Mengapa Presiden Venezuela Begitu Mudah Diculik

by - Januari 04, 2026

ANDA tentu telah mendengar bagaimana Amerika menghentak Venezuela dalam sekejap, serta menangkap Presiden Venezuela Nicolás Maduro beserta istri. Ia berlangsung begitu cepat dan berakhir sebelum sebagian besar warga Amerika bangun untuk sarapan di Sabtu pagi, 3 Januari 2026. Lalu, kejutan teknologi di bidang komunikasi semakin mempertajam perang urat syaraf. Sebagaimana kita ketahui, perang tak hanya urusan alutsista, namun ia juga tentang perang narasi. 

Kini semua orang dapat menjadi komentator geopolitik. 

Bagaimana sikap Indonesia seharusnya? Bila berpegang pada UUD 1945, di sana di bagian pembukaan (preambule) telah dijelaskan dengan gamblang, "Bahwa sesungguhnya Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan."

Tidak boleh ada sebuah negara yang menyerang bangsa lain yang telah merdeka dan berdaulat seperti Venezuela, apa dan bagaimana pun keadaan Venezuela saat ini. Ia tak hanya melanggar kedaulatan, tapi juga terang-terangan tidak menghormati hukum Internasional yang berlaku. Idealnya, rakyat Venezuela sendirilah yang menentukan masa depan politik mereka. 

Tapi bukan itu yang sedang ingin saya tuliskan di sini. Saya lebih ingin menyegarkan pikiran dengan pertanyaan, mengapa Presiden Venezuela begitu mudah diculik? 

Washington telah mempelajari Venezuela dalam waktu yang lama. Mereka telah menempatkan orang-orangnya di sana, termasuk para ahli ilmu-ilmu sosial, di antaranya adalah para ahli Antropologi. Entah itu disadari atau tidak oleh masing-masing Antropolog, namun hasil riset mereka dapat dipastikan terpindai oleh dunia intelijen Paman Sam. 

Jadi teman-teman, peristiwa invasi, penculikan dan ikut campur ini tidak ujug-ujug dan tidak se-impulsif itu. 

Bila kita menyediakan waktu untuk mempelajari polarisasi Amerika, dia adalah sebuah negeri yang nesuan. Bila ada negara yang berani menguasai SDA-nya sendiri, dan kebijakan itu merugikan perusahaan Amerika, si pengurus negara bakalan ngosok. Maka mereka akan berusaha melakukan tekanan politik, propaganda, sanksi ekonomi bila perlu. Mereka bahkan tidak segan melakukan upaya penggulingan rezim. 

Lihatlah Palestina di hari ini. 

Tapi tidak perlu jauh-jauh mencari contoh bagaimana polarisasi itu bekerja. Ingat-ingatlah perubahan rezim di Indonesia pada 1965. Waktu itu Pak Karno secara terang-terangan mendorong kedaulatan ekonomi, menolak tunduk pada blok Barat, dan melakukan nasionalisasi pada perusahaan-perusahaan asing. Kita kemudian tahu bagaimana jalannya sejarah di negeri ini. 

Venezuela sendiri adalah negara dengan cadangan minyak terbesar sedunia. Amerika merasa memiliki hak atas minyak dan SDA di sana, sebagaimana mereka juga merasa berhak atas SDA di negara-negara lain.

Jika kita ingat-ingat lagi, ketika Indonesia membicarakan Freeport dengan cara yang keliru misalnya, tiba-tiba terjadi kerusuhan dan demonstrasi Papua merdeka, tiba-tiba ada perang adat, tiba-tiba.. Semua terlihat tiba-tiba, seperti yang terjadi di Venezuela. Padahal tentu tidak tiba-tiba. 



Poster di atas saya jumpai di akun X yang telah dibeli oleh Elon Musk, tepatnya di akun milik Kedutaan Besar Venezuela di Kongo (Embajada de Venezuela en Congo). Di saat Elon sibuk memuji-muji apa yang dilakukan Amerika terhadap Venezuela atas nama masa depan Venezuela yang lebih baik, nyempil poster bertuliskan, El imperio los secuestro. Ilos queremos de Vuelta! Dengan menggunakan hastag 'Hands off Venezuela' alias jangan ganggu Venezuela, rakyat ingin Presiden beserta istrinya kembali. 

Namun apalah arti sebuah poster yang akan dikalahkan oleh poster-poster lain yang lebih semarak, dengan pesan yang berkebalikan. 

Mengapa Presiden Venezuela begitu mudah diculik? Sebab ia telah dipelajari dengan sungguh-sungguh oleh pihak lain dalam waktu yang tak sebentar. Baik secara pemetaan maupun karakter masyarakatnya, kota demi kota. Tak hanya Caracas. 

Banyak yang harus dipelajari Indonesia terkait perkembangan geopolitik saat ini, terutama sejak 24 Februari 2022 ketika Rusia menyerang Ukraina dalam skala besar, hingga tentang apa yang terjadi kemarin terhadap Venezuela. Di saat China sedang mengejar reformasi ketentaraan dan memproduksi alutsista dengan sangat melimpah, Indonesia tak bisa berleha-leha begitu saja sambil menjual narasi hilirisasi. Jika benar kita mencintai Indonesia, ada banyak hal yang perlu kita kejar. Kita boleh lho, belajar ke negara-negara lain seperti China yang sedang melakukan pengondisian politik domestik, mendengar melayani dan melindungi rakyatnya, dan terus menerus menarik simpati rakyatnya agar percaya pada pengurus negara. Kita juga bisa belajar pada negeri tetangga seperti Malaysia, atau pada negara mana pun yang kita anggap sesuai. Bisa kita ambil ilmu-ilmu tertentunya saja, disesuaikan dengan UUD 1945 tentunya. 

Semoga kita tidak terlena. Sebab geopolitik sedang bergerak kacau, membelakangi hukum-hukum yang berlaku. Jadi, tidak keliru untuk waspada. 

TAMASJA NET

0 comments