermula dari struktur kemiliteran yang sederhana, semakin hari susunan kekuatan ini semakin berkembang mencari bentuk terbaiknya. 

Adapun pasangan Sroedji dan Roekmini, pada 21 April 1945 mereka dikaruniai seorang bayi perempuan. Anak nomor tiga tersebut diberi nama Sudi Astuti. Ia lahir di Kepatihan, Jember. 


Bila diambilkan dari buku Sejarah Brigif 9, maka garis besar untuk tahun 1945 adalah sebagai berikut:


Mula-mula BKR Karesidenan Besuki hanya terdiri atas dua Resimen, dengan Resimen I dipimpin oleh Kjai H. Tahiroedin. Sroedji tergabung dalam BKR Resimen II, di Bawah Soewito. Batalyon-batalyon yang tergabung dalam BKR Resimen II adalah sebagai berikut:

1. Batalyon Moch. Sroedji di daerah Jember
2. Balatyon Soerodjo di daerah Jember
3. Batalyon Istiklah di daerah Banyuwangi
4. Batalyon Soepono Djiwotaroeno di Banyuwangi
5. Kompi Meriam Sjafiudin di daerah Jember.

Tugas-tugas pokok kedua Resimen BKR di samping menjaga keamanan dan juga memelihara ketertiban umum adalah melucuti Jepang dan membantu Pemerintah Umum di daerahnya masing-masing. 

Seiring dikeluarkannya Dekrit Presiden RI tanggal 5 Oktober 1945 yang menetapkan bahwa pada tanggal tersebut ibentuk tantara yang regular yang dinamakan Tentara Keamanan Rakyat (TKR), maka BKR Resimen I dan BKR Resimen II masing-masing berubah menjadi TKR Resimen II dan TKR Resimen IV/Divisi VIII. 

Tugas melucuti Jepang bisa diselesaikan dengan sukses, berkat diplomasi pemimpin TKR Resimen III dan IV dan ditambah hasil perundingan Resimen Besuki Bapak Mr. Soerjadi dengan pihak Jepang. Proses pelucutan senjata tidak banyak menimbulkan korban jiwa di kedua belah pihak. Sementara, senjata-senjata Jepang dapat dikuasai dan jumlahnya cukup untuk mempersenjatai kedua Resimen. 

Tugas menyelamatkan tawanan-tawanan bangsa Eropa yaitu memindahkan dari kamp tawanan di Kesilir - Banyuwangi ke kamp-kamp di Bondowoso dan Kotok/Arjasa/Jember, juga dapat diselesaikan dengan keadaan baik. 
Tugas memindahkan orang-orang Jepang dari kamp di hutan Garahan yang dibebankan kepada Resimen TKR IV juga telah dapat diselesaikan dengan sukses sebelum akhir tahun 1945. Moch. Sroedji ada di kedua tugas tersebut, juga di bawah Komando Soerodjo Mangoenprawiro di Resimen TKR IV. Ketika itu Sroedji berpangkat Mayor. 

Terjadinya perang yang berpusat di Surabaya membuat tugas-tugas pokok kedua Resimen TKR ini tidak berkurang, melainkan semakin bertambah,yaitu harus segera menyiapkan pasukan-pasukannya untuk dikirim ke front Surabaya. 



SROEDJI dan Perang Surabaya 1945.


Ketika pecah perang berhari-hari di Surabaya antara Indonesia melawan Inggris, semua tenaga kesehatan di Jawa Timur termasuk Jember hingga Malang mengerahkan diri untuk berangkat ke Surabaya. Ia tak hanya terdiri dari tenaga kesehatan ketentaraan saja, dari kesehatan sipil dan swasta pun mengerahkan diri mereka mendekati titik pertempuran. Para pemuda yang di Surabaya tak ada yang keluar kota, sedangkan pemuda dari luar kota berdatangan ke Surabaya.

Mendaratnya pasukan Inggris dan Gurkha di Surabaya yang diboncengi oleh NICA, membuat darah pemuda kota-kota di luar Surabaya makin menggelora. Mereka berangkat ke front Surabaya dengan semangat yang menyala-nyala. Semua pemuda ingin membuktikan dirinya ikut berjuang. Juga yang di garis belakang semua menyingsikan lengan baju, membantu dapur umum, palang merah dan sebagainya. 

Ini perang yang besar. Pasukan Sekutu yang baru saja memenangkan perang besar di seluruh Asia Timur itu dibikin tak berdaya di Surabaya. Kita mengenalnya sebagai Perang 10 November 1945.

Ketika itu Sroedji telah ada di Surabaya sebelum terjadinya peristiwa penembakan Brigadir Jenderal Mallaby. Insiden yang menewaskan perwira tinggi Inggris tersebut terjadi pada 30 Oktober 1945. Ia sontak mengejutkan dunia. Hal ini memicu pertempuran 10 November. 



Selaku komandan Batalyon Alap-alap, Sroedji mula-mula berkumpul bersama pimpinan TKR dan kesatuan polisi di JL. Pregolan Surabaya. Di waktu-waktu kemudian, Sroedji memimpin pasukannya untuk turut terlibat memperkuat pertahanan kota. Di waktu lain, ia beserta seluruh pemimpin TKR dari pelosok Jawa Timur turut mengerahkan pasukannya membantu tentara rakyat untuk berlatih mengoperasikan senjata hasil rampasan, baik senjata milik Jepang maupun Belanda. Oleh Kolonel Soengkono, pasukan Batalyon Alap-alap pimpinan Sroedji diserahi wilayah Surabaya bagian selatan, sekitar Sidoarjo.

Batalyon Alap-alap atau lebih populer disebut Batalyon Sroedji, mereka ada di berbagai titik pertempuran. Di sektor selatan, setidaknya batalyon ini pernah mengalami pertempuran sengit yang di antaranya ada di titik Buduran, Gedangan, Gading, juga Sruni.

Paska 10 November 1945, pasukan yang ada di bawah komando Sroedji masih ada di sana. Dibuktikan dengan terjadinya perang sengit di Karangbong kecamatan Gedangan, Sidoarjo. Ketika itu yang siaga di sana adalah kompi yang dipimpin Sersan Suherlan. Peristiwa yang mengakibatkan gugurnya 15 pejuang dari Kompi Suherlan dari Batalyon Sroedji itu terjadi pada Januari 1946. Kini di lokasi bekas pertempuran itu dibangun sebuah monumen berbentuk bambu runcing, dengan nama-nama pejuang yang telah gugur. Monumen itu disebut juga sebagai Monumen Sroedji.

Pasukan-pasukan Jepang dikonsinyir dalam kamp-kamp untuk dikirim kembali sebagai tawanan Sekutu (APWI), dan rakyat berkehendak menyerbu kamp-kamp tahanan untuk membalas dendam terhadap Jepang, juga mengadakan serbuan pada gudang-gudang perlengkapannya. Pasukan Republik Indonesia di Besuki termasuk Moch. Sroedji dengan sigap mengamankannya. 

1946

Di masa genting ketika negeri ini baru saja berdiri, hal-hal dengan cepat terjadi. Begitu juga dengan susunan militer kita. 

Tentara Keamanan Rakyat berganti nama menjadi Tentara Keselamatan Rakyat, berdasarkan Keputusan Pemerintah Pusat tanggal 7 Januari 1946. Perubahan nama tersebut tidak banyak memberi perubahan di tubuh Resimen III dan Resimen IV di Besuki. Tak lama kemudian, hanya berselang hari, pada 25 Januari 1946 TKR diganti lagi menjadi TRI, Tentara Republik Indonesia. 

Di pertengahan Mei 1946, Batalyon Soegondo dilebur, tiga Kompi dimasukkan ke dalam Batalyon Moch. Sroedji (Batalyon Alap-alap), dua Kompi dimasukkan ke alam Kompi Sjafiudin (Kompi Meriam) selanjutnya ijadikan Depot Batalyon Resimen IV/TRI/Divisi VIII berkedudukan di Tutul/Balung/Jember.

Reformasi tidak hanya terjadi pada Batalyon Alap-alap pimpinan Mayor Moch. Sroedji, melainkan pada seluruh komponen. 


Januari 1946


Pada bulan Januari 1946, Inggris mengadakan perundingan dengan pihak Indonesia. Sesuai dengan tugas internasionalnya, mereka berupaya untuk membebaskan para tawanan Jepang yang ada di daerah kekuasaan Republik Indonesia, yaitu tahanan perang dan juga interniran. Di saat yang sama, mereka butuh menyelesaikan urusan melucuti persenjataan Jepang. Hasil perundingan Inggris – Indonesia, Pemerintahan Sjahrir setuju bahwa Tentara Republik Indonesia akan mengangkut tahanan perang dan interniran itu hingga ke Jakarta, dengan pengantarnya diberi jaminan keamanan selama perjalanan itu.

Tentara Indonesia yang dimaksud adalah TRI, Tentara Republik Indonesia. Nama mereka berubah dari TKR menjadi TRI sejak 25 Januari 1946 berdasarkan keluarlah Penetapan Pemerintah RI No. 4/S.D. Telah dapat dipastikan, TRI merupakan satu-satunya Organisasi Militer Negara Republik Indonesia waktu itu. Namun kenyataannya,  di luar TRI masih ada organisasi-organisasi kelaskaran.
TRI akan mengangkut tahanan perang dan interniran itu hingga ke Jakarta, dengan jaminan keamanan selama perjalanan.

Tugas pengangkutan ini adalah tugas skala internasional, dimana semua mata tertuju pada Tentara Republik Indonesia. Bisakah mereka melakukannya? 


Pengantaran tawanan perang dan interniran ke Jakarta oleh TRI berlangsung dengan baik. Mereka berhasil membantu mengangkut 700 orang—untuk gelombang pertama. Dampak dari pengantaran ini, pihak Belanda menuduh Inggris telah mengakui keberadaan Republik Indonesia sejak Januari 1946. Apalagi pekerjaan yang dilakukan antara TRI dengan pihak Inggris adalah pekerjaan dalam bidang Internasional. Padahal itu masih pengantaran dengan kereta api pertama. Pengantaran tawanan perang dan interniran itu juga tidak hanya terjadi di Jakarta. Di wilayah lain juga terjadi, termasuk ujung timur Jawa. 

Batalyon Alap-alap pimpinan Sroedji juga melakukan kerja-kerja kemanusiaan, militer, dan berskala internasional itu. Mulai dari turut aktif bekerjasama dalam misi pelucutan senjata, hingga pengantaran tawanan perang dan interniran sampai ke pelabuhan Surabaya. 

Mountbatten melaporkan tentang sikap Belanda. 
"Sesudah kereta api pertama yang membawa kurang lebih 700 tahanan perang dan interniran sampai dengan selamat di Jakarta, pembesar-pembesar Belanda memprotes, bahwa kita sebenarnya sudah mengakui Republik Indonesia. Mereka menuntut agar evakuasi itu dihentikan." 

Protes dari Belanda datang karena evakuasi itu diselenggarakan dengan jaminan keamanan bagi opsir-opsir TRI. 
Mengingat Inggris telah memiliki pengalaman dan perkenalan dengan pasukan Indonesia dan rakyat pada umumnya, pihak Inggris tetap memilih jalan perundingan. Di sisi lain Republik Indonesia menyambut ajakan perundingan itu, sebab dari aspek politik, telah ada pengakuan atas Republik Indonesia. Tak bisa dipungkiri, Belanda semakin meradang.

Meradangnya Belanda berakar dari kemerdekaan Indonesia. Ia sulit diterima. Belanda tentu ingin Indonesia tetap ada dalam cengkeramannya.


Belanda mengenang masa-masa Agustus 1945 – Desember 1946 sebagai masa penuh kekacauan dan rasa ngeri. Mereka menyebut periode itu sebagai Masa Bersiap. Kita menyebutnya masa revolusi mempertahankan kemerdekaan. 

Sampai di sini sudah dapat disimpulkan bahwa antara 1945 – 1946, posisi Sroedji adalah sebagai berikut:

1. Sejak zaman pembentukan BKR di Jember, Sroedji termasuk tokoh dan promotor yang kemudian diangkat sebagai Komandan Batalyon I BKR, kemudian Batalyon Alap-alap sampai dengan akhir tahun 1946

2. Ketika pelucutan senjata dari tangan Jepang, Sroedji dan pemimpin-pemimpin lainnya telah mengambil peranan penting

3. Antara September 1945 sampai dengan Januari 1947 telah lima kali dikirim ke Front Pertempuran di Sidoarjo dan sebagai Komandan Sektor sayap tengah.  

Kerja-kerja skala internasional juga sudah ia buktikan, bersama pemimpin-pemimpin yang lain, dengan melakukan pengantaran tawanan perang dan interniran sampai ke pelabuhan Surabaya. 


Urusan reformasi di tubuh militer kita terus-menerus mencari bentuk terbaiknya. Pada bulan Juni 1946, ada peleburan dua Resimen TRI. Namun, belum selesai urusan reformasi, Resimen IV masih mendapat tugas membantu menyusun dan melatih Brigade KRU (Kebaktian Rakyat Umum) yang dipimpin oleh Mayor Kahar Muzakar dan Andi Matta Latta, kurang lebih 450 orang yang berasal dari bekas hukuman-hkuman berat di Nusakambangan. Sebagian besar dari mereka adalah putra-putra Sulawesi. Mereka dipersiapkan untuk ekspedisi seberang, dan tugas untuk melatih Brigade KRU menurut buku Dharaka Yudha, dibebankan pada Depot Batalyon Kapten Sjafiudin.

Juni 1946

Di pemula Juni 1946, dua Resimen TRI, yakni Resimen III/TRI dan Resimen IV/TRI juga dilebur menjadi satu hingga bernama Resimen 40/TRI/Damarwulan/Divisi VII Suropati dengan Komandan Resimennya adalah Kolonel Tahiroedin Tjokroatmodjo. Adapun Kolonel Soerodjo Mangoenprawiro yang sebelumnya menjabat sebagai Komandan Resimen IV dipindahkan ke Staf Divisi VII.

Resimen 40/TRI/Divisi VII diberi nama tambahan 'Damarwulan' karena ia adalah nama salah seorang pahlawan di zaman Majapahit. 

Batalyon Alap-alap pimpinan Sroedji tetap ada di bawah Resimen 40/TRI/Damarwulan/Divisi VII. Markasnya ada di Kencong. Bidang perjuangannya adalah front Surabaya dan sekitarnya. Sroedji aktif memimpin pasukannya. 

Mengenai front Kerawang – Bekasi di Jawa Barat, Kompi Sukadijo dari Batalyon Alap-alap (Mayor Moch. Sroedji) diperbantukan pada Batalyon Suropati 1000 pimpinan Hamid Rusdi dari Malang. Pada November 1946, Batalyon Suropati 1000 ditarik dan digantikan oleh Batalyon Garuda Putih pimpinan Mayor Sjafiudin. Di sana Garuda Putih pakai nama Batalyon Suropati 2000. Hal itu terjadi semasa Batalyon ini masih masuk susunan Resimen 40.

REVOLUSI adalah masa yang sulit. Belanda menggambarkan situasi Indonesia era 1945 – 1946 itu sebagai sesuatu yang bengis, berdarah-darah, kengerian yang mencekam, kerusuhan, penjarahan, hingga pembantaian. Korban pun berjatuhan. Tidak hanya dari kalangan Belanda, tetapi juga dari kalangan peranakan Indo-Eropa, Cina, hingga etnis Maluku di Jawa.

Itu merupakan sebuah periode penuh teror dan kekerasan yang berakar dari keinginan balas dendam pribumi terhadap kolonialisme. kemarahan rakyat semakin tersulut kala mendengar Belanda ingin kembali menduduki Indonesia.

Apakah  teror itu memang ada dan terjadi? Benar. Itu seperti novel ‘Surabaya’ karya Idrus.  

Digambarkan oleh Idrus, masa perang kemerdekaan bukan hanya karena kedatangan sekutu tapi juga kekacauan sesama bangsa.Tapi sebagai catatan, itu bukan karena diatur, dikendalikan, dan diperintahkan oleh para pemimpin Republik Indonesia.

Posisi Republik Indonesia saat itu sudah sangat jelas, tidak ada keberpihakan.

Terlepas dari munculnya kekacauan tersebut berasal dari desas-desus tentang kedatangan Belanda kembali ke tanah air yang menciptakan kecurigaan, kita nyaris tak punya waktu membentuk pemerintahan dan pasukan keamanan hingga menciptakan kalangan revolusioner muda memanfaatkan kesempatan dengan memulai revolusi mereka sendiri, dan sebagainya, apa yang oleh Belanda disebut ‘Masa Bersiap’ adalah cermin dari ketidakadilan berkepanjangan yang diciptakan oleh kelompok kolonial itu sendiri. 

Apakah kemudian Masa Bersiap dapat disebut sebagai sebuah peristiwa genosida terhadap orang-orang Belanda?
Kekacauan hingga pembunuhan memang terjadi, bahkan merembet sampai ke Jember. Namun di periode tersebut tidak ada upaya untuk memusnahkan seluruh penduduk Eropa atau Cina di Indonesia. Di buku Serdadu Belanda di Indonesia, 1945-1950, Kesaksian Perang pada Sisi Sejarah yang Salah yang ditulis sejarawan Belanda, di sana dijelaskan bahwa istilah genosida tidaklah tepat digunakan untuk menggambarkan Masa Bersiap. 

Di situasi yang seperti itulah Sroedji tampil menyelesaikan tugas-tugas kepemimpinannya, selain melaksanakan instruksi dari struktur di atasnya, belum lagi urus kekacauan-kekacauan di dalam negeri. Setidaknya ia harus dapat menenangkan kepanikan kolektif yang menjalar di masyarakat Republik Indonesia di ujung timur Jawa. 


Diplomasi beras 1946. 


Di tahun 1946 terjadi kesepakatan antara Indonesia dengan India, ditandatangani oleh Perdana Menteri Sjahrir dan KL Punjabi pada 18 Mei 1946. Indonesia siap menyuplai beras ke India, sementara itu India menyuplai barang-barang tenun, alat-alat pertanian, ban mobil, dan sebagainya. 

Penyerahan beras dari Indonesia baru bisa dilakukan pada 20 Agustus 1946, sebab sebelumnya ada masalah internal di susunan kementerian. Beras tersebut diangkut dari Probolinggo,  juga pelabuhan di Banyuwangi.

Peristiwa barter Indonesia – India tersebut disebut juga sebagai diplomasi beras. 

Karesidenan Besuki adalah salah satu lumbung pangan Indonesia. Urusan pengantaran beras dari berbagai tempat ke satu titik kumpul di Probolinggo adalah juga urusan pasukan Indonesia.

Rangkuman tugas-tugas nasional dan internasional Resimen 40 di sepanjang tahun 1946 menurut jurnal Sekilas Lintas Sejarah Ringkas Resimen Infanteri 19—kini bernama Brigif 9/Dharaka Yudha.

Tugas Nasional antara lain sbb:

a. Mempertahankan daerah Karesidenan Besuki dari setiap kemungkinan usaha-usaha pihak musuh yang akan menduduki kembali wilayah ini. Tugas ini dilaksanakan tidak sendirian saja atau dimonopoli oleh Resimen 40 tetapi dilaksanakan bersama-sama bahu-membahu dengan Angkatan Laut, Kepolisian, Kelaskaran yang berada di wilayah Karesidenan Besuki dan tak ketinggalan pula ikut memperkuat adalah Instansi Pemerintahan Sipil (Pamong Pradja dengan semua Jawatan-jawatan yang di bawah koordinasinya).
b. Secara bergiliran mengirimkan Batalyon-batalyonnya ke front pertempuran di Surabaya Selatan (Kabupaten Sidohardjo).
c. Ikut memperkuat front pertempuran di Jawa Barat (Karawang Bekasi) dengan mengirimkan Kompi Soekadijo dari Batalyon Alap-Alap yang tergabung dalam Batalyon Soeropati 1000 (Bn. Hamid Roesdi), dan mengirimkan Batalyon Sjafioedin (Bn.Garuda Putih) penuh.
d. Memelihara hubungan yang sebaik-baiknya dengan Badan-badan Perjuangan dan Pasukan Kelasykaran-kelasykaran. Dalam menghadapi perselisihan-perselisihan fisik yang timbul antara Pasukan-pasukan Kelasykaran, Resimen 40 bertindak sebagai pemisah/orang tengah (middellaar).
e. Memadamkan pembangkangan sementara sepasukan KRIS yang menimbulkan keonaran di Kota Jember.
f. Membantu membentuk dan melatih Brigade KRK (Kahar Muzakar) untuk persiapan expedisi ke seberang ke Sulawesi.
g. Membantu persiapan expedisi Brigade Ngurah-Rai yang akan menyebrang ke Sunda Kecil (Nusa Tenggara).
h. dan lain-lain.

Tugas Internasional: 

Membantu tugas Tentara Sekutu dengan :
a. menjaga keselamatan orang-orang tawanan bangsa Sekutu yang ada di daerah Karesidenan Besuki ;
b. menjaga keselamatan orang-orang Jepang.
c. menjaga/mengawal pengangkutan pemulangan (repatriasi) orang-orang tawanan bangsa Sekutu dan orang-orang Jepang tersebut sampai di tempat-tempat pelabuhan tertentu (Probolinggo dll).
Membantu Pemerintah India dengan :
d. menjaga dan mengawal pengiriman padi/beras untuk pemerintah dan rakyat India hingga di tempat-tempat tertentu (pelabuhan-pelabuhan Banyuwangi, Panarukan dan Probolinggo).


1947


Sejak bulan Januari 1947 sampai dengan April 1948 Moch. Sroedji menjabat Komando Resimen Infanteri 39/Menak Koncar/Divisi VII Suropati. Ia berkaitan dengan Penetapan Presiden RI yang mengesahkan dengan resmi tanggal 3 Juni 1947 sebagai hari berdirinya Tentara Nasional Indonesia, menyebabkan juga Resimen 40/TRI menjadi Resimen 40/TNI. Dengan itu, ada susunan-susunan yang mengalami penyempurnaan. 

Berpindahnya Sroedji dari Jember ke Lumajang terkait perbaikan-perbaikan, dari kompi hingga penggabungan resimen. Resimen Jember, juga digabungkan ke Resimen Lumajang, yang juga disertai dengan pergantian pimpinannya, dari Letkol Soedirman kepada Letkol Moch. Sroedji. 

Baru menjabat sebagai Komandan Resimen Infanteri 39/Menak Koncar/Divisi VII Suropati, Letkol Moch. Sroedji segera mendapat mandat untuk urus pengiriman beras, sebagai lanjutan diplomasi beras oleh Sjahrir dan tokoh-tokoh diplomat lainnya di tahun 1946. Tujuannya jelas, selain urusan kemanusiaan (membantu kelaparan di India), juga untuk meraih simpati internasional atas nasib Indonesia yang terus ditekan oleh Belanda. 

Sroedji tentu telah berpengalaman untuk pimpin pengawalan beras sejak di Batalyon Alap-alap. Pada 1945 ia telah berpengalaman melucuti senjata Jepang, menyelamatkan interniran dari kamp interniran Kesilir Banyuwangi ke kamp-kamp interniran di Bondowoso dan Kotok – Kalisat, hingga tugas memindahkan orang-orang Jepang dari kamp di hutan Garahan, Jember Timur. 

Agresi Militer Belanda Pertama

21 Juli 1947 - 5 Agustus 1947

Untuk menghindari kecaman dunia internasional, Belanda menggunakan istilah aksi polisionil dan bukan agresi militer. Ia muncul paska Perundingan Linggarjati. 

Tak lama setelah mendarat di Banyuwangi dan di Pasir Putih Situbondo, tentara Belanda segera dapat menguasai daerah-daerah lainnya di jalur darat, mulai dari Situbondo dan Banyuwangi sendiri, Bondowoso, Jember, dan sampailah ke Lumajang. 

Letkol Moch. Sroedji memimpin pasukannya dengan cara-cara gerilya. Kompi V (Kompi Resimen Infanteri Menak Koncar) yang mulanya berada di Malang, pada akhir Juli 1947 digeser ke wilayah Penanggal Lumajang, dengan kekuatan 100 personil. Tiga bulan kemudian, sebagian pasukannya diserahkan kepada kompi Slamet Wardoyo. 

Dalam buku ‘Sekilas Lintas Riwayat Hidup Almarhum Pahlawan Letkol. Moch. Sroedji’ disebutkan bahwa Sroedji pernah rangkap jabatan. Tertulis seperti ini, "Selama Perang Kemerdekaan I, Moch. Sroedji menjadi/menduduki jabatan Komandan Resimen 39 merangkap Komandan Pertempuran di Karesidenan Malang bagian timur, di wilayah kabupaten Probolinggo dan Lumajang."

Pada clash pertama memimpin gerilya dan memimpin/memegang Komando atas C.O.G. III untuk daerah-daerah Kabupaten Lumajang, Probolinggo, dan sebagian daerah kabupaten Jember Selatan (Kencong).  

Agustus 1947 

Letkol Moch. Sroedji menjadi Komandan MPOS, Markas Pertempoeran Oentoeng Soeropati.

Pada 3 Agustus 1947, Letkol Moch. Sroedji dipindahkan ke MPOS atau Markas Pertempoeran Oentoeng Soeropati. Untuk sementara, staf Sukarto. Mulanya, Komando MPOS dipegang oleh Letkol Hamid Rusdi. Namun, pada 30 Juli 1947 terdapat kabar mengenai hilangnya Komandan MPOS Letkol Hamid Rusdi beserta stafnya. Maka, hari itu Letkol Bambang Supeno (pengganti Imam Sudja’i) mengambil alih langsung komando MPOS untuk kemudian digantikan oleh Letkol Moch. Sroedji. 

MPOS yang didirikan di sepanjang jalan Surabaya – Malang ini tidak merupakan resimen tersendiri, kecuali mempunyai staf markas yang tetap. MPOS inilah yang berhadapan dengan serdadu Belanda dari Brigade-X.


17 September 1947

Terjadinya perang membuat Kabupaten Lumajang mengalami kekosongan pemerintahan versi Republik Indonesia, bahkan setelah ada gencatan senjata antara Indonesia Vs Belanda. Maka dirasa perlu membuat Volk Devency Kabupaten Lumajang, VDKL. Ia dibentuk pada 17 September 1947, sebagai perwujudan dari perjuangan rakyat semesta Kabupaten Lumajang. Dengan mendapat restu dari Bapak Abubakar (Bupati Lumajang yang mengungsi ke Malang) dan Komandan Resimen Infanteri 39 Letkol Moch. Sroedji, terbentuklah VDKL dengan susunan:

Penasehat: Letkol Moch. Sroedji
Komandan: Sastrodikoro
Wakil Komandan: Soekardi
Sekretaris: Soemarno
Bendahara: Soetjipto
Perlengkapan: A. Ibrahim
Persenjataan: Soewarno
Penerangan: Notodihardjo

Dengan terbentuknya VDKL, otomatis roda pemerintahan Kabupaten Lumajang mulai berjalan meskipun dalam kondisi serba terbatas.  Setidaknya urusan kevakuman pemerintahan di Kabupaten Lumajang segera dapat diatasi. 


Selebaran Top Wanted: Moch. Sroedji dihargai 10.000 gulden. 

Menurut kesaksian Burseh, veteran berpangkat terakhir Sersan Mayor yang pernah menjadi prajurit Moch. Sroedji Brigade III Batalyon Sjafiudin, tantara Belanda menginginkan agar upaya Moch. Sroedji ditangkap hidup-hidup. 

Di masa hidupnya, istri Moch. Sroedji, Roekmini, memberi penjelasan kepada salah satu cucunya, Irma Devita Purnamasari, bahwa di masa revolusi Moch. Sroedji dihargai 10.000 gulden bagi siapa saja yang dapat menangkapnya hidup atau mati. 

Dalam sebuah wawancara antara Irma Devita dengan Letnan Jenderal TNI (Purn.) Purbo S. Suwondo, dikatakan bahwa beliau pernah membaca dokumen Belanda yang menyatakan bahwa pasukan Sroedji sangat Tangguh dalam bertempur, sehingga terlalu banyak serdadu Belanda yang gugur karena kalah bertempur. Belanda merasa marah, sehingga membuat selebaran Top Wanted. Siapa saja yang bisa menangkap Sroedji maka ia berhak atas hadiah 10.000 gulden. Letnan Jenderal TNI (Purn.) Purbo S. Suwondo tidak mengarsipkan dokumen tersebut. 

Pola strategi ‘top wanted’ yang dilakukan pihak Belanda di Jawa Timur bisa dilihat di suratkabar era 1947 seperti berikut ini. 

"Seboeah pengoemoeman moesoeh mengatakan bahwa kepada mereka jang dapat menjerahkan seorang opsir Tentara kita hidoep atau mati diberikan hadiah f. 5.000,- sedangkan boeat seboeah kepala extremist mendapat hadiah f. 1.000,-“ 

Dapat disimpulkan, secara propaganda yang boleh jadi dalam bentuk desas-desus, poster-poster dan kabar yang sengaja dihembuskan di radio, bahwa di tahun 1947 Moch. Sroedji dihargai dua kali lipat dari opsir tentara dan sepuluh kali lipat dari harga sebuah kepala extremist. 


1948 


Menjelang bulan Februari 1948 dihijrahkan 35.000 TNI dari kantong-kantong di Jawa ke daerah Republik, yang disusul kemudian oleh beratus-ratus ribu pengungsi sipil yang meningkat sampai lebih dari sejuta.  Penghijrahan ini dilakukan setelah terjadi kesepakatan antara Indonesia dengan Belanda di atas Kapal Renville, 8 Desember 1947 sampai 17 Januari 1948. 

7 Februari 1948 

Putri bungsu dari pasangan Moch. Sroedji – Roekmini lahir pada 7 Februari 1948, bernama Pudji Redjeki Irawati. 

Berbeda dengan ketiga ketiga kakaknya yang semuanya dilahirkan di Jember (Tembakan, Gebang, Kepatihan), Pudji Redjeki Irawati dilahirkan di Gurah, Kediri. Itu waktu yang sulit, di periode Hijrah TNI. Demi keamanan, banyak dari keluarga TNI juga dihijrahkan ke kantong-kantong Republik, termasuk Roekmini istri Sroedji dan anak-anaknya. Tidak mudah bagi Roekmini melakukan hijrah Jember – Kediri dengan kondisi hamil tua.

14 Februari - 24 Februari 1948

Resimen 40/Damarwulan hijrah, dari basis perjuangannya di Jember (Besuki), menuju daerah pedalaman Blitar, Kediri, Tulungagung, dan sekitarnya. Ia adalah hijrah besar-besaran yang telah tercatat oleh sejarah. 
Hijrahnya Resimen 40/Damarwulan dari Karesidenan Besuki ke Karesidenan Kediri ini dipimpin oleh Letkol Prajoedi Atmosoedirdjo. Ketika itu, Februari 1948, posisi Moch. Sroedji masih daerah tugas Lumajang – Probolinggo. 

Terjadinya rekonstruksi - rasionalisasi (Re-ra) di tubuh TNI menyebabkan peleburan-peleburan dan perubahan. Ia berdasarkan Penetapan Presiden RI Nomor 9 tanggal 24 Februari 1948, yang ditindaklanjuti dengan Penetapan Presiden No. 14 tanggal 4 Mei 1948. Tujuan Re-ra adalah untuk efisiensi, memperpendek jalur koordinasi, dan untuk membersihkan ‘petualang’ militer. 

Re-ra membuat Moch. Sroedji menjabat sebagai Komandan Resimen 40/Damarwulan.

Ketika kemudian Moch. Sroedji menjabat sebagai Komandan Resimen 40/Damarwulan/TRI Divisi VII Suropati, ia segera mendapat dua tugas, yaitu:

1. Untuk memperhatikan kondisi seluruh pasukan yang telah hijrah. Mereka ada di titik kumpul Blitar, Karesidenan Kediri, Jawa Timur. 

2. Melaksanakan Re-ra sebagai persiapan pembentukan Mobil Brigade (Mobrig) untuk pasukan dari daerah Karesidenan Besuki. 

Dua tugas yang sama-sama sulit, di tengah keadaan perekonomian RI yang memang sedang kacau. Tidak mudah bagi Sroedji untuk mengatasi rasa kecewa dari prajurit yang tereliminasi karena program rekonstruksi dan rasionalisasi (Re-ra). 

Hal menarik di pemula 1948 ketika Moch. Sroedji masih ada di posisi Resimen 39 Divisi VII adalah cara komunikasi resmi antara Moch. Sroedji dengan H.P. Arends. Mereka sama-sama Letnan Kolonel dan sama-sama memimpin pasukannya masing-masing. Mereka ada di teritorial yang sama, namun harus berhadap-hadapan sebagai musuh. Surat-menyurat, hingga perjumpaan antara keduanya dapat terjadi karena kebijakan gencatan senjata.

Selembar surat tertanggal 29 Januari 1948 tersebut ditandatangani oleh ajudannya, terkait notulen pertemuan. 

Di kesempatan yang lain, 3 Februari 1948, Letkol H.P. Arends berkirim surat kepada Letkol Moch. Sroedji yang isinya sebagai berikut.

Jika memungkinkan, mintalah informasi kemajuan evakuasi pasukan Anda dari daerah timur Laut Tengger-Matahari, Ranoe-Pane dan Monumen Alam Ranoe-Kumbolo.

Sebagai balasan Sroedji untuk Arends, pada 15 Maret 1948, ia mengirimkan peta wilayah yang dimaksud, dengan keterangan sebagai berikut:

1. Bersama ini mengirimkan peta untuk menyukupi sdr. P.T. Let. Kol. H.P. Arends pada tanggal.. tulisan tidak jelas
2. Dengan mengharap supaya peta dari kami diterima pada tanggal 11-3-48 dikirim Kembali ke Resimen Inf. 39
3. Selesai.  

Surat tersebut ditutup dengan tanda tangan Letkol. Moch. Sroedji selaku Komandan Resimen. 


SGAP

Moch. Sroedji menjadi Komandan SGAP, Satuan Gabungan Angkatan Perang, untuk menumpas ekor Peristiwa Madiun 1948. 


Ketika terjadi Peristiwa Kudeta Madiun atau dikenal juga dengan Pemberontakan PKI/Muso, posisi Moch. Sroedji adalah Komandan Resimen 40/Damarwulan, dengan daerah tugas di Karesidenan Kediri. Ia memimpin resimen ini sejak dua bulan setelah peristiwa ‘Hijrah TNI’ yaitu sejak April 1948 hingga 16 Desember 1948. Sebelumnya, resimen tersebut dipimpin oleh Letkol Prajoedi Atmosoedirdjo.

Atas peristiwa pemberontakan itu, Pemerintah Pusat segera mengambil tindakan tegas. Gubernur Militer Gatot Subroto diperintahkan untuk melakukan penghancuran pemberontak. Sementara kepada Sungkono, ditetapkan sebagai Gubernur Militer Jawa Timur, dengan instruksi tambahan: Menumpas pemberontakan PKI/Muso di Madiun. Penetapan Kolonel Sungkono sebagai Gubernur Militer Jawa Timur diumumkan pada tanggal 19 September 1948, atas kehendak dan prakarsa Panglima Besar Sudirman. Keputusan itu disampaikan melalui pengumuman radio, sedangkan surat-surat resminya akan menyusul. Sebelum mengucapkan keputusan itu, Presiden Sukarno terlebih dahulu mengumumkan bahwa negara dalam keadaan bahaya. 

Peristiwa itu selain memecah-belah rakyat, membuat kepercayaan masyarakat kepada pemerintah jadi hilang, ia juga menciptakan friksi di tubuh kesatuan militer, seperti tampak dalam penggalan pidato radio Sukarno.
“…Alat-alat kekuasaan pemerintah dicoba dihasut dan dipengaruhi, dengan mempergunakan kesukaran hidup masa sekarang. Tentara yang sejak dulu di daerah pedalaman diadu domba dengan tentara hijrah, terutama terhadap Siliwangi. Tentara kita hendak dipecah-belah supaya lumpuh, agar supaya mereka gampang merobohkan pemerintahan.” 
Seperti yang tertulis di atas, Panglima Besar Sudirman memberi wewenang kepada dua orang gubernur militer, yaitu Gatot Subroto dan Kolonel Sungkono yang baru diangkat. Mereka diwajibkan mengerahkan kekuatan untuk menumpas pemberontakan PKI/Muso dalam waktu secepat- cepatnya, dan tidak boleh lebih dari dua minggu terhitung dari tanggal kup, sudah harus dapat merebut Madiun. Jika Gubernur Militer Gatot Subroto mengerahkan pasukan yang berasal dari Siliwangi sebagai inti kekuatan menumpas pemberontakan, maka Gubernur Militer Sungkono mengerahkan pasukan dari divisinya sendiri, yaitu brigade di bawah pimpinan Letkol Surachmat. Formasi kekuatan militer yang disusun oleh Kolonel Sungkono tertulis dengan baik di buku Dra. Irna H.N. Hadi Soewito, Rakyat Jawa Timur Mempertahankan Kemerdekaan, Jilid 1.

Pada 26 September 1948, Letkol Surachmat sebagai komandan DKM di Blitar mengakui bahwa tanggung jawab memulihkan ketertiban di wilayah Blitar berpindah ke tangan Resimen 40/Damarwulan di bawah pimpinan Letkol Moch. Sroedji.

Seharusnya, tanggung jawab itu ada di tangan Abdul Rivai. Namun pimpinan Banyuwangi tersebut mendapat pertentangan dari kesatuan tentara reguler Malang, yang lebih ingin melihat Hamid Rusdi yang mendapat jabatan tersebut, yaitu memimpin Brigade Mobil. Kurangnya rasa kekompakan dan adanya rasa tidak percaya kepada pemimpin ini berlangsung sedari Mei hingga klimaksnya bulan Agustus 1948 ketika Rivai menangkap Rusdi dengan tuduhan pembangkangan. Peristiwa ini menyebabkan tanggung jawab memulihkan ketertiban di wilayah tersebut, ketika terjadi pemberontakan PKI/Muso di bulan September, dilimpahkan pada Moch. Sroedji. 

Menurut David Charles Anderson dalam bukunya, Resimen Damarwulan di bawah pimpinan Letkol Moch. Sroedji dianggap berasal dari Madura. Itu menjadi wajar sebab mereka yang berasal dari Karesidenan Besuki didominasi oleh oleh orang-orang yang bertutur dengan menggunakan Bahasa Madura. Memilih Resimen Damarwulan dikhawatirkan memiliki potensi terjadinya konflik etnis dimana etnis Madura muncul sebagai penegak hukum dan ketertiban di sebuah tempat di Jawa. Namun Komandan Kediri mengambil risiko tersebut. Bahkan meskipun ia juga mengerti adanya sentimen pro reformasi di dalam kesatuan Damarwulan ini. 
Sebuah Staff Gabungan Angkatan Perang (SGAP) dibentuk di bawah arahan Moch. Sroedji untuk mengambil tindakan lebih efektif terhadap Pesindo dan Laskar Merah yang masih bertahan di wilayah dekat Blitar, seperti Lodoyo dan Srengat serta lereng Gunung Kelud. Kesatuan BPRI di bawah Sukandar yang menolak untuk ikut berpartisipasi dalam operasi pembersihan SGAP, kelihatannya masih loyal terhadap permintaan Bung Tomo pada tanggal 23 September agar mereka berkonsentrasi semata-mata mengusir Belanda. 

Dalam sebuah buku yang diterbitkan tahun 1995 oleh Pusat Sejarah dan Tradisi ABRI, berjudul Bahaya Laten Komunisme di Indonesia Jilid II: Penumpasan Pemberontakan PKI 1948, di halaman 141 menulis sebagai berikut.
“Sementara itu pada medio Oktober 1948 Letnan Kolonel Sruji melaporkan dari Blitar kepada Markas Besar Angkatan Perang (MBAP), bahwa operasi terhadap sisa-sisa gerombolan pemberontak belum selesai, tetapi pimpinan pemberontak telah berhasil ditangkap.” 
SGAP terbukti berhasil mengkoordinasikan seluruh kekuatan di Blitar dan menyatukan komando, untuk melakukan operasi pembersihan terhadap sisa-sisa kekuatan PKI di daerah Blitar, terutarna yang bersembunyi di perkebunan-perkebunan di daerah itu. Sedangkan untuk operasi pembersihan di Blitar Selatan Panglima Divisi I selaku Gubernur Militer I memerintahkan kepada Komandan Mobiele Brigade Besar Jawa Timur Komisaris Polisi M. Jasin. 
Mengapa PKI masih bersembunyi di Blitar, karena kota Blitar merupakan pusat pemerintahan daerah Jawa Timur. Bagi PKI kota Blitar mempunyai nilai politis, militer dan ekonomis yang besar. Dari segi militer daerah Blitar menguntungkan karena medannya cocok untuk berperang secara gerilya, sekalipun tidak direncanakan sebagai basis pengunduran.
Dapat disimpulkan, keberhasilan SGAP di bawah arahan Sroedji, serta keberhasilan Mobiele Brigade Besar Jawa Timur membawa pengaruh positif yang dapat menaikkan semangat pasukan RI di Jawa Timur dalam menumpas pemberontakan PKI Madiun.

“…pasukan Sroedji berhasil memulihkan kendali kekuasaan Republik di wilayah tersebut pada akhir Oktober.” 

Berhasil direbutnya kembali Madiun menjadi semacam kemenangan besar bagi mereka yang turut ambil bagian, baik dalam perencanaan maupun pelaksanaan operasi pemulihan. Dikatakan di koran Sin Po, Kepemilikan persenjataan kaum komunis lebih besar daripada tantara pemerintah. Pesindo Jawa Timur jauh lebih unggul dibanding tentara. 

Para pemerhati dalam dan luar negeri pun juga mulai percaya bahwa sebuah pemberontakan komunis dalam skala besar kini telah berhasil ditundukkan. Prestise pemerintahan Hatta terdongkrak, terutama di mata Amerika Serikat. Dari seluruh negara di Asia Tenggara yang sedang dipusingkan dengan berbagai gerakan ketidakpuasan yang didukung oleh kaum komunis pada waktu itu, hanya Republik Indonesia saja yang telah memperlihatkan sebuah keberhasilan dalam menegakkan hukum dan menjaga ketertiban di wilayah hukumnya, tanpa sedikitpun memperoleh bantuan dari pihak asing. 

Paska perebutan kembali Madiun dan penghancuran FDR – PKI dalam waktu yang relatif singkat, Menteri Pertahanan yang waktu itu dijabat langsung oleh Perdana Menteri Hatta, ia segera menerbitkan surat nomor A/582/48 tertanggal 25 Oktober 1948 yang menetapkan Kolonel Sungkono sebagai Panglima Divisi I Jawa Timur. 

Selain David Charles Anderson, langka ada sejarawan yang mengulas sepak terjang arek-arek Besuki pimpinan Moch. Sroedji dalam Peristiwa Madiun 1948. Dalam buku Tiga Tahun Brigade III Divisi I memang disinggung tentang SGAP pimpinan Sroedji, 
sebagai berikut:

18 September 1948 Tragedi Nasional PKI Muso merebut kekuasaan Pemerintahan di Madiun.

Tugas rekonstruksi/rasionalisasi disampingkan, Letkol Moch. Sroedji pada tanggal 19 September 1948 membentuk ‘Komando Pasukan Gabungan’ menyingsingkan lengan bajunya guna mengatasi keadaan tersebut. Pasukan Damarwulan bertindak. 


_______


Kelanjutan dari konsolidasi kesatuan bersenjata di Jawa Timur itu, memang mengalami berbagai mutase, hingga akhirnya tersusunlah Komando Divisi I/Gubernur Militer Jawa Timur dalam formasi yang diperbarui. 

Letkol Moch. Sroedji memegang komando atas Brigade III, dengan susunan:

Brigade III: Komandan Letkol Moch. Sroedji
Batalyon 25: Komandan Mayor Sjafiudin
Batalyon 26: Komandan Mayor Magenda
Batalyon 27: Komandan Kapten Sudarmin
Batalyon Depo: Komandan Mayor Darsan Iru
Kompi Bintoro: Komandan Kapten Bintoro 

Susunan Komando Divisi I Jawa Timur ini diberi nama Brawijaya yang peresmiannya diadakan dalam suatu upacara militer tanggal 17 Desember 1948 di lapangan Kuwak, Kediri. 

Perjumpaan Moch. Sroedji dengan AH. Nasution. 

Dalam bukunya, AH Nasution menuliskan perjumpaanya dengan Sroedji, seusai upacara militer 17 Desember 1948 di Kediri. 

Berikut pengggalan tulisan AH Nasution”

Brigade 3 "Damarwulan" segera memulai Gerakan "Wingate"-nya, di bawah komando Letnan Kolonel Mohd. Sruji, yang pada tanggal 17 Desember 1948 masih sempat saya jumpai untuk berjabat tangan dengan beliau di Kediri. Atas pertanyaan saya apakah segala sesuatu buat Gerakan telah usai, beliau menjawab: "Sudah beres, hanya ....." Dengan hanya ini dimaksud kekurangan biaya, peralatan dan perlengkapan,yang senantiasa saya dengar setiap kali saya melakukan inspeksi ke kesatuan TNI. Akan tetapi sebagai seorang bekas panglima divisi, yang telah berhijrah pula, saya dapat mengerti akan kekurangan-kekurangan Brigade 3 yang ternyata lebih miskin daripada kesatuan-kesatuan yang tidak pernah mengenal penghijrahan. Kesatuan-kesatuan yang datang dari kantong-kantong "Renville" harus meninggalkan segala macam "modalnya" atau "kekayaannya". Hanya sekedar barang-barang yang dapat dipikul yang turut terbawa serta. Pula beliau menyatakan kekurangan-kekurangan akan bahan-bahan peledak dan amunisi.


Rupanya AH Nasution tak tahu kapan  Agresi Militer Belanda II akan terjadi.  Dia menuliskan seperti berikut.

“Dalam resepsi di Kediri, saya jelaskan rencana siasat kita (Perintah Siasat I/1948). Saya tegaskan juga bahwa ‘Belanda akan menyerang lagi, hanya saatnya kita belum tahu.’ Kalau saya tahu bahwa Belanda akan menyerang tanggal 19 Desember, saya pasti tidak pergi.”


Moch. Sroedji, seusai dilantik menjadi Komandan Brigade III/Divisi I Damarwulan, dia segera memikul tugas berat, yaitu memimpin anak-anak Besuki untuk pulang. Jumlah mereka banyak, sekira 5000 jiwa. Mereka sudah sepuluh bulan jauh dari rumah, paska Renville, dan pasukan dari Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo harus meninggalkan wilayah yang diklaim Belanda, untuk menuju kantong Republik di Blitar, Kediri, Tulungagung, dan sekitarnya. Ia dikenal dengan peristiwa Hijrah TNI. Berbeda dengan hijrah yang memiliki kepanitiaan yang jelas, yang urus transportasi hingga konsumsi, kali ini Moch. Sroedji harus memulangkan mereka dengan cara wingate. Kembali pulang ke kantong masing-masing –di wilayah Besuki—dengan cara menyusup di belakang garis musuh, menghindari konfrontasi yang tidak perlu, berjalan kaki, dan dapat dipastikan akan berlangsung berhari-hari. Tanpa kepanitiaan, tanpa konsumsi yang cukup, harus survive, dan sebisa mungkin dilakukan dengan senyap.  Kelak sejarah mencatat, itu adalah kepulangan besar-besaran yang yang pernah terjadi di Jawa Timur. Paska wingate-action, sesampainya di kantong masing-masing, segera melakukan siasat wehrkreise. 

Wingate dilakukan sesuai komando taktis dari Panglima Divisi I Sungkono, “Brigade III dengan kesatuannya melakukan wingate ke arah Besuki, dengan memperhatikan jurusan Lumajang, Klakah, Jember dan Banyuwangi.”

Semua diatur dengan strategi perang total. Sayangnya Sroedji harus mengulur waktu untuk melakukan perjalanan besar ke Besuki, sebab Belanda keburu menyerbu kantong-kantong Republik Indonesia, terutama di Kediri dan sekitarnya sebagai pusat pemerintahan Jawa Timur saat itu, pada 19 Desember 1948. 

Meskipun tetap tertahan di Karesidenan Kediri, pasukan Brigade III di bawah komando Letkol Moch. Sroedji tetap memulai menyusun kekuatannya untuk kembali ke daerah Besuki, dengan titik kumpul ada di Jember. 

Sementara itu, rupanya rombongan Panglima Sudirman sedang menuju ke Kediri, dari Yogyakarta. Berangkat dari Yogyakarta pada 19 Desember 1948 pukul 14.00 WIB, sampai di Kediri pada 23 Desember pukul  04.00 WIB. Esok harinya, Panglima Besar melakukan koordinasi dengan Kolonel Sungkono untuk mengatur siasat perang gerilya. Letkol Moch. Sroedji masih berada di Karesidenan Kediri, sebab ia menunda kepulangan rombongan ke Besuki karena perang, dan baru berangkat pada 26 Desember 1948. Sebagai catatan, versi lain (Irna H.N Hadi Soewito) menyebut mereka berangkat sebelum Natal.


Sehari sebelum rombongan kecil Jenderal Sudirman tiba, Moch. Sroedji masih bergerak di Blitar sebab kota itu sedang diserbu tentara Belanda. Dia di sana mengkoordinir pasukan-pasukan dari kesatuan tempur SGAP. Bersama Batalyon 20 Brigade II/Divisi I yang juga dikenal sebagai Batalyon Branjangan, mereka bersama-sama menghadapi serangan Belanda. Rupanya Belanda juga membidik tempat-tempat strategis secara politik seperti Blitar, tidak hanya daerah RI yang vital dalam ekonomi saja. 


Kembali ke Karesidenan Besuki


Ketika tiba saatnya untuk memimpin kepulangan para prajurit TNI ke Besuki, dan sekian persen di antaranya adalah sipil, Letkol Moch. Sroedji melakukannya. Di antara perang yang sedang terjadi, mereka mulai bergerak langkah demi langkah, dengan strategi wingate-action. Ada beberapa buku yang menuliskannya dengan cukup rinci, di antaranya buku Dra. Irna H.N. Hadi Soewito, Rakyat Jawa Timur Mempertahankan Kemerdekaan, Jilid 2, halaman 355 hingga 407. Ada juga buku ‘Sejarah Revolusi Kemerdekaan (1945 – 1949) Daerah Jawa Timur.” 


Tulisan ini diusahakan untuk tampil lebih ringkas, diambilkan dari buku Dra. Irna. 


Seperti yang direncanakan, komando ini melewati pegunungan sempit di sebelah selatan Gunung Semeru yang berhutan lebat. Mereka berangkat dari Blitar, sebab Blitar dan sekitarnya adalah titik pangkal persiapan wingate-action. Titik pencar adalah desa Penanggal di Malang Selatan. Titik kumpul (titik tujuan) adalah Jember. 

Dalam perjalanan itu Batalyon 26 bergerak paling depan, diikuti Batalyon 25, staf Brigade, kemudian Batalyon 27 dan Batalyon Depo. Mereka melalui Lodoyo, Binangun, Bantur, Sumber Manjing, menerobos Tempursari hingga mencapai Lumajang bagian selatan. Mereka bergerak dalam formasi siap tempur, meskipun berusaha menghindari kontak senjata dengan pihak lawan. Brigade III Damarwulan sama sekali tidak bermaksud melakukan pertempuran dalam wingate, sebelum tiba di daerah tujuan yaitu Karesidenan Besuki. Bila sudah tiba di titik tujuan, baru mereka akan melakukan wehrkreise. Selama masa wingate, pertempuran hanya akan terjadi bila terpaksa harus membuka jalan.

Pada tanggal 28 Desember  rombongan sudah memasuki batas status quo, untuk itu di antara komando Brigade III dan komando Brigade IV diadakan musyawarah, bagaimana cara membuka gerbang musuh agar ekspedisi ini dapat lewat lebih lama. 

Ketika tiba di Tempursari, Moch. Sroedji memencarkan rombongan dalam unit-unit yang lebih kecil. Ini bukan hanya untuk keamanan rombongan dari sergapan musuh, tapi lebih diutamakan dalam hal suplai makanan oleh penduduk. Tentu sulit bagi penduduk sebuah desa untuk menanggung perut 5000 orang. 

Setibanya staf brigade di Sumbersengkaring pada 5 Januari 1949, maka lewat PHB Brigade III diadakan hubungan dengan markas divisi yang ada di lereng Gunung Wilis. 

Pada tanggal 9 Januari 1949, hampir seluruh rombongan ada di desa Penanggal, kecamatan Candipuro, termasuk batalyon 26 dan 27, serta Batalyon Depo yang selalu berjalan paling belakang. Beberapa kilometer lagi rombongan akan memasuki perbatasan Karesidenan Besuki. Di desa Penanggal, Letkol Moch. Sroedji menyelesaikan masalah yang  belum diputuskan, yaitu tentang pembagian tanggung jawab daerah tugas. Dari desa ini juga mulai disebarkan perang urat syaraf. Propaganda. Diberitahukan lewat penduduk bahwa komando Damarwulan dengan kekuatan yang amat besar telah tiba dan dalam waktu singkat akan mengakhiri riwayat serdadu Belanda. Berbagai pamphlet dan selebaran mulai dibagikan ke penduduk agar ditempel di mana saja, terutama dikirim kepada mereka yang berkhianat kepada RI. 

Kepada pejabat Negara Jawa Timur, negara boneka ciptaan Van der Plas, dan pamong angkatan Belanda diserukan, agar mereka segera meninggalkan musuh dan bergabung dengan Republik, sebelum hari pembelaan tiba. 

Sebelum kembali bergerak dan meninggalkan Penanggal, komando Damarwulan—yang di dalam rombongan itu juga ada pemerintahan sipil—mulai mengedarkan uang ORI. Rupanya ia diterima dengan gembira oleh penduduk, dengan kurs 1 : 1 dengan uang NICA. 

Dari Penanggal, mereka bergerak terpencar. 

Staf Brigade maju menuju desa Bodong dengan menyeberang di selatan Klakah. Batalyon 25 terpaksa menggempur pos musuh di Candipuro. Batalyon 27 bergerak menuju Jember/Besuki melalui Gumukmas. Batalyon ini juga tak bisa menghindari pertempuran ketika masih di Karanglodi, sebelah tenggara Lumajang. Batalyon 26 sudah memasuki wilayah Besuki di Kawedanan Puger. 

Setelah tiga minggu lamanya dalam perjalanan yang teramat sulit dan berbahaya, akhirnya pada 14 Januari 1949 seluruh pasukan wingate memasuki wilayah Besuki. Kemudian Komando Brigade III Damarwulan mengambil pos komando sementara di Karangbayat, Jember. 

Pada 20 Januari 1949, Komandan Brigade III Damarwulan mengeluarkan Perintah Harian No. 0017/PH, yang menegaskan bahwa sejak hari itu wingate-action dirubah menjadi wehrkreise-action. 

Setiap petugas di daerah masing-masing, selain mengatur wehrkreise, juga diwajibkan menyusun pemerintahan militer dari tingkat karesidenan, kabupaten, kecamatan, sampai desa/kelurahan. Pejabat-pejabat pemerintah sipil yang turut dalam rombongan Damarwulan dengan begitu langsung dihadapkan dengan tugas mengkoordinasi rakyat. Sesuai UU No. 33/48 maka kedudukan pamong ditangani tokoh sipil, kecuali dalam keadaan kosong, maka untuk sementara terpaksa diangkat dari militer. 

Pada 19 Januari 1949 Batalyon 25 bersama staf Brigade Damarwulan telah tiba di pos komando Karangbayat, Jember. Dengan begitu Mayor Sjafiudin tinggal mengatur dislokasi dari kompi-kompinya. Batalyon 26 Magenda masih harus meneruskan perjalanan menuju Bondowoso dan Situbondo, sesuai dengan daerah pertahanannya (wehrkreise) melalui celah-celah utara kota Lumajang, menuju Gunung Lamongan, kemudian melewati barat daya Gunung Argopuro, terus ke Pegunungan Hyang, yang menjadi kompleks wehrkreise-nya. Batalyon 27 yang masih jauh harus melalui Jember selatan menyeberangi sungai Sanen, lewat kota Blater kemudian menembus pegunungan Betiri. Di Ambulu, Batalyon 27 mengalami pertempuran sengit dengan pihak Belanda. Selanjutnya Batalyon 27 berhasil menembus Pegunungan Meru dan menduduki perkebunan/persil Sukamade di Banyuwangi, dimana kemudian batalyon ini menempatkan pos komando wehrkreise-nya. 

Pada 24 Januari 1949, Batalyon Depo, Mayor Darsan Iru, telah tiba di Jatibanteng, distrik Besuki, bersama dengan Batalyon Abdul Syarif yang dulu dari Brigade IV. Perlu pula dicatat turut sertanya sepasukan lascar Hisbullah dalam Batalyon 25, di bawah pimpinan Haji Syeekh. 

Hari-hari selanjutnya adalah wehrkreise. Aksi gerilya di kantong masing-masing dilakukan secara terorganisir. Tentu korban berjatuhan. Itu semua demi mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. 

Gugurnya Letkol Moch. Sroedji


Peristiwa gugurnya Letkol Moch. Sroedji merupakan suatu peristiwa naas yang berdampak sangat besar bagi Brigade III Damarwulan, karena brigade ini dapat dikatakan, semangat heroismenya ada pada tokoh Sroedji. 

Dia yang sejak awal kemerdekaan telah membina pasukan bersenjata di wilayah Besuki, dengan susah payah mengkonsolidasikan pasukan itu, ketika hijrah ke daerah Blitar-Kediri. Kemudian ia memimpin sekira 5000 orang untuk kembali ke kampung halamannya di Karesidenan Besuki. Manakala tugas itu telah dilakukan oleh Moch. Sroedji, dan brigade ini baru saja melakukan tugas gerilya, maka pada tanggal 8 Februari 1949, dalam suatu pertempuran di Karang Kedawung – Jember, dia gugur terkena tembakan. 

 
Dalam jurnal Sekilas-Lintas Sejarah Ringkas Resimen Infanteri 19/Brawijaya (kini Brigade Infanteri 9/Dharaka Yudha) Tahun 1972 disebutkan sebagai berikut:

Jenasah Letkol Moch. Sroedji diperlakukan sangat kejam dan penuh penghinaan oleh pihak Belanda/musuh. Sebagian jari-jari tangannya dipotong dan kedua belah matanya dicukil (dilepaskan dari tempatnya), dan jenazah di pertontonkan pada penduduk Kota Jember serta ditempatkan tergelimpangkan di halaman Hotel Jember.

Masih dari sumber yang sama, berikut kronologi lebih lengkapnya: 

Sebagai akibat adanya penyerangan yang dahsyat dari musuh dan perlawanan yang sengit dan gigih dari BRIGADE III di mana Komandan BRIGADE III sendiri langsung ikut bertempur, maka dalam satu grebekan oleh musuh Komandan BRIGADE III (Letkol Moch.Sroedji) dapat ditangkap tetapi beliau pantang menyerah, dan terus mengadakan perlawanan kepada musuh yang menangkap dirinya. Akhirnya beliau ditembak mati oleh musuh dan disiksa beberapa harinya, jari-jari tangannya di potong, dan kedua belah matanya di cukil (dilepaskan dari tempatnya). Jenazahnya diseret keliling kota Jember dan akhirnya digelimpangkan di depan hotel Jember yang terletak di depan alun-alun kota untuk dipertontonkan sementara pada penduduk kota Jember sebagai bahan propaganda bagi keunggulannya, bahwa T.N.I. (istilahnya mereka namakan TERRORIS) selamanya tidak akan menang melawan Belanda. 

Terlepas dari kutipan jurnal militer di atas, dengan menggeletakkan jenasah Moch. Sroedji tanpa rasa hormat dan tanpa kemuliaan, itu sudah merupakan bentuk kejahatan tentara Belanda. 

Keesokan harinya, Kiai Dachnan mewakili masyarakat Jember, berunding dengan pihak Belanda di Hotel Djember, untuk membawa jenasah agar bisa dikebumikan dengan layak. Kiai Dachnan baru bisa membawa jasad Almarhum Moch. Sroedji setelah melewati negosiasi yang rumit dengan Komandan Tentara Belanda yang ia jumpai di Hotel Djember. Ia mengaku bahwa Moch. Sroedji masih kerabat dekatnya. Negosiasi itu membawa hasil, Kiai Dachnan dan rombongan boleh membawa jasad Moch. Sroedji, tapi dengan syarat, jenasah yang telah dibungkus di markas tentara Belanda itu tidak boleh dibuka lagi dan harus terus dimakamkan. Kiai Dachnan memenuhi permintaan itu. 

Jenasah sang komandan itu kemudian dibawa 'pulang' ke Kreongan untuk dimuliakan di Musala yang dimakmurkan oleh Kiai Dachnan. Orang-orang mengiringi penjemputan itu, banyak sekali. 
Sesampainya di Kreongan, jenasah diperlakukan sebaik-baiknya. Sebagaimana dalam tuntunan Islam, mereka ingin memandikan jenasah, memuliakannya, memberi wewangian, mensalati, hingga mengantarkannya ke peristirahatan terakhir. 

Karena jenasah harus dimandikan secara Islam, pembungkus jenasah itu kemudian dibuka. Dari sini muncul banyak kisah. Orang-orang menangis haru manakala melihat kondisi jenasah.
“Badannya hancur penuh luka tembakan peluru dan tusukan bayonet yang tak terhitung jumlahnya.” 

Makam Sroedji tak jauh dari Mako Brigif 9 yang sekarang. Ketika jenasah  dibawa ke peristirahatan terakhir tersebut, orang-orang bergerombol memenuhi areal sekitar Musala Kiai Dachnan hingga tumpah ruah di ruas jalan. Mereka semua ingin mengantarkan jenasah menuju peristirahatan terakhir di Taman Bahagia, Kreongan. Sejak 1960, Taman Bahagia Kreongan itu lebih dikenal sebagai TPU Tunjung, Jember. 




Jenazah Letkol Moch. Sroedji 

Bila memperhatikan kondisi jenasah Letkol Moch. Sroedji dalam foto yang diabadikan oleh fotografer dari pihak Belanda, ada luka di pelipis dekat mata, pipi hingga telinganya. Terdapat kain/sapu tangan putih yang menutupi dadanya, bekas tembakan. Boleh jadi, ia diabadikan sebelum terjadinya siksaan kejam, seperti yang tertulis dalam jurnal militer. 

Tampak di atas foto jenasah Letkol Moch. Sroedji, terdapat sebuah poster ‘woro-woro’ yang ditandatangani langsung oleh Komandan KNIL Besuki Letkol Infanteri J.H.J. Brendgen, hanya berselang empat hari setelah gugurnya Komandan Brigade III Damarwulan. Sementara, di sudut kanan bawah terdapat sobekan koran yang menuliskan tentang gugurnya Moch. Sroedji. 


Adapun anak buah Komandan KNIL Besuki Letkol Infanteri J.H.J. Brendgen yang bertanggungjawab atas gugurnya Letkol Moch. Sroedji adalah F.G. Scheltens, selaku Komandan Kompi dan Patroli dari Infanterie XXIII Kompi 4 Detasemen Toempang. Keesokan harinya, 9 Februari 1949, Scheltens segera menuliskan laporannya. 

Selayaknya laporan militer, catatan tersebut runtut menjelaskan potensi kekuatan Kompi 4 Infanterie XXIII, data dari mata-mata, Peleton mana saja yang bertugas melakukan pencarian target di kampung Karang Kedawung, bagaimana rencana aksi penyergapannya, bentuk eksekusi, apa saja hasil pampasan, hingga rincian lainnya. Catatan yang berkenaan dengan peristiwa Karang Kedawung itu terdiri atas empat lembar, dua berisi laporan, dua lainnya adalah sketsa peta yang dibikin secara sederhana. Ia disimpan oleh nationaal archief Belanda.

Dari laporan musuh, kita menjadi tahu bahwa Komandan Sroedji gugur di tangan Pratu Jacob Kesek, anggota Peleton 2 Kompi 4 Infanteri XXIII KNIL. Dalam laporan F.G.Scheltens, Kesek digambarkan sebagai prajurit yang pemberani. Tapi toh, tak sampai 100 jam kemudian, Kesek tewas oleh pasukan Mobrig Indonesia di desa Jumerto. Peristiwa pertempuran sengit di sana dikenal sebagai Palagan Jumerto, 11 Februari 1949. 

Di sisi lain, atas keberhasilan Kompi 4 Infanterie XXIII KNIL, Komandan F.G.Scheltens mendapatkan kenaikan pangkat sebagai Kapten serta dianugerahi penghargaan bronzen kruis. Ia adalah bukti bahwa Letkol Moch. Sroedji dan pasukannya ketika itu adalah sosok paling berpengaruh dan paling dicari di ujung timur Jawa. 

Di catatan yang lain disebutkan bahwa pasukan pihak Belanda yang dipimpin oleh F.G.Scheltens berhasil membunuh 28 orang dari pihak Indonesia, termasuk Letkol Moch. Sroedji dan Letkol dr. Soebandi. 

Scheltens terbilang masih muda waktu itu, 27 tahun, lahir di Jakarta (Batavia). Di mata Belanda, Scheltens adalah seorang pahlawan dan berhak atas bronzen kruis. Dalam laporannya, dia menyebut 28 orang yang gugur di Karang Kedawung adalah teroris, dengan Moch. Sroedji sebagai kepala komplotannya. Dengan itu Scheltens dapat pampasan perang berupa senjata, bahan peledak, dan semua dokumen. 

Menurut Gerard Scheltens, Sroedji terbunuh di daerah persawahan, di titik koordinat 643742, setelah dia berupaya merebut senapan tentara, hingga kemudian Sroedji mendapat tembakan Bren dari seseorang bernama Kesek. Ia berpangkat Pratu. Tembakan dari Pratu Kesek itulah yang mengakhiri perjuangan sang Komandan Brigade, Letkol Moch. Sroedji.

_______


Setelah gugurnya Letkol.Moch Sroedji dilaporkan pada Panglima Divisi I Jawa Timur yang pada saat itu berada di daerah pegunungan Wilis, maka Panglima Divisi I segera menetapkan mengangkat Letkol Abdul Rivai sebagai Komandan Brigade III. Letkol Abdul Rivai pada saat itu mengikuti gerakan Batalyon 27 Macan Putih di daerah Banyuwangi. Pengangkatan ini berlaku mulai tanggal 21 Maret 1949. Dari sejak gugurnya Letkol Moch. Sroedji tanggal 8 Februari 1949 hingga tanggal 21 Maret 1949, saat pengangkatan Letkol Abdul Rivai tersebut, pimpinan Brigade III dipegang oleh Brigade Mayor yaitu Mayor Imam Sukarto.

Lagi, nasib sial menimpa Brigade III Damarwulan. Letkol Abdul Rivai sesungguhnya adalah seorang Perwira yang cakap dan cukup terkenal pula di kalangan anak buah tentang keberaniannya. Namun tiba-tiba pada tanggal 25 Juni 1949 dalam suatu pertempuran yang seru dahsyat di Alas Banyulor di daerah Banyuwangi, Letkol Abdul Rivai menyerah pada musuh.

Sangat di luar dugaan seluruh warga Brigade III Damarwulan dan seluruh masyarakat militan di daerah Besuki,Letkol Abdu Rivai yang semula dibangga-banggakan, setelah menyerah dan agaknya karena menderita tekanan-tekanan lahir dan batinnya, kemudian ternyata jiwa patriotisme luntur dan ia dapat diperalat sedemikian rupa oleh musuh, sampai-sampai ia mengeluarkan perintah agar seluruh Brigade III menghentikan perlawanan dan menyerahkan semua alat-alat perang pada musuh. Dia menganjurkan supaya seluruh anak buahnya menyerahkan diri pada musuh, sebab katanya, apabila diteruskan perlawanan maka hanya menimbulkan korban yang sia-sia saja.

Peristiwa itu tentu saja menimbulkan kepanikan di kalangan pasukan, dan berdampak buruk pada kesatuan Brigade III itu sendiri. 


Melihat keadaan yang amat membahayakan kehidupan Brigade III itu, maka untuk kesekian kalinya Brigade Mayor, Mayor Imam Sukarto tak menunggu lama segera tampil ke depan memegang tampuk pimpinan Brigade III sambil menunggu keputusan lebih lanjut dari atasan. Dengan penuh keuletan dan kebijaksanaan beliau usahakan memerangi kepanikan yang berkecamuk. Kontra propaganda terhadap musuh dilakukan, instruksi-instruksi lanjutan perjuangan dikeluarkan, situasi Brigade III dalam keseluruhannya diberitahukan pada pimpinan-pimpinan, Komandan-komandan Batalyon maupun Kompi, sehingga membangkitkan kembali semangat perjuangan pada sementara anak buah yang terserang panik. Tindakan-tindakan dan kebijaksanaan yang diambil oleh Mayor Imam Sukarto mendapat dukungan sepenuhnya dari Komandan-komandan bawahan (Batalyon dan Kompi). Di situasi inilah Mayor Imam Sukarto menyerukan untuk bikin markas-markas di Jember utara dan timur, dengan nama Markas Sroedji. Dengan harapan, semangat juang tetap berkobar. 



Foto koleksi Studi Arsip Sroedji yang beralamat di JL. KH Dewantara 16 Kalisat - Jember


Foto bersejarah di atas didapat dari album foto keluarga Koesnadi di Kalisat, Jember. Di masa hidupnya (Almarhum) Koesnadi adalah mantan prajurit Brigade III Damarwulan. Repro oleh RZ Hakim dan tim dari Sudut Kalisat pada 2019 atas izin keluarga. Kini hasil repro menjadi koleksi Studi Arsip Sroedji atau kadang disebut Sroedji Museum. Lokasinya menjadi satu dengan kolektif Sudut Kalisat. 


Sejarah kemudian mencatat, Brigade III Damarwulan tak pernah berhenti berjuang, sesuai dengan semboyan di nadinya, “Satu jatuh sepuluh bangun dan sepuluh jatuh seratus bangun.” 


Sekian catatan saya tentang Overste Sroedji. Kelemahan dari catatan blog personal tentu tak dilengkapi dengan fitur footnote. Bagi Anda yang memiliki kebutuhan akademis, saya bisa dihubungi melalui email di rzhakim.net@gmail.com

Salam saya, RZ Hakim. 

TAMASJA NET

0 comments