Eko Karya Bagus Pribadi
Foto oleh Sherin Fardarisa. Qobe Mie Kalisat, 21 Oktober 2025
Laki-laki yang tertawa paling kanan sendiri adalah Eko Karya Bagus Pribadi, adik saya. Papanya adalah adik kandung Ibu saya. Semua orang di keluarga kami memanggilnya Bagus, saya pun begitu. Dulu, oleh teman-temannya dia pernah dipanggil Sumanto. Dia suka alat musik drum sejak kecil. Beranjak remaja, Bagus jatuh cinta pada Dream Theater, apalagi pada sosok Mike Portnoy. Namanya di akun sosial Facebook diganti bukan lagi Eko Karya Bagus Pribadi melainkan Bagus Portnoy. Di akun sebelumnya, namanya adalah Wendy Portnoy.
Bagus kelahiran Genteng, Banyuwangi, 21 November 1987. Dia punya masa kecil yang ceria, suka bercerita, dan menjadi kesayangan Papa Mamanya.
Di usianya yang masih belia, Bagus menikah. Ia menikahi gadis Jakarta, Desi namanya. Bersama Desi, Bagus memiliki seorang putra bernama Uzel. Kini Uzel telah sekolah kelas satu di sebuah STM di Jakarta. Bersama istrinya yang sekarang, Eka, Bagus memiliki buah hati, juga laki-laki, namanya Kenzo. Masih Taman Kanak-kanak. Bagus suka sekali membubuhkan 'Arthurian Portnoy' pada nama kedua buah hatinya.
Pada Januari 2014 ketika Uzel masih kecil, saya pernah mengunjungi Bagus dan Desi di Jakarta. Kebetulan waktu itu di sana juga ada Tante Anna, adik kandung Ibu saya yang lain selain Papanya Bagus. Rumah yang nyaman. Desi pelihara dua ekor anjing di rumahnya. Salah satunya jenis anjing poodle.
Hari ini Bagus dan Eka datang berkunjung ke Kalisat. Dia kirim foto motornya sudah ada di depan rumah kami, pukul 13.32. Sayang saya baru bangun satu setengah jam kemudian. Dia dan Eka memilih duduk di depan rumah kami. Berkali-kali Iqbal menawarkan untuk masuk saja ke ruang ingatan, tapi Bagus bilang, enak di luar saja biar tidak gerah. Bagus memang anti gerah, sejak kecil. Dia tak bisa tidur tanpa kipas angin. Bagus dua bersaudara. Adi, adiknya, kini ada di Bali untuk bekerja. Anak istrinya ada di Genteng, Banyuwangi. Sepertinya Adi pun begitu, tak bisa tidur bila tak ada kipas angin. Bagus suka sekali dengan merek kipas angin Miyako. Saya disarankan untuk beli merek itu saja, ketika dulu kami butuh beli kipas angin.
Foto di atas didokumentasikan ketika kami ajak nongkrong Bagus dan Eka di Qobe Mie Kalisat, di desa Ajung. Saya ajak pula Karin dan Sherin. Iqbal baru saja tertidur di lencak di ruang ingatan. Dia memang belum tidur, hampir duapuluh jam. Tubuhnya menuntut hak untuk istirahat. Mungkin begitu.
Selesai urusan perut di Qobe Mie, Bagus dan Eka pamit pulang, motoran dari Kalisat ke Banyuwangi. Mereka tak jadi menginap karena ada hal mendesak, jadi harus segera pulang.
Bagus, Eka, terima kasih.

0 comments