Pelan Tak Apa Asal Tercapai
SEMINGGU belakangan ini tulisan saya di blog tamasja mengsle-mengsle. Apa yang terjadi kemarin, saya tulis hari ini. Ya, itulah yang terjadi. Ia seperti falsafah Jawa, Alon-alon waton kelakon. Pelan-pelan asal tercapai.
Tulisan kali ini juga mengsle. Apa yang terjadi kemarin, saya tulis hari ini.
Benar, ini tentang kedatangan rombongan kecil dari Trenggalek. Alvina, Jati Pramudya, dan Bapak Ibu dari Trenggalek yang saya lupa tak bertanya siapa nama mereka berdua. Mereka datang dari Trenggalek dengan membawa mobil. Cukup jauh juga, 363 Kilometer, Trenggalek - Kalisat. Apalagi sehari sebelumnya mereka masih ke Banyuwangi. Sesuai rencana, kami akan nobar film dokumenter berjudul, Tambang Emas Ra Ritek. Tampil sebagai moderator adalah Novia Suryandari. Saya dipercaya menjadi pemantik diskusi, duduk sejajar bersama Alvina dan Jati Pramudya.
Tapi di tulisan ini saya tidak hendak membahas bagaimana jalannya nobar Sinema Kelontong: Tambang Emas Ra Ritek, tidak juga tentang jalannya diskusi yang renyah itu. Kini tiba-tiba saya ingin memperbincangkan penampilan Karin Iqbal di acara itu, Minggu malam, 28 Desember 2025 di ruang ingatan.
Mereka menyanyikan dua lagu saja. Lagu terakhir adalah lagu karya Iqbal sendiri. Lagu itu memang dirancang untuk dinyanyikan Karin. Liriknya mengena, "Berapa lamakah selamanya itu."
Adapun lagu pertama, ia berjudul Meru Betiriku. Lagu karya RZ Hakim yang dinyanyikan bersama tamasya band, dan masuk album kedua tamasya bertajuk Save the Tree #2. Meskipun sempat salah dan diulang hingga dua kali, namun Karin Iqbal tetap bisa menyelesaikan lagu itu.
PELAN TAK APA ASAL TERCAPAI
Kalimat 'Alon-alon waton kelakon' pernah ramai menjadi perhatian publik di tahun 2019 manakala Wakil Presiden Indonesia saat itu, KH. Ma’ruf Amin, menyebut bahwa paradigma alon-alon waton kelakon harus ditinggalkan, agar kita tak tertinggal di dunia yang bergerak dengan sangat cepat ini.
Benarkah demikian?
Apakah 'pelan asal terlaksana' merupakan indikasi malas dan lamban? Rasanya tidak demikian.
Jawa adalah peradaban tua, salah satu yang tertua di dunia selain Sulawesi, Kalimantan, Sumatra, hingga Mesopotamia. Ia belum kenal kata sabar, sebab sabar adopsi dari bahasa Arab, ketika Islam datang ke nusantara secara bertahap. Belum kenal diksi-diksi lain seperti istiqomah, qona'ah, dan istilah-istilah serupa itu. Ya, tidak harus pakai bahasa Arab tentunya. Itu hanya contoh. Kita bisa contohkan diksi lain seperti konsisten, loyal, dsb. Saya kira istilah alon-alon waton kelakon adalah cerminan peradaban di masanya, dan tetap bisa ditafsir hingga hari ini. Ia bukan untuk ditinggalkan, tapi ditafsir.
Pelan tak apa asal tercapai. Dengan begitu kita menjadi mengerti batas kecepatan. Dalam kalimat itu ada ilmu ukur dan ilmu hitung. Seolah-olah manusia Jawa lampau telah mengenal apa dan bagaimana navigasi. Bisa navigasi darat, apalagi maritim.
Ayolah, epistem dan sains Barat baru saja terbangun dari tidur panjangnya, dengan puncaknya terjadi di abad ke-19. Sedangkan peradaban Timur sudah jauh-jauh hari menyusun epistem dan sains milik mereka sendiri. Tapi ini bukan tentang Barat dan Timur, bukan pula tentang perbedaan pendapat antara Sutan Takdir Alisjahbana yang ingin mengejar modernisasi di segala bidang, sementara Sukarno dan para pendiri bangsa lainnya memikirkan hal lain terkait budaya ketimuran. Ini lebih sederhana lagi, tentang falsafah alon-alon waton kelakon. Dipahami dengan tafsir sekarang, atau mutlak ditinggalkan?
Saya memilih untuk tetap menggunakannya. Pelan tak apa asal tercapai. Alih-alih meninggalkan falsafah sederhana itu, saya justru mengajak teman-teman agar bersedia memberi tafsir pada kalimat leluhur ini. Mari menjadi seperti Karin Iqbal, meskipun mengulang lagu Meru Betiriku lebih dari sekali ketika perform, tapi mereka tetap bisa menyelesaikannya. Misi berhasil.

0 comments