Sherin Fardarisa

by - Oktober 18, 2025

SHERIN satu angkatan kuliah dengan Karin, dan mereka sama-sama aktif di Imasind Universitas Jember. Ia adalah sebuah wadah bagi mahasiswa Sastra Indonesia di Fakultas Ilmu Budaya. Bedanya, Sherin berasal dari Bekasi, sedangkan Karin adalah arek Suroboyo nyel. Beda cara mengumpat, beda pula cara bercandanya. Barangkali justru itu yang bikin mereka berteman, dengan segala fluktuasi dan dinamikanya. 

Hari ini Sherin menjalani wisuda. Ayah, Mama, dan adik lelakinya datang ke Jember untuk menghadiri upacara peresmian kelulusan si sulung. Tentu senang bisa jumpa dan berbincang dengan keluarga Sherin di ruang ingatan, Kalisat. Anak-anak berkumpul sejak sore hingga larut malam. 

Saya memang tak datang di wisuda Sherin, tapi melihat prosesi itu di YouTube. Kami nonton rame-rame, ketika peserta wisuda nomor 34, Sherin Fardarisa dari Fakultas Ilmu Budaya, dipanggil dan menjalani prosesi wisuda. Setelah itu, tiba-tiba saja Sherin segera bersiap mengibarkan selembar kain putih. Sayang, rupanya aksi itu terendus oleh salah satu sekuriti dan Sherin segera 'diamankan.' Meskipun di YouTube, kami tertawa dibuatnya. Anin bilang, "Wah gak sido sangar." Saya ngempet ngguyu tapi tidak berhasil. 

"Pantesan wingi takon-takon kain putih nang aku," ujar seseorang yang saya lupa siapa dia. Yang lain menimpali, "Iyo, nang aku pisan takon-takon cet werno abang." 

Mungkin Sherin hendak bikin kejutan, atau hendak menghadiahi diri sendiri dalam peristiwa langka tersebut. Mungkin begitu. Meskipun gagal, kami yang di ruang ingatan berhasil ia kejutkan.

Saya bilang, "Meh viral, tapi gak sido." 

Perempuan berkulit kuning langsat itu suka sekali dengan segala hal yang berbau feminis. Saya menebak apa yang ditulisnya, yang tak sempat ia kibarkan itu tak jauh-jauh dari feminis. Rupanya tebakan saya benar adanya. Apa yang sesungguhnya Sherin tulis adalah tiga kata saja. Pecat dosen cabul. 


Sherin Fardarisa datang ke Sudut Kalisat pada empat bulan lalu, suatu hari di bulan Juni 2025. Saya merasa itu perjumpaan kami yang pertama. Tapi Sherin bilang, kami pernah jumpa di suatu acara.

"Waktu itu aku sudah tahu, oh ini dia Mas Hakim dan Mbak Hana."

Kesan pertama saya pada Sherin, arek'e umek gak enak meneng. Ada saja yang dilakukan. Dia mudah akrab dengan siapa saja. Apalagi dia sudah mengenal beberapa teman-teman di ruang ingatan yang sama-sama kuliah di Universitas Jember. Apalaginya lagi, dengan teman-teman Selokan Belakang. Saat Sherin datang, proses rangkaian KTD 10 Lanskap Bercakap sudah berjalan setengah tahun lamanya, sejak pertengahan Januari 2025. Ia masih akan berjalan hingga tiga bulan kemudian, sampai 14 September 2025. Ketika itu Qorry Aina' Damayanti sedang butuh tambahan Sumber Daya Manusia untuk membantu Aina' dan tim kecilnya di urusan menejemen keuangan dan kerja-kerja administratif. Begitu kira-kira. Kami dengar waktu itu, Sherin sebenarnya berencana pulang ke Bekasi. Selain dia memang berasal dari Bekasi dan keluarganya ada di sana, saya kira alasan lainnya adalah karena pacar Sherin juga anak Bekasi. Saya tidak tahu bagaimana Sherin sebelumnya, jadi yang ada di arsip otak saya hanyalah pada apa yang telah ia ceritakan. Bila harus menebak, mungkin Sherin juga butuh pulang untuk lanjut berproses menjadi perempuan karier, lalu kembali lagi ke Jember untuk menuntaskan wisudanya. Di sisi lain, saya kepikiran Aina' yang butuh teman tambahan. Maka, di suatu hari yang santai di bulan Juni itu, saya coba tawarkan sesuatu ke Sherin.

"Apa ada peluang Sherin menunda kepulangan dan membantu Mbak Aina di Sudut Kalisat?" Kira-kira demikian apa yang saya katakan, berdasarkan ingatan bukan berdasarkan catatan atau rekaman. 

Mulanya saya kira Sherin butuh waktu untuk merenungkannya. Lha kok ndilalah dia segera ambil keputusan besar saat itu juga. 

"Boleh, boleh Mas."

Wuih, gawat betul bocah ini, pikir saya saat itu. Orang Jawa bilang, kekerenan yang seperti itu disebut sak dheg sak nyet. Saya tentu tersenyum, lalu bilang, gak apa-apa dipikir dulu pelan-pelan. 

Sejarah kemudian membuktikan, Sherin Fardarisa turut dalam proses-proses Lanskap Bercakap. Dan dia memang mudah akrab dengan orang. Sherin seperti selalu punya cara untuk menciptakan kesan pertama. Tak lama kemudian, datang kurir mengantar paketan. Sebuah tab milik Sherin. Katanya, biar memudahkan menemani proses Aina. Sekali lagi, pakai istilah njemberan, gawat koen!

Ya. Sherin melakukannya. Dia turut berproses di rangkaian acara Lanskap Bercakap yang sungguh panjang, hasil kerjasama Sudut Kalisat dengan warga, Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, dan para pihak. 

Ada beberapa rentang waktu dimana saya dan Hana tidak membersamai Sherin, tidak pula mengerti bagaimana proses dirinya di keseharian, apalagi ketika kami menjadi pendamping seniman selama duabelas hari di Perkebunan Kalijompo. Jika tidak keliru, itu terjadi sejak 22 Agustus sampai 2 September. Puncak acara baru dilakukan pada 13 dan 14 September 2025. Di akhir September hingga 4 Oktober lalu kami ke dusun Sukamade. Lagi-lagi, saat itu saya dan Hana tidak tahu bagaimana proses Sherin. Namun sejauh yang saya ingat, Sherin justru berusaha beradaptasi, dari sekian acara yang sangat padat lalu njegleg ke suasana santai di ruang ingatan. Perubahan suasana itu tentu dialami oleh semua teman-teman yang turut berproses. Oktober adalah bulan dimana Sherin sering terlihat tidur di siang hari, lalu dalam sepekan terakhir dia pakai waktunya di Jember kota, di lingkungan Kampus Bumi Tegalboto. Rasanya saya nyaris tak pernah menghubunginya melalui Whatsapp. Biasanya itu dilakukan oleh Hana. Sayangnya Whatsapp Hana yang ditanam di ponsel saya ke-logout sendiri. Begitu juga yang dia tanam di tab baru. Mungkin karena saya terlalu banyak memelihara Whatsapp Group.

Sepertinya Sherin terlalu memikirkan hari H wisudanya. Dia tampak sering ngglembosi. Geddur, kalau kata orang Madura. Lesu. Terlihat benar dia sulit konsentrasi. Itulah mengapa saya turut merasa bahagia di hari ini, hari dimana Sherin diwisuda dan ditemani oleh orang-orang terkasih di hidupnya. 

Sore pukul 15.47 saya kirim pesan, "Selamat menjadi sarjana, Sherin." Saya sertakan pula emoticon tersenyum dan emotikon jempol. 

Sherin segera membalasnya. Dia juga mengabarkan jika keluarganya akan singgah di ruang ingatan, Senang mendengar kabar bila orangtua dan adiknya akan singgah di ruang ingatan. Bagaimanapun, kami harus menjamunya. 

Kebahagiaan kecil ini menjadi sempurna manakala saya dapat menikmati kopi, kretek filter, dan berbincang-bincang dengan Ayah Sherin. Mamanya membawakan kami kue. Adik lelaki Sherin, yang berjarak empat tahun lebih muda darinya, dia terlihat mudah adaptasi ruang dan lebih banyak diam. Ia punya postur tubuh yang tinggi, jauh melampaui Sherin. 

Terima kasih, keluarga Sherin. 

Untuk Sherin, sekali lagi, selamat yaaa. Jalan masih panjang, fokus fokus fokus! Raih mimpimu. 

TAMASJA NET

0 comments