Dilarang Keras Menulis Berita Bohong
by
tamasja
- Januari 10, 2026
DILARANG keras menulis berita bohong. Orang yang mengatakan itu adalah seorang lelaki gondrong kelahiran Tuban yang kelak menjadi Bapak mertua saya sendiri. Benar, ia adalah Bapak kandung Zuhana AZ. Dia juga bilang, "Kalimat itu adalah kode etik jurnalistik yang paling tua, saya kira."
Kelak ketika saya dan Zuhana berkesempatan mengikuti sekolah menulis narasi di Jakarta, kami berjumpa dengan pemikiran-pemikiran Bill Kovach dan Tom Rosenstiel. Mereka berdua menawarkan lima konsep dalam verifikasi.
a. Jangan menambah atau mengarang apa pun;
b. Jangan menipu atau menyebarkan pembaca, penonton, maupun pendengar;
c. Bersikaplah setransparan dan sejujur mungkin tentang metode dan motivasi Anda dalam melakukan reportase;
d. Bersandarlah terutama pada reporterase Anda sendiri;
e. Bersikaplah rendah hati.
Di bawah dua orang guru, Andreas Harsono dan Janet Steele, kami berdua menjadi tahu bahwa pemikiran Kovach dan Rosenstiel tersebut kemudian diramu dan menjadi sembilan elemen jurnalisme. Kini sepuluh. Elemen kesepuluh ditambahkan oleh Bill Kovach.
Warga juga memiliki hak dan tanggung jawab dalam hal-hal yang terkait dengan berita.
Kovach merasa perlu menambahkan elemen kesepuluh tersebut karena pertimbangan akan ledakan teknologi di bidang informasi dan komunikasi, teristimewa internet, sehingga membuat warga bukan lagi sekadar konsumen pasif dari media. Kini mereka juga bisa menciptakan media sendiri.
Dalam catatan ini saya tidak hendak menulis sembilan elemen jurnalisme, tidak juga hendak menjelaskan masing-masing dari elemen itu. Namun saya sedang merenungkan ucapakan Bapak mertua saya sendiri. Rupanya benar, ia adalah bagian penting dari elemen jurnalisme, sama seperti yang dipikirkan oleh Kovach dan Rosenstiel.
Hari ini Bapak mertua saya ulang tahun. Sehat-sehat, Bapak.



