Atas Nama Icen

by - Oktober 19, 2025

Suasana Kedai Sinisuka tampak ramai di Minggu sore mendekati senja. Jalanan di depan kedai dipenuhi oleh lalu lalang kendaraan roda dua. Sesekali saja ada mobil melintas. Di sisi kanan kedai, berkumpul teman-teman Sudut Kalisat. Saya dan Hana duduk paling pojok. Di depan kami ada Mas Nur Riyono dan Anon, lalu di samping kami ada Elsa, Vindri, juga Karin. Di meja yang lain di balik punggung Anon, ada Aldi, Wildan, Hamdan. Novia Suryandari dan Apex, juga si kecil Aru datang terlambat. Apex baru saja suntik. Jadi, sepanjang perjalanan motor Kalisat - Bondowoso, Novia yang pegang kemudi. Apex di jok belakang sambil menggendong Aru. 


Datang paling akhir adalah Iqbal. Dia sendirian, berangkat dari Biting. 


Di meja sebelah, teman-teman dari Kolektif Akaretak terlihat sedang bercengkerama. Mereka datang dari Jember pakai tiga motor; Ivan dan Nabila, Adam, dan dua lagi.


Suasana terpecah manakala pihak kedai memanggil pemesan. 


"Atas nama Icen."


Nama yang dipanggil tentu saja adalah M. Fabian Aldiano. Keluarga besarnya memanggil dia Aldi dan tak ada yang memanggilnya Icen. Ia adalah nama Aldi di masa kecil. Katanya, karena dulu Aldi suka film laga yang dibintangi oleh Jacky Chan. 


Teman-teman telah terbiasa mendengar nama itu. Tidak ada yang aneh, memanggil Aldi dengan panggilan Icen. Toh Aldi sendiri yang memproklamirkannya, setidaknya sejak lebih sepuluh tahun lalu, ketika Aldi masih duduk di bangku sekolah di SMA 10 Nopember. Tapi entah, saya hanya terkejut saja mendengar pihak kedai memanggilnya, "Atas nama Icen."


Lima bulan lagi Aldi akan genap berusia 28 tahun. Usia yang matang untuk seorang laki-laki, meskipun hidup ini bukan tentang cepet-cepetan, kecuali dalam kebaikan. Fastabiqul Khairat. Bila di Alquran, berlomba-lomba dalam kebaikan tertulis jelas di Al-Baqarah 148. 


Tentang 'atas nama Icen,' saya jadi teringat perbincangan kami kemarin di dapur rumah kami, tepat di sisi timur ruang ingatan. Ia adalah sebuah perbincangan yang panjang. Atau lebih tepatnya, saya menjadi pendengar yang khusuk atas segala keluh kesah Aldi. Ia membicarakan kehidupan, kegelisahan, ketakutan-ketakutannya, rasa cinta yang singgah secepat itu, dan harapan atas hari-harinya ke depan. Ya, itu baru kemarin, masih hangat dan belum lagi lewat 50 jam. Waktu itu saya sedang ada di depan laptop, dan Aldi duduk di tangga. Sebegitu serius Aldi bercerita hingga saya merasa perlu untuk menutup laptop.


Tidak banyak yang bisa saya sampaikan ke Aldi. Saya lebih memilih untuk banyak-banyak mendengarkan. Sesekali ketika jeda, saya bilang, "Ayo opo maneh sing arep koen ceritakne, ngomong ae, gakpopo. Tentang sembarang wes, gakpopo, tak rungokno."


Mengenai harapannya, saya bilang ke Aldi. 


"Sesok PR-mu nggolek kontrakan kios nang pasar Kalisat. Aku wes sing arep memperjuangkan iku."


Kini kami berkumpul di Kedai Sinisuka Bondowoso. Aldi belum membuka omongan tentang sewa kios di pasar tradisional. Bahkan hingga saya gabut dan menuliskan ini di sudut kedai paling selatan. 


Sesekali para perempuan keluar naik motor sambil membawa Aru ke alun-alun Bondowoso. Jarak kedai dengan alun-alun memang dekat. Kedai Sinisuka ada di barat alun-alun Bondowoso. Mungkin hanya sekitar 150 meter saja. Sampai rombongan itu pulang, saya tak tahu kabar tentang rencana sewa kios di hari ini. 


Rombongan Kolektif Akaretak telah kembali pulang ke Jember. Sebentar lagi mungkin kami akan menyusul. Pikiran saya masih terganggu dengan kata-kata itu. Atas nama Icen. 


Akankah Aldi selamanya merasa remaja? Semoga saja tidak demikian. 


Saya masih percaya, Aldi adalah seorang laki-laki yang dapat memegang kata-katanya, seperti sepuluh tahun lalu ketika saya mengenalnya. 


Ditulis di Kedai Sinisuka, 19 Oktober 2025 

TAMASJA NET

0 comments