MEJIKUHIBINIU: Agar Hidup tak Lurus-lurus Saja

by - Januari 27, 2026


FOTO di atas dijepret oleh Zuhana AZ. Foto lama, 28 Januari 2017. Hana mengabadikannya ketika kami berada di Villa Koffie Afdeling Rayap, sesaat setelah hujan, ketika senja datang. Saya mengunggahnya di akun Facebook. Di kolom komentar, saya temukan catatan saya sendiri sebagai berikut di bawah ini. 

Mejikuhibiniu.

Ketika SD, kita sudah diberitahu tentang istilah mejikuhibiniu. Itu warna pelangi, merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila/indigo, ungu. Saat besar, kita diberitahu bila itu adalah fenomena optik dan meteorologi yang menghasilkan spektrum cahaya di langit. Lalu kita mengenal istilah-istilah yang sulit diucapkan, bila harus bicara tentang proses terjadinya pelangi. Tak semudah menghapalkan istilah mejikuhibiniu.


Semakin ke sini semakin ingin kita menyederhanakannya kembali, seperti masa SD. Karena pelangi hanya akan terjadi apabila cahaya mengalami pembiasan, ketika cahaya matahari terkena air hujan. Lalu kita masih bertanya, pembiasan itu apa? Ooo, ternyata pembiasan itu adalah pembelokan cahaya. Bila lurus-lurus saja, tak akan terjadi pelangi.


Jadi, mari kita menciptakan pelangi sendiri. Kita bisa saja berdiri membelakangi matahari dan menyemburkan air ke udara, di suatu hari yang cerah. Atau memetik pelangi dari sisi filosofinya, agar hidup kita mejikuhibiniu. Agar hidup tak lurus-lurus saja.

TAMASJA NET

0 comments