Voetsporen Aan de Kim

by - Februari 02, 2026

Hendrik Robbert van Heekeren pernah menerbitkan sebuah buku di tahun 1940 dengan nama samaran yaitu Hybride. Saya kira keputusan menggunakan nama samaran tersebut lahir dari situasi geopolitik yang sulit. Tapi kali ini saya tidak hendak bercerita tentang sosok HR van Heekeren melainkan tentang buku yang ia terbitkan, berjudul, Voetsporen aan de kim. Jejak kaki di cakrawala. Ini buku yang bagus, layak dibaca, terutama bagi pemerhati lingkungan. 


"Kerinduanku semakin kuat, dan aku tak sabar menanti hari di mana aku bisa berkata: "Salam, gunung-gunung." Junghuhn 1845.


Kutipan dari Junghuhn dipakai sebagai pembuka buku Voetsporen aan de kim. Ia ditulis oleh Hybride alias Hendrik Robbert van Heekeren. 

Tetapi masih banyak gunung berapi yang jarang dikunjungi, di mana seseorang masih bisa menyendiri dan yang belum berubah sejak zaman Junghuhn, Zollinger dan Stöhr.

Misalnya, di sana, jauh di timur, terletak Raoeng yang sangat besar , Olympus dari Besuki, tempat pandai besi yang malas menempa sepatu untuk kuda bersayap legendaris, kuda sembrani yang melesat melalui wilayah udara.

Dahulu, Gunung Raoeng jauh lebih tinggi daripada sekarang, tetapi seluruh puncaknya hancur secara dahsyat pada tahun yang tidak diketahui, menciptakan arena yang luas dan mengubah bentuk kerucut gunung berapi tersebut menjadi formasi seperti puding yang melorot. 


Saya berencana membagikan tulisan 'Voetsporen aan de kim' ini di blog tamasja dalam beberapa bagian, dengan judul 'Jejak kaki di cakrawala.' Semoga berkenan. 

TAMASJA NET

0 comments