Hamdan Tamimi
HAMDAN TAMIMI tiba di Kalisat pada pukul satu siang. Ruang ingatan kosong, tidak ada orang sama sekali, katanya. Kami baru jumpa Hamdan di sore hari, ketika Mas Budi baru selesai memberi makan merpati, ayam, dan burung-burung. Ada kabar kehilangan yang Mas Budi sampaikan. Dia bilang, "Burung perkutut yang di aviary lepas empat Mas. Jadi yang ada di aviary tinggal satu ekor saja." Saya bilang, tidak apa-apa.
Sudah dua hari ini Hamdan pulang ke rumahnya di Genteng, Banyuwangi. Lelaki kelahiran 22 Agustus 1999 ini dua bersaudara, Hamdan anak bungsu. Kakaknya perempuan, namanya Ulin Khurriyah. Dia lulusan psikologi UIN Sunan Ampel Surabaya. Ulin Khurriyah menikah dengan Ahmad Sobirin, laki-laki asal Pati, Jawa Tengah. Ulin dan Sobirin saling kenal ketika di Pondok Pesantren Tamrinatul Wildan, Banyuwangi. Mereka dikaruniai dua buah hati, Muhammad Nabih Rumi Zarafshan dan Syanin Insyira Hayyana.
Sama seperti Muhammad Iqbal, Hamdan lulus tahun ini, namun dua-duanya belum wisuda. Mereka masih butuh ikut tes toefl agar bisa daftar calon wisuda.
Ibunya Hamdan telah meninggal dunia pada 4 Juni 2024. Di masa hidupnya, sekali waktu Hamdan bercerita tentang beliau, Dariyah namanya. Ia adalah Ibu yang penuh kasih dan mencari penghasilan dengan berjualan nasi kuning di pagi hari. Menjelang pukul sepuluh ia akan berjualan di sekolahan. Jual makanan ringan seperti cireng, soto dibungkus plastik, tahu pentol, dan gorengan.
Saya dan Hana tak sempat mengenal Almarhumah Ibu Dariyah secara langsung. Begitu juga dengan Bapaknya Hamdan, Abdul Hadi, laki-laki kelahiran Kedunggebang, Tegaldlimo, Banyuwangi. Namun sepertinya kami pernah mengalami peristiwa satu gerbong kereta api dengan Ulin Khurriyah, kakak kandung Hamdan. Waktu itu saya dan Hana hanya menebak-nebak, "Iki paling mbakyune Hamdan."
Teringat Hamdan, teringat pula pameran arsip dan ingatan warga di Kesilir, Banyuwangi. Pameran itu berjudul, "Alas dadi kutho, kutho dadi alas." Berlangsung dari 30 Januari hingga 1 Februari 2020 di depan Taman Lentera Wangi, Desa Sumbermulyo, Banyuwangi. Di sana saya sesekali jumpa dengan Hamdan Tamimi, jika tidak keliru sejak masa persiapan pameran di penghujung tahun 2019. Dia membantu Rifandi S. Nugroho di acara itu.
Sore sebelum hujan.
Hana tampak menikmati sore yang mendung dengan berlama-lama di green house anggrek miliknya yang menyatu dengan kolam ikan koi. Mas Budi bikin api unggun tepat di sisi utara green house. Saya memangkas beberapa helai ranting yang memanjang, hampir semuanya dari lahan Tamasya Ekosistem, sebuah arboretum dan lahan bekas penelitian aforestasi dengan menggunakan Metode Miyawaki Forest. Hamdan sendirian di ruang ingatan. Sesekali saja dia ikut keluar di halaman belakang tamasya ekosistem.
Belum lagi selesai berkebun dan bikin api unggun, hujan tiba-tiba turun dengan derasnya.
Ba'da Maghrib, kami hanya bertiga di ruang ingatan. Ba'da Isya barulah Hafid, Novia, dan si kecil Arunika datang. Saya meminta bantuan Hafid untuk melihat mesin motor Supra X 125 keluaran tahun 2012. Seperti ada yang keliru dengan motor kami. Hafid menelepon Imron, lama sekali. Mereka mendiskusikan keadaan motor itu. Lalu diperoleh diagnosis bahwa oli motor kering. Padahal ia baru ditap pada akhir September lalu, sebelum kami berangkat ke Sukamade.
"Oline melu pembuangan nang knalpot, Mas. Soale enek masalah nang seker."
Mungkin dua hari lagi, motor itu akan dibawa oleh Imron untuk dibetulkan.
Aru rewel, minta ngeng. Ibunya bilang, arek'e wes ngantuk. Tak lama kemudian mereka kembali pulang ke rumahnya di Timur Kawedanan Kalisat. Tak sampai duapuluh menit, datang Mas Budi dan Dadang, mereka segera bikin api unggun di halaman belakang dekat green house. Melanjutkan apa yang tadi sore tertunda oleh hujan deras.
"Mejo-mejo iki padahal mari tak resik'i tapi kok akeh maneh barang-barang sing numpuk."
"Aku gak ngerti Mbak, kan aku gektasan teko," begitu jawab Hamdan.
Saya bilang ke Hana, "Wingi mari resik-resik. Mungkin barang-barange ketumpuk maneh."
"Oh iyo yo."
Kamar cewek juga amburadul. Pengap. Hana membuka pintu dan jendela, lalu menyalakan kipas angin merek Miyako. Itu kipas angin masih gres. Sik anyar. Lalu Hana melipat selimut, menata bantal guling, dan membersihkan kasur dengan penebah. Dia bilang, meskipun kamar cewek aman dari kutu busuk, kalau keadaannya pengap dan lembab, bisa saja berpotensi jadi markas kutu. Ah, urusan kutu busuk ini memang sangat bahaya laten. Ia tak akan mungkin selesai hanya dengan penjemuran, insektisida, kapur ajaib, aroma terapi, pemusnahan, dan sedot debu saja. Ia butuh strategi.
Telur kutu busuk dapat menetas antara 7 hingga 11 hari, masih ditambah sepekan untuk pembesaran. Setidaknya butuh 18 hari bagi si tinggi untuk siap mencari mangsa. Kutu busuk muda ini juga sangat cepat melakukan reproduksi. Kita butuh 2 x 18 hari untuk melakukan siaga satu. Kemunculan kutu busuk kali ini diketahui terjadi pada 12 Oktober, ketika ditemukan dua ekor kutu busuk menggigit Karin. Maka untuk kesiagaan yang pertama butuh waktu setidaknya hingga 17 November 2025, dilanjut dengan 36 hari yang kedua, sampai pada 23 Desember 2025. Untuk mencari titik aman, mari kita bulatkan menjadi 31 Desember 2025 saja.
Besok pagi Hamdan Tamimi berencana menjemur kasur, sebelum dia berangkat kerja jaga toko di lingkungan BRIWork Unej.
Sampai saya menuliskan ini, di ruang ingatan hanya ada kami bertiga; saya, Hana, Hamdan. Sedangkan Mas Budi dan Dadang tetap di posisi api unggun. Seharian ini Aldi ada di rumahnya, menemani Mama. Malam yang dingin, Hamdan Tamimi bikin dadar jagung untuk camilan kami. Bersama secangkir kopi pahit, sungguh nikmat sekali.
0 comments