Begitu Berat Sampai Tak Bisa Kukenang

by - Oktober 23, 2025

Seorang perempuan bernama Kardiyati. Bila Anda pencinta majalah-majalah klasik di sekitar era 1964 - 1974, Anda tentu akan mengerti bahwa Kardiyati adalah sosok cantik di masanya. Gadis nomor dua dari lima bersaudara ini memang suka tampil berbeda. Barangkali ia memang sudah bawaan dari kedua orangtua kandungnya, Ngadimin Sumodihardjo dan Amini. 




Ketika Kardiyati Menikah, 21 Januari 1974


Lihatlah wajah Kardiyati ketika menikah, dia tampak riang gembira dan penuh pesona. Sayang tak ada yang ingat siapa fotografernya. Ada foto-foto lain, tentu saja, dan Kardiyati tetap tampil cantik. Bahkan bila ia dilihat di hari ini. Tak ada yang berubah dari gurat-gurat itu. 

Suatu hari di pemula pekan keempat di bulan Mei 2008, Kardiyati meninggal dunia di RSUD dr. Soebandi Jember. Siapa yang menyangka, ia begitu membekas di hati. 

Tak lama setelah Kardiyati berpulang untuk selamanya, di tahun itu juga, saya ciptakan sebuah lagu. Apa jadinya? Bukan lagu untuk Kardiyati, justru lahir lagu berjudul 'Untuk Bapak.' Mungkin saat itu saya berpikir, "Kepada yang masih bisa kuajak berbincang, aku tak ingin terlambat untuk mengatakannya." 

Kelak sepuluh tahun kemudian, orang yang menjadi tokoh utama dalam lagu 'Untuk Bapak,' dia juga meninggal dunia. Betapa cepat saya bikin buku untuk dirinya, berjudul, Durahem. Ia diterbitkan sejak 5 Maret 2020.

Mengapa tak bisa mengukir sesuatu yang nyata untuk Kardiyati? Entahlah, saya tidak tahu. Saya memang akhirnya punya lagu untuknya, tapi saya tak berkenan untuk proses aransemen dan recording, hingga kemudian beberapa waktu lalu saya merasa butuh untuk mendokumentasikan lagu yang selalu Kardiyati senandungkan. Setiap hari. Setiap waktu. Setiap saya memintanya.


"Buyung anak nan ku sayang,
tidurlah hari sudah malam,
esok pagi menanti,
bersama teman bermain lagi." 


Lagu itu hanya sebentuk dokumentasi saja. Hanya saya tambahkan lagu pembuka di sana. Lagu sebelumnya, yang belum berkenan saya record, kadang lagu itu saya nyanyikan sendiri, ketika Hana telah tidur. 

Lalu sebuah drama series hadir di hidup saya, berkat Titania Elsa. You and Everything Else. Dari sana saya tahu, setidaknya secara samar-samar, bahwa kehilangan Kardiyati adalah peristiwa yang begitu berat. Sebegitu beratnya sampai tak bisa saya kenang. 

Sebelum mengenal Zuhana, hanya ada tiga perempuan terdekat di kehidupan saya, ketiga-tiganya memanjakan saya secara luar biasa dengan cara yang berbeda. Mereka adalah Kardiyati, Rohim Tudiyah Indah, dan Sulami. Di luar ketiga perempuan itu, tentu masih ada lagi lainnya, di lapis berikutnya. Dari ketiganya, Kardiyati menduduki peringkat nomor satu. Dia pemarah, mengomel setiap saya melakukan kecerobohan, dan memanjakan saya habis-habisan. Sebegitunya dia memanjakan saya, hingga sesekali terjadi pertengkaran hebat antara dirinya dengan pasangan hidupnya, Abdul Rohim, sebab Abdul Rohim tak benar-benar ingin saya tumbuh seperti itu. 

Sial, seharusnya masih ada Amini. Tapi saya tak begitu mengingatnya dengan baik. Bila harus mengingatnya, peristiwa paling melekat dalam hati ini hanyalah ketika Amini bertengkar dengan Kardiyati. Saya juga pernah menulis, Amini adalah anak tengah dari tiga bersaudara; Ning Aryati, Amini, dan Kartini. Semoga ada waktu untuk menulis kisah Amini. Pasti ada sesuatu yang baik tentang Amini yang bisa saya ingat. Saya percaya itu, sebab dari rahimnyalah Kardiyati dilahirkan. 


Catatan tambahan.


Narasi berjudul begitu berat sampai tak bisa kukenang lahir seusai saya menonton drama series dari Korea Selatan, You and Everything Else, dan ketika saya menyadari bahwa blog personal sebelumnya, rzhakim (titik) blogspot (titik) com terhapus permanen karena salah pencet. Saya berharap ia dapat saya kembalikan seutuhnya, entah bagaimana caranya, sebab di sana ada satu artikel panjang tentang Kardiyati, Ibu saya. 

TAMASJA NET

0 comments