Ada Sekian Catatan Tentang Sroedji di Sana

by - Oktober 25, 2025

KEHILANGAN adalah hukum alam. Sunnatullah. Begitulah cara saya menghibur diri dalam menghadapi kenyataan, bahwa saya telah kehilangan blog personal RZ Hakim. Tapi kemudian saya ingat, ada banyak catatan tentang Letkol Moch. Sroedji di sana. Satu di antaranya adalah hasil wawancara saya dengan Almarhumah Elok Satiti Susrama, perempuan kelahiran 3 November 1934. Saya memberinya judul, "Sroedji Itu Teman Main Badminton Bapak Saya." Bila melihat jejak yang masih melekat di mesin pencari, meskipun ketika diklik Anda akan jumpa dengan tulisan 'blog telah dihapus,' di sana tertulis bahwa saya mengunggahnya pada 10,5 tahun yang lalu. 



Di masa hidupnya, Ibu Elok Satiti pernah memberi saya foto Moch. Sroedji ketika usai bermain badminton di Kreongan, Jember, di tahun 1941. Saya repro foto tersebut pada 15 April 2015. 

Ada juga catatan tentang Almarhum Ibu Roekanti, perempuan kelahiran Ngawi, 26 Januari 1918. Putri tunggal dari pasangan Sarjono dan Masmunah ini baru ke Jember pada 1932, ikut orangtua. Ayahnya yang seorang pegawai kehutanan di tahun tersebut dipindahkan ke Jember selatan. Pada 1936 Ibu Roekanti menikah dengan seorang laki-laki bernama Koesdi. Bapak mertuanya bernama Wiryo Kusumo, kakak kandung dari Bupati Jember di masa itu, Notohadinegoro. Koesdi adalah Komandan Satpol PP Jember yang pertama. 

Catatan dari Gus Dur juga tersimpan di sana, di blog personal rzhakim. Syukurlah dulu catatan itu pernah diminta dan digandakan oleh salah satu putrinya. 

Arsip tertulis hasil wawancara saya bersama para prajurit yang pernah berjuang di bawah komando Letkol Moch. Sroedji memang bertebaran di medsos dan blog gratisan. Bukan berupa jurnal akademis. Di antaranya tersimpan di blog yang terhapus permanen itu. Saya menyayangkannya. Namun begitulah, manusia butuh katup pelepas untuk bertahan hidup. Saya mencari penghiburan dengan kalimat-kalimat klise semacam, "Tak ada yang abadi," dan sebagainya. 

Tadi siang, saya dan Hana menghadiri acara tahlil 'Mengenang 1 Tahun Alm. Erwin Zulfikar Faisol Bin Faisol Bin Mahfudz Shiddiq" di Auditorium R. Sumitro RRI Jember. Ia dihadiri oleh K. H. Muhammad Balya Firjaun Barlaman dan juga Gus Saiful Ridjal Abdul Chalim alias Gus Saif. Saya datang terlambat dan duduk dekat Mas Wahyu Giri. Di kejauhan, ada saya lihat wajah Mbak Etty Dharmiyatie Zuydewijn, istri mendiang Mas Erwin. Dari wajahnya saya mengerti, kehilangan tak pernah mudah. Tak seklise kalimat-kalimat yang tadi telah saya tuliskan. Akan tetapi detik terus berjalan menuai usia kita. Kita butuh pandangan hidup orang Mandar, jatuh satu kali berdiri dua kali. 

Sedikit tentang Gus Saif. Beliau masih tampak sehat dan enerjik, meskipun pada pagi hingga siang harinya ada launching dan bedah buku 'Hari-hari Revolusi Indonesia,' sebentuk catatan harian milik Ayahandanya, KH. Abdul Chalim Siddiq. 

Dalam buku itu, ada tertulis juga sekelumit catatan harian dari KH. Abdul Chalim Siddiq tentang pasukan Sroedji di tahun 1947. 

Saya, Hana, dan Iqbal baru saja tiba di Kalisat. Hari sudah larut. Kami baru saja menghadiri sebuah acara di Seger Nusantara di desa Jatian dekat Kalisat. Ia bagian dari rangkaian acara Sastra Timur Jawa. Semesta Ingatan: Trauma dan Imaji Kebebasan. Nama acara malam ini adalah Temu Karya Serumpun. 

Sepulang dari acara itu, saya buru-buru membuka laptop dan menuliskan ini. Tampak sekali bila tulisan ini tergesa-gesa, ia tidak berurutan. Hanya ada satu yang ingin saya tanamkan pada diri sendiri, yaitu semoga saya tidak hanyut dengan kehilangan blog personal rzhakim. Semoga masih bisa berkarya dan bila perlu menyusun ulang apa yang telah hilang, bahkan meskipun berdasarkan ingatan. Ia juga berlaku pada sekian catatan Sroedji yang turut hilang di sana. 


Catatan ruang ingatan:


Iqbal ikut ke ruang ingatan. Di ruang ingatan malam ini hanya ada Aldi dan Mas Yon. Mereka punya garapan plamir tembok ruang musala agar bebas dari kutu busuk. Karin masih di Jember, sejak kemarin. Dia berangkat bersama Resti. Sedangkan Sherin Fardarisa telah ke Jember sejak Kamis siang, 23 Oktober 2025. Keramaian terakhir ruang ingatan praktis terjadi pada Kamis malam hingga Jumat agak siang, sebab ada Qorry Aina' juga Resti yang menginap. Paginya bersih-bersih. Aldi baru membawa penyedot debu pada sore harinya, tidak jadi di pagi hari. Kemarin, 24 Oktober 2025 ruang ingatan kosong. 

Demikian catatan hari ini di blog tamasja. 

TAMASJA NET

0 comments