Berteduh dari Hingar Bingar Pencitraan

by - Desember 02, 2025

Berteduh dari hujan, berteduh dari hingar bingar pencitraan


SELASA pagi, 2 Desember 2025, sinar mentari menghangatkan desa-desa di kecamatan Kalisat. Tampak sekumpulan merpati pos dan merpati lokal getakan sedang berjemur. Para Columba livia ini memang mencintai cahaya matahari. Agak siang sedikit, saya manfaatkan cuaca itu dengan cuci-cuci dan segera menjemurnya. Ba'da Dzuhur, saya dan Hana mengeluarkan motor supra, dan sesuai rencana, kami meluncur ke Universitas Jember. Qorry 'Aina Damayanti punya gawe. Dia mengawal sebuah bazaar mahasiswa dan panggung kecil untuk tari dan musik. Itu semua terbungkus dalam acara berjudul, BRIWork Entrepreneur Fest. Digelar dua hari, Selasa dan Rabu, 2 - 3 Desember. 

Di antara tenda-tenda bazaar mahasiswa itu ada satu stan yang dijaga oleh Abd. Hakim dan kawan-kawannya. Mereka semua adalah anak-anak Mapala di FIB Universitas Jember. Ke sanalah saya dan Hana kemudian. Nongkrong di bawah pohon ketapang alias Terminalia catappa, makan kue dari panitia, dan memperbincangkan Indonesia. 

Qorry 'Aina datang. Dia pakai baju hitam dengan bawahan dominan merah, padu dengan kerudung warna merah darah yang dia kenakan. 

"Bismillah, semoga nggak hujan. Ini dah mulai mendung," katanya.

Mendengar ucapan 'Aina, tiba-tiba saya teringat tweet Zaki pada 30 November. Ia bilang, siklon tropis senyar menghilang, dan Jawa akan kembali diguyur hujan. 

Sepertinya hari ini giliran Jawa Timur bagian timur yang diguyur hujan. Tapi tentu saya tidak mengatakan itu pada 'Aina. Dia karyawan BRIWork Universitas Jember, dia pula yang bertanggung jawab atas jalannya acara hari ini dan besok, sedari pagi hingga pukul empat sore. 'Aina juga terlihat lelah, sebentar-sebentar keliling stan bazaar, sebentar-sebentar tengok persiapan musik di panggung. Ada tiga band yang bakal meramaikan BRIWork Entrepreneur Fest di hari pertama; The Jiret, Kahlo, dan Grey Castle. Langit masih mendung pekat ketika The Jiret memainkan lagu-lagunya. Namun setelah mereka turun panggung dan digantikan oleh Kahlo, hujan datang. Mula-mula gerimis, lalu intensitasnya semakin bertambah. Di penampilan pamungkas, Grey Castle, hujan turun tak terlalu deras, namun dengan disertai angin kencang. Zaki gitaris Grey Castle, ia ibarat menjadikan suara hujan sebagai tempo musiknya. 

Riri, satu-satunya perempuan dalam Grey Castle, di jeda sebelum lagu terakhir, ia merangkai kata untuk Indonesia, dan itu menyejukkan. 

"...yang terakhir ini mungkin bukan lagu, tapi pembacaan puisi. Sekarang sedang banyak hal yang terjadi di sekitar kita, teman-teman. Ada bencana yang terjadi di Sumatera menimpa saudara-saudara kita. Kita berdoa yang terbaik.

"Dan ingat teman-teman. Apa yang terjadi di Sumatera di beberapa waktu belakangan ini bukan hanya karena faktor alam, tapi karena hutan digunduli, karena tambang merajalela."

Grey Castle, terima kasih. 

Hari sudah sore, tapi saya dan Hana tak segera pulang ke Kalisat. Teman-teman di Kalisat berkabar jika di sana masih hujan. Berhitung cuaca, kami segera menerobos gerimis dan berteduh di Kedai WTC di JL. Belitung Jember. Teman-teman yang lain menyusul satu persatu. Kami berkumpul, melanjutkan perbincangan tentang Indonesia yang tadi telah kami percakapkan di stan bazaar anak-anak Mapala. Situasinya bisa dilihat pada foto di atas. 

Memang tak semuanya berkumpul di satu titik. Ada dek Tataq yang membelakangi foto ini, pakai kaos bergambar dua telapak tangan menyangga bumi. Di depannya ada Qorry 'Aina Damayanti yang sudah ganti kostum. Lalu ada Abd. Hakim tampak sedang dikawal ketat oleh Amel untuk mengerjakan skripsi. Di belakang mereka ada Haqi, drummer dari Balung. Kami ada di pojok kanan atas, menertawakan pencitraan demi pencitraan yang dilakukan bukan hanya oleh Zulkifli Hasan yang memikul beras, tapi juga oleh para elit lain.

Lalu tema obrolan kembali kepada angin, kepada siklon tropis senyar, dan tentang bagaimana sebaiknya kita menyikapi salah kaprah kebijakan politik dalam mengelola negara. Ia kami pilah menjadi solusi jangka pendek, menengah, dan solusi jangka panjang. 

Di hari terakhir BRIWork Entrepreneur Fest, mungkin saya akan ada di stan bazaar Mapala, lalu nonton duo Karin Iqbal menyanyikan lagu-lagunya. Di pelataran gedung R. Soedjarwo Universitas Jember itu, sungguh tempat yang baik untuk sejenak berteduh dari hingar bingar pencitraan. 

_____


Hari ini menjadi istimewa buat saya, 2 Desember 2025, setidaknya karena tiga hal. 

1. Kabar baik dari pasutri Lukman Hakim dan Lita, babarannya Lita diberi kelancaran. Anak kedua mereka adalah laki-laki. Si kecil Hana tentu senang memiliki adik laki-laki

2. Di hari yang sama, datang kabar serupa dari anggota kolektif Sudut Kalisat yang lain, yaitu pasutri Imron Anurrahman dan Farhatul Qolbi di Sukowono. Lahir buah hati mereka yang nomor dua, perempuan. Sama seperti Hana kecil, pastilah Fatih bahagia punya adik perempuan

3. Meskipun tidak sepenting nomor satu dan dua, hari ini ada kabar tentang blog saya yang lain yang berbasis wordpress. Urusan beli domain dan migrasi hosting sudah selesai, dibantu oleh Fahmi. Kini, selain punya blog berbasis blogspot di tamasja.net, saya juga punya blog dengan nama sendiri, yaitu rzhakim.net.

Tiga kabar itu terbilang mampu menyejukkan hati saya dan Zuhana AZ. Kami seperti sedang berteduh dari hingar bingar pencitraan para politisi, di atas masyarakatnya yang jelas-jelas sedang menderita. 

TAMASJA NET

0 comments