Memeta Kuliner dan Pangan Lokal

by - Januari 07, 2026


Bersama Aunurrahman Wibisono, 18 Oktober 2024


NURAN pulang ke Arjasa dan teman-teman Sudut Kalisat mengajaknya untuk nongkrong di ruang ingatan, lalu kami bikin diskusi kecil berjudul, Mahagengguk: Memeta Kuliner dan Pangan Lokal. Saya ingat, saat itu sore sedang cerah. Mas Eko Bambang Trivisia juga datang ke Kalisat, dari Bondowoso. Dia adalah seorang pegawai negeri, Facebooker, dan pencinta dunia memasak. 

Selain perkembangan sejarahnya, budaya kuliner suatu masyarakat sangat dipengaruhi oleh geografi fisik dan sosialnya. Begitu juga selera makan sebuah masyarakat, ia dipengaruhi pula oleh ruang geografisnya. 

Mari kita jadikan Kalisat sebagai contoh. 

Sebagai sebuah kecamatan dengan lanskap yang berbukit-bukit, maka orang-orang Kalisat di duabelas desa akrab dengan sayur rebung alias sayur dengan bahan tunas bambu. Mengapa? Sebab bambu melimpah di Kalisat, mulai dari tepian DAS hingga di gumuk-gumuk. Kalisat akrab dengan sayur ontong sebab di sini pohon pisang mudah dijumpai. Variannya bermacam-macam. Selain suka sayur ontong yang berbahan dasar jantung pisang, warga Kalisat juga penggemar pisang goreng, baik pisang goreng dengan balutan tepung maupun pisang goreng yang lebih kuno lagi. Tanpa tepung dan ditaburi gula pasir, diberi nama palak beca. Palak adalah bahasa daerah untuk alat kelamin laki-laki, sedangkan beca artinya basah. Itu dia arti palak beca. Bila merujuk pada urusan makanan, orang Jember Utara tak masalah pakai istilah palak beca dan bukan bermaksud saru. 

NANGKA paling enak di dunia adalah nangka Kalisat. Begitu menurut hipotesis Alm. Nuriata, sosok penting di dunia pariwisata Bandung, terutama terkait Politeknik Pariwisata NHI Bandung. Maka tak heran bila warga Kalisat pada khususnya sangat mencintai sayur tewel dan segala hal yang berbahan nangka. Beton pun dimakan oleh masyarakat Jember. 

Bila bergeser ke arah selatan, kita akan menjumpai aneka makanan berbahan ikan laut. 

Jember menjadi menarik sebab terjadi barter pengetahuan antara masyarakat pesisir maritim dan masayarakat agraris. Ada asimilasi, ada akulturasi. Belum lagi pengaruh dari kota-kota di Jawa dan luar Jawa, Madura, Bali, dan lainnya. Ketika ditarik dari perspektif sejarah kolonial, ia juga menyisakan jejak-jejak gastronomi. 

Di hari-hari terakhir ini, terutama sejak 7 November 2025 hingga 7 Januari 2026, teman-teman Sudut Kalisat di ruang ingatan sedang senang-senangnya melakukan praktik memasak dari bahan-bahan yang bisa mereka dapat di sekitar. Bila perlu, dari bahan yang dipanen di kebun sendiri. Maka dari itu tiba-tiba saya teringat materi pangan lokal yang pernah disampaikan dengan sangat runtut dan santai oleh Nuran Wibisono. 

Hari ini, ketika tulisan ini sedang saya garap, dapur ruang ingatan sedang semarak. Karin dan Bude sedang bikin pisang goreng. Ndari' masih antar Aru ke rumah Yuyut. Ada pisang keju dan pilihan lainnya. Besok, rencananya mereka hendak bikin kue soft cookies

TAMASJA NET

0 comments