Selamat Pagi Indonesië

by - Desember 02, 2025

Akhirnya dia benar-benar mengirimkan materi tulisannya ke Radar. Tulisan itu dimuat pada Kamis, 27 November 2025. Radar memberinya judul, "Tragedi sebagai Ikon Kota: 78 Tahun Peristiwa Gerbong Maut, Opini oleh Wildan Ariyanto, Seniman Bondowoso." Dalam tulisannya, ada disebut pula seniman Jember Fadli Rasyid sebagai arsitek di balik pembangunan Monumen Gerbong Maut di jantung kota Bondowoso itu. 

Bangga melihat Wildan melebarkan sayapnya, dari membekukan momen lewat foto ke membekukan momen lewat kata-kata. Ya, Jawa Pos sudah benar. Wildan Ariyanto memang seniman Bondowoso. 

Esok harinya, Jumat, 28 November 2025, menjadi hari terakhir bagi Hamdan Tamimi untuk bekerja di toko Mamaru di kompleks BRI work Universitas Jember milik pasutri Ahmad Hafid Hidayaturrahman dan Novia Suryandari. Jika saya ingat akad awalnya, bahwa Hamdan Tamimi akan bekerja di Toko Mamaru agar Hafid punya keleluasaan berproses di 'Kalisat Tempo Dulu 10' Lanskap Bercakap. Setelah Hafid selesai merancang kerja-kerja kuratorialnya, Hamdan Tamimi boleh pamit dari pekerjaannya. Kita tahu, Hafid adalah salah satu kurator dalam pameran bermartabat itu. Saat itu kolektif sedang membutuhkan waktu, tenaga, dan pikirannya. Tapi tentu bukan itu saja alasan mengapa Hamdan Tamimi di Mamaru. Masih ada dua lagi yaitu agar Hamdan Tamimi sendiri punya aktivitas paska skripsinya usai. Dan yang terakhir, memberi suntikan darah segar pada Mamaru, turut berproses dan tidak mengutamakan penghasilan. Dulu saya mengira Hamdan akan undur diri di Mamaru pada akhir Agustus, menjelang puncak pameran Kalisat tempo Dulu. Rupanya ia bertahan cukup lama. Keren. 

Malam ketika Hamdan Tamimi telah menyelesaikan hari terakhirnya di Mamaru BRI work Universitas Jember, di ruang ingatan ada Qorry 'Aina Damayanti. Dia menginap. Mumpung ada 'Aina dan Hana, saya tanya sekali lagi kepada Hamdan Tamimi, "Apakah rencana sewa los di pasar tradisional Kalisat disegerakan?" Dengan pelan, Hamdan bilang ke saya bahwa untuk tidak dulu. 

"Aku sik ngenteni informasi sing teko Bali, Mas. Pingin melu residensi."

Hamdan Tamimi mendaftarkan diri sebagai calon anggota residensi di program MTN Lab: Residensi Denpasar 2025. Pengumumannya dilakukan esok harinya, 29 November 2025, dan syukurlah dia terpilih sebagai kurator. Dengan demikian, rencana kolektif Sudut Kalisat untuk support penuh kepada mereka yang dianggap punya peluang bisnis di dalam pasar tradisional Kalisat, rencana ini dihentikan. Kami tentu senang bila Hamdan Tamimi bisa mengambil keputusan atas hidup dan masa depannya sendiri. Namun semoga saja dia tidak lupa dengan urusan TOEFL yang belum lagi selesai. 

Semalam di ruang ingatan ada Karina Putri Yuni Kuswanto, Muhammad Iqbal, Muhammad Haykal Somadani, dan Hamdan Tamimi. Sesekali Karin dan Iqbal latihan bernyanyi. Duo Karin Iqbal ini akan tampil di acara BRIwork Entreprainur Fest pada 3 Desember 2025. Mereka akan menyanyikan lima lagu. 


Kedai Sinisuka Bondowoso, 30 November 2025


Kembali ke Wildan Ariyanto seniman Bondowoso. Pemilik kedai Sinisuka ini punya program yang bagus terkait literasi. Bersama teman-temannya, ia bikin acara 'Sinibaca.' Setiap acara sinibaca digelar selalu disertai dengan produksi zine. Di sinibaca kesepuluh beberapa hari lalu, saya baru sempat kirim artikel. Ia tentang Windan, berjudul, 'Mengenang Sejarah Bondowoso dengan Resah.' Sayang ketika acara sinibaca berlangsung pada 29 November, saya dan Hana tidak bisa merapat ke Bondowoso. Saya ketiduran. Sore telah berganti gelap ketika saya jegeh. Baru keesokan harinya kami ke kedai Sinisuka, seperti tampak dalam foto di atas. Ia dijepret oleh Titania Elsa. 

Paling kanan sendiri, berjaket hitam, dia adalah Fahmi. Atas perbincangan yang tak sengaja di hari itu, akhirnya terjadi kesepakatan bahwa Fahmi akan membantu saya beli domain dot net untuk blog personal saya yang di wordpress, rzhakim. Dia juga bantu migrasi hosting, dari wordpress ke hosting miliknya sendiri.

Pagi ini blog saya yang di wordpress telah bisa diakses dengan URL baru, yaitu rzhakim.net 

Terima kasih, Fahmi. 

Laki-laki muda yang diapit oleh saya dan Wildan, dia adalah perintis keberadaan Sarka Space di Bondowoso, Uyes namanya. Sarka Space ini fokus banget mencerdasi sampah di kotanya. Mereka berpikir kritis, juga kreatif. 

Saat menuliskan ini, saya sedang membaca buku berjudul Indonesië, ditulis oleh seorang Marxis bernama Sebald Justinus Rutgers. Buku setebal 157 halaman itu diterbitkan oleh penerbit Pegasus pada 1937, ketika keadaan geopolitik dunia sedang ada di penghujung krisis ekonomi global terparah, menjelang perang dunia kedua. 


Sampai pukul 02.33 WIB dini hari tadi, mata saya sik tangar sebab kemarin malam saya tertidur. Memang tak semudah itu melakukan revolusi pada jam tidur. Sambil menanti kabar dari Lukman Hakim yang istrinya (Lita) sedang proses babaran anak kedua, saya menulis catatan ini. 

Seperti biasa, saya berpikir terlalu lama untuk bikin judul. Akhirnya ia saya samakan dengan judul buku Rutgers, hanya menambahkan kata selamat pagi. 

Selamat pagi Indonesië. 

Dukacita mendalam bagi saudara-saudara kita di wilayah terdampak bencana dan terdampak penanganan pemerintah yang sungguh lelet. 

TAMASJA NET

0 comments