Menengok Kios Haji Abdus Salam
Dokumentasi pribadi, 3 Januari 2026
KIOS milik Haji Abdus Salam itu akhirnya dibuka, oleh si pemiliknya sendiri. Tadi siang kami ramai-ramai melongok masuk untuk melihat kondisi di dalam kios yang terdiri atas empat rongkang itu. Sangat nampak bila kios ini sudah lama tak digunakan, bisa dilihat dari mula-mula ketika Pak Haji kesulitan membuka gembok pintu. Ia seperti sudah berkarat dan butuh pelumas.
Di dalam kios kondisinya cukup pengap dan gelap. Syukurlah kedua lampu bohlam masih bisa nyala, meskipun yang menyala terang hanya satu, satunya lagi mendrip-mendrip. Kotor. Sampah berserakan dimana-mana. Sisa-sisa dagangan seperti teh gelas dan makanan ringan tergeletak di rak-rak yang reot. Semua terlihat rapuh dan berdebu. Namun di antara debu dan pengap, wajah Hamdan terlihat ceria. Dia seperti sedang melihat masa depan penuh pelangi. Ibarat di Namrole, hujan sedikit muncul pelangi.
Sudah ada token listrik di kios Haji Abdus Salam, dengan daya 450 VA.
Di atas langit-langit kios terdapat semacam loteng darurat, untuk menyimpan barang-barang dagangan. Tak mungkin untuk nongkrong manusia sebab kualitas kayunya terlihat rapuh sejak awal. Apalagi sekarang. Hamdan berpikir untuk menyingkirkannya saja biar lebih luas dan terasa lega.
Sepulang dari melihat-lihat kios, kami masih singgah sejenak di toko pracangan milik Om Kebo. Kami beritahu rencana kios buku kepadanya, sambil meminta restu. Tak lama lagi kami akan bertetangga, Insya Allah. Sejenak di Om Kebo, lalu kami melanjutkan silaturahmi ke rumah Novliansyah Pradana Putra alias Bajil, si perintis keberadaan Jastip Kalisat sejak 2020. Kami berlama-lama di sana, sebelum kemudian pulang.
Bismillah. Mohon doa restu, teman-teman.

0 comments