Bebas dari Penjara
DALAM permainan monopoli ada sebuah kartu yaitu kartu 'bebas dari penjara,' disebut juga sebagai kartu kesempatan. Di sana ada tulisan, "Kartu ini harus disimpan. Dipakai bila perlu atau boleh dijual." Sebagaimana perasaan seseorang sekeluar dari penjara yang banyak digambarkan oleh film, kartu bebas dari penjara adalah kabar baik. Tapi ini bukan tentang permainan papan monopoli, bukan tentang melangkah mengikuti hasil kocokan dadu, bukan pula tentang kartu yang bisa dijual itu. Ini adalah tentang seseorang bernama Andika Aji Syahputra.
Keluarga terdekat memanggil Andika Aji Syahputra dengan Uta. Teman-teman sepermainannya lebih akrab memanggilnya dengan nama Putra. Dia lahir di Kalisat, 3 November 1999, bungsu dari dua bersaudara. Ayahnya bernama Nanang Suwandono, sedangkan Mamanya bernama Tri Setyo Anggraini. Nanda Putri Pangestu adalah nama kakak perempuan Putra. Saya mengenal Putra melalui Ahmad Hafid Hidayaturrahman, dan ikut memanggilnya dengan sebutan Putra, sebagaimana Hafid memanggilnya.
Putra baru kemarin keluar dari penjara. Senin, 27 Oktober 2025.
Ini kali kedua Putra keluar dari penjara. Mula-mula ia masuk penjara pada Juni 2021, keluar pada Januari 2022. Rupanya saat itu Putra hanya sepuluh bulan menghirup udara di luar penjara. Di tahun yang sama ketika Putra ulang tahun, 3 November 2022, Putra ditangkap oleh petugas atas kasus yang berbeda. Kasus pertama karena obat, kasus kedua terkait sabu. Sayang sekali, padahal ketika itu Putra baru saja menikah siri dan baru saja memiliki pekerjaan di sebuah konter ponsel di JL. Jawa. Impiannya hancur oleh dadu yang ia kocok sendiri.
Malam ini Andika Aji Syahputra datang ke ruang ingatan, di sebelah rumah saya. Dia terlihat segar. Syukurlah bila Putra sehat.
"Kemarin, dari penjara masih harus ke kejaksaan dulu. Baru kemudian ke Bapas. Dari Bapas saya naik gojek ke Kalisat. Saya memang tidak bilang-bilang ke orang rumah. Sampai rumah saya langsung tidur. Ya tentu mereka kaget mengetahui saya sudah ada di rumah."
Bersama Muhammad Iqbal, Putra memetik gitar dan memainkan beberapa lagu kesukaannya. Rupanya mereka berdua teman satu angkatan di SMA Negeri Kalisat dan sama-sama pernah menimba ilmu di Lab Teater 56 Smankal. Sementara mereka berduaan, Hana sibuk di depan tab. Dia duduk di sudut ruang ingatan dekat dapur. Farhan baru datang. Dua teman dari Dewan Kesenian Kampus, Zaki dan Albi sudah pamit pulang. Karin dan Sherin yang sama-sama baru hari ini pulang ke ruang ingatan, mereka sedang mempersiapkan makan malam bersama Aldi. Hamdan Tamimi tidur, mungkin kecapekan. Tadi dia kehujanan sepulang kerja.
Hafid, Novia, dan Arunika sudah sedari ba'da Maghrib tadi pulang ke rumahnya. Sore mereka masih di sini, turut menemani lima adik-adik dari Smankal yang sedang melakukan wawancara seputar Sudut Kalisat. Katanya, mereka ada tugas itu dari guru Bahasa Indonesia.
"Sudah ketemu Mas Apex?"
"Sudah Mas. Sebelum ke sini saya ke Mas Apex dulu."
Apex adalah panggilan untuk Hafid, meskipun orangtuanya tetap memanggilnya Hafid.
Untuk Andika Aji Syahputra, tetap tenang dan tetaplah bersemangat. Paling penting adalah doa orangtua dan kakakmu. Familia supra omnia.

0 comments