Setinggi Langit
Aku sering membual, ruang ingatan dicita-citakan menjadi sebuah ruang aman bagi siapa saja. Dia bebas dari penghakiman, diskriminasi, atau bahkan setidaknya ancaman, baik fisik, emosi maupun psikologi. Ya, seperti itulah yang dicita-citakan bersama. Aturan mainnya sederhana. Semua berhak untuk diberi rasa hormat, berhak merasa aman, dan berhak mendapat dukungan yang sewajarnya. Juga, tidak ada tempat untuk kekerasan seksual. Sungguh sebuah cita-cita yang layak untuk diperjuangkan secara bersama-sama. Nyatanya, aku tak bisa memberi ruang aman kepada si kecil Aru atas bahaya laten kutu busuk. Bangsat betul si pemilik nama ilmiah Cimex Iectularius L. ini.
Orang Jawa menyebutnya tinggi. Dalam bahasa Madura, ia diberi nama gletah. Orang-orang banyak menyebut si bed bug ini sebagai kutu kasur. Kadang keliru diartikan sebagai tungau.
"Awas Mas, di kursi merah ini juga banyak tingginya ternyata." Begitu kata Mas Budi. Ya Tuhan, padahal kami sudah menyatakan perang pada si kutu kasur ini sejak empat hari lalu, 12 Oktober 2025. Menguap sudah kegembiraan ngopi senja tadi, di Tepi Terminal Kalisat, bersama Karin, Iqbal, Bude Hana dan Anon. Kegembiraan kecil itu direnggut oleh bayang-bayang ancaman koloni Cimex lectularius L. (Hemiptera, Cimicidae) yang bisa bertahan hidup di lipatan-lipatan pakaian, jaket, celana pendek, sudut meja kursi yang bahkan serba kayu, hingga celah-celah luka di dinding tembok.
Novia Suryandari datang sebentar ke ruang ingatan. Sayang Aru tak ikut, dia sudah tertidur pulas. Hafid sedang sibuk, ada garapan di kediaman Mas Krisna. Tapi kami sudah bikin janji, tiga hari lagi akan berkunjung ke Kedai Sinisuka di Bondowoso, milik Wildan Ariyanto.
Aku sering membual, ruang ingatan adalah ruang aman. Nyatanya ia belum aman dari kutu busuk.
Dalam sebuah jurnal akademis, Eva Panagiotakopulu dan Paul C. Buckland bilang bahwa kutu busuk telah mengganggu manusia setidaknya selama 3550 tahun, sebagaimana ditunjukkan oleh contoh-contoh dari Tell el-Amarna, sebuah situs arkeologi di Mesir. Jurnal itu berjudul, "Cimex lectularius L., the common bed bug from Pharaonic Egypt." Aku sebenarnya tidak peduli, berapa lamakah kutu busuk itu mengganggu manusia. Aku hanya peduli untuk tidak membual kepada Aru, bahwa ruang ingatan dapat menjadi ruang aman baginya. Entah bagaimana caranya, bahkan meskipun aku harus meletakkan harapan setinggi langit tanpa menapak tanah sekalipun. Jika si kutu busuk bisa sesombong itu bertahan hidup, aku pun bisa lebih sombong lagi mengakhiri hidupnya, menghancurkan habitatnya, baik di ruang ingatan, rumahku, dan di habitat yang berpotensi membahayakan Aru.
Semisal aku seorang panglima perang, mungkin sudah aku keluarkan maklumat perang yang hanya berisi tiga poin saja.
MAKLUMAT PERANG
1. RI telah diserang
2. Pada 12 Oktober 2025 RI telah melancarkan perlawanan dengan menggunakan senjata kapur ajaib serta sinar matahari. Semua lini menjalankan puputan, berperang hingga titik darah penghabisan
3. Jika kalah dari kutu busuk, RI harus bubar. Sebab kalah artinya tak ada ruang aman bagi Aru, dan kita semua hanya pandai membual.
Begitu kira-kira, semisal aku adalah seorang panglima perang. Aku berpikir, ini sangat penting untuk Aru, untuk Aru-aru yang lain, baik yang telah ada di dunia ini maupun Aru-aru lain yang belum lagi dilahirkan.
Tapi ooh, rupanya aku bukan seorang panglima perang, cuk! Aku hanya sedang lapar.

0 comments