Op Java's Vulkanen: Gunung Api di Jawa

by - Januari 20, 2026

Tepat pada 100 tahun yang lalu, Belanda tidak tahu apa-apa tentang gunung berapi. Narasi mereka tentang vulkanologi banyak diisi dengan hipotesis-hipotesis para ahli. Mereka menyebutnya para ahli, tapi tak punya gunung api sendiri di lanskap leluhurnya. Mereka butuh Karibia, butuh Indonesia, juga butuh gunung-gunung api di Jawa untuk menyempurnakan segala hipotesis itu. 

"Kami, orang Belanda, tidak mengenal api itu. Belanda tidak punya gunung berapi. Di Eropa, kita harus pergi ke Eifel untuk melihat dampak vulkanisme. Dan bahkan di sana pun, gunung berapi itu sudah mati. Namun, Hindia Belanda, yang dengannya kita terikat oleh ikatan selama berabad-abad, ikatan dalam berbagai bentuk, memiliki terlalu banyak (gunung api). Ia membungkuk dan terus membungkuk di bawah beban berat para peniup api. Sumatra serta Jawa, Bali serta Lombok, Sumba serta Kepulauan Sangir."

Begitu kata W. Sleumer dalam jurnal Op Java's vulkanen yang terbit tahun 1925. 

Orang-orang seperti Sleumer bertebaran di 'Hindia Belanda' untuk melakukan penelitian vulkanologi, sejak abad ke-19, seperti yang dituliskan Sleumer dalam jurnalnya.

"Para naturalis abad ke-19 dan ke-20 telah memanfaatkan gunung berapi dan mencoba untuk memahami rahasia mereka. Ia telah mendaki dan turun ke perut bumi, telah mencari dan menyelidiki, telah menduga dan merenungkan untuk mengungkap misteri ruang bawah tanah itu. Dengan tangan perkasa, ia telah mencoba merobek tabir yang menyembunyikan semua ini dari kita. Dan ia telah belajar banyak, ia dapat memberi tahu kita banyak tentang keadaan interior bumi. Ia dapat memperingatkan para penghuni gunung berapi untuk pergi ketika raksasa itu sedang mengamuk. Namun, semua upaya untuk melindungi gunung berapi itu sia-sia. Tak seorang pun dan tak satu pun upaya manusia dapat menahan kekuatan-kekuatan neraka itu. Di sanalah puing-puing Jawa berada. Di Selat Sunda, di sebelah barat, terdapat tiga pulau yang ditempatkan di sana oleh para dewa: Krakatau, Pulau Bësi, dan Pulau Dwars-in-den-Weg." Yang disebut terakhir adalah Pulau Sangiang saat ini. 

Mereka memulainya dari folklor, mitologi, dan legenda. Kadang melakukan komparasi atas cerita rakyat Indonesia itu dengan mitologi Romawi kuno. 


LEGENDA GUNUNG API di JAWA


Masih dari sumber yang sama, Op Java's vulkanen, berikut legenda tentang gunung-gunung berapi di Jawa. 


Di Pulau Jawa sendiri, gunung pertama adalah Karang, yang terbentuk oleh pasir yang mengalir dari kantong Hanoman, raja kera. Ketika kantong Hanoman pecah, terciptalah Gunung Karang. Gunung yang begitu tinggi sehingga kera-kera yang memanjatnya dapat bermain dengan bintang-bintang, kadang memecahkannya, sehingga Hanoman memotong sebagian gunung tersebut. 

Tangkuban Perahu adalah 'perahu yang terbalik, yang menjulang tinggi seperti gunung. Dan bahkan sekarang, api yang digunakan untuk menyiapkan pesta pernikahan bagi Putri Dayang Sumbi dan Sang Kuriang masih membara di dalam gunung ini. Demikianlah kata legenda.' (MI hlm. 173). 

Jauh di timur terbentang Gunung Raung, tempat pandai besi yang malas harus menempa tapal kuda untuk Kuda Sëmbrani, kuda yang dapat hidup di bumi dan di udara karena bersayap dan karenanya dapat terbang (MI hlm. 192). 

Bukankah ada Ijen, yang di puncak tertingginya terdapat bunga yang memiliki kekuatan untuk memberikan jimat awet muda dan kecantikan abadi kepada pemakainya? (MI hlm. 150). 

Menurut kisah dalam sebuah karya Jawa kuno, Tantu Pagelaran, para dewa membawa Mahameru atau Semeru ke bumi. Namun dalam perjalanan itu, mereka kehilangan potongan-potongan besar, yang jatuh ke bumi dan membentuk pegunungan Jawa. Dari barat ke timur, dari Sumbing di Jogja hingga Tengger dekat Tosari. Tak kurang dari 130 gunung berapi konon ada di Jawa, empatbelas di antaranya masih aktif. Bentuk kerucutnya jelas terlihat, seperti Semeru dan gunung Slamet. Namun, gunung berapi lainnya telah begitu terdeformasi, begitu berubah, begitu terkikis oleh kerusakan waktu yang dahsyat, sehingga hanya reruntuhan yang tersisa, dan para ilmuwan sering meragukan apakah mereka benar-benar gunung berapi. 

Selama bertahun-tahun, banyak deskripsi gunung berapi di Jawa telah muncul, tetapi penelitian yang akurat dan mendalam tidak dilakukan. Dan ini sangat dibutuhkan, x° dari perspektif ilmiah murni dan 30° untuk membatasi tingkat bencana vulkanik jika memungkinkan. 


_____


Lalu W. Sleumer menyebut nama-nama vulkanologi dan naturalis di zamannya, juga generasi di atasnya. Dia bilang dalam jurnal akademisnya itu bahwa gunung-gunung api di Hindia Belanda membuat pemerintah saat itu merasa perlu membuat 'Komisi Vulkanologi' di dalam Asosiasi Sejarah Alam Kerajaan Belanda, dan diskusi tentang pembentukan layanan vulkanologi di Hindia Belanda.

Buku ini berisi narasi yang bagus tentang kejadian erupsi gunung Kelut, Krakatau, dan Semeru. 

Sementara hari ini ilmu geologi dan vulkanologi telah berkembang pesat. Boleh jadi apa yang disampaikan oleh Sleumer pada 100 tahun lalu, kini telah ketinggalan zaman. Namun saya rasa ia penting untuk tetap dibaca, agar kita mengerti tahap-tahap pencapaian ilmu kegunungapian. Di Belanda sendiri, Sleumer adalah seorang guru ilmu terapan dan ekonomi sastra di sebuah sekolah menengah atas. Jadi penuturannya runtut dan mudah dicerna. Selain dilengkapi dengan 29 foto ilustrasi, buku Op Java's vulkanen juga dibuka dengan kata pengantar dari Dr. W. van Bemmelen, ahli geologi Belanda yang masyhur di zamannya. 

Mulanya hanya sebuah bahan ajar, lalu menjadi buku. Sleumer tidak pernah meniatkan diri membukukannya, sebenarnya. Sebagai bahan ajar, dari dibacakan menjadi dituliskan, tentu memudahkan pembaca awam seperti saya, meskipun materi itu telah ditulis sekian tahun yang lampau. Sleumer terbukti berhasil membuat susunan perkembangan ilmu tentang gunung-gunung api, dari zaman Junghuhn, Verbeek, Fennema, hingga zaman Bemmelen. 

Kata pengantar dari Dr. W. van Bemmelen ditutup dengan kalimat berikut ini. 

"Saya mendoakannya agar suatu hari nanti ia dapat tinggal di dunia vulkanik Indonesia, yang makna ilmiahnya, keindahan alamnya, dan kuasa takdirnya yang tak kenal ampun ia ungkapkan dengan begitu penuh semangat dan tepat."

Rupanya Sleumer belum pernah menginjakkan kaki di Indonesia, terutama tanah Jawa. 

TAMASJA NET

0 comments