Perkara Ganti Kalender
by
tamasja
- Desember 31, 2025
TAHUN BARU MASEHI adalah peristiwa paling akbar yang dilaksanakan hampir di seluruh penjuru dunia, termasuk di Indonesia. Ia disambut dengan terompet, kembang api, hingga menghitung mundur secara bersama-sama sepuluh detik terakhir pergantian tahun. Orang-orang menyambut datangnya pukul 00.00 dengan penuh antusias. Padahal bila dipikirkan dari berbagai perspektif, ini hanyalah perkara ganti kalender. Sudah benar bila teman-teman kolektif Sudut Kalisat menyambut budaya massal itu dengan memasak dan makan bersama-sama.
Perkara ganti kalender ini hanya terjadi di tahun Masehi. Peristiwa serupa tidak akan Anda jumpai di pergantian kalender Hijriyah misalnya, atau kalender Jawa. Tahun baru Islam memang kita kenal sebagai malam satu Suro, dan sudah terlanjur dimengerti sebagai malam paling sakral di antara malam-malam yang lain. Justru di malam satu Suro orang pantang keluar rumah dan atau mengadakan pesta besar sebab ia adalah malam penuh energi gaib.
Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, malam pergantian tahun hari ini dijalani dengan lebih tenang, pelan, dan tanpa resolusi spektakuler. Begitu rata-rata orang Indonesia menyambut datangnya 2026. Sudut pandang itu tentu juga dibentuk oleh pengurus negara, keadaan politik di negeri ini, juga oleh kuasa media. Belum lagi bila kita bicara dari sudut pandang geopolitik.
"Jadi biarlah waktu tetap berjalan cepat, aku yang melambat." Itu penggalan catatan Pungky Prayitno di akun Instagram miliknya.
Kami di ruang ingatan juga melambat. Anak-anak bikin kue lumpur berbahan dasar labu Halloween, salad, bikin sambal yang lomboknya didapat dari hasil panen di kebun belakang rumah, dsb. Rama datang dari Bandealit dengan membawa dua daging mentok/itik serati yang sudah dibumbui dan kami tinggal ngenget saja. Karin, Aina, Resty, Aru, Hafid, Novia Suryandari, Hamdan Tamimi, mereka tampak bersemangat. Lalu datang juga Mas Krisna, Mbak Niken, Rere dan Levi. Malam yang menggembirakan, sederhana, dan lambat. Di luar sana, tanah Jember masih basah oleh hujan sesorean tadi hingga pukul delapan malam.
Namun cerita berubah tak lama setelah Rere sekeluarga pamit pulang.
Baru saja, tepatnya pukul 23.36 WIB, Hafid seperti kesetanan. Dia tak terkendali, membentak-bentak Resty keponakannya, memaksa Resty untuk segera pulang. Dalam omelannya yang beringas itu, Hafid bilang bila Resty sering berbohong dan tidak pamit dengan benar kepada orangtuanya.
Lewat pukul 23.37 situasi sudah tak lagi sama. Jauh terasa lebih lambat. Kami menyambut pergantian kalender Masehi dengan biasa saja.
Resty pulang. Aina tangannya masih gemetar, dia diajak berbincang oleh Hana. Karin memilih untuk melipat-lipat baju dan packing. Besok dia hendak berangkat ke Bali dan akan ada di sana selama satu minggu.
Teman-teman, sekian menit lagi kalender akan segera berganti. Sehat-sehat semua ya.
Tak banyak berita baik dari dalam negeri. Tapi tak apa, ingat-ingat saja pesan Ipang Kalisat, 'Stay Silly.' Itu penting bila pengurus negara tak bisa diajak ngobrol serius.
Jadi, stay silly!





