Op Java's Vulkanen: Gunung Api di Jawa
Tangkuban Perahu adalah 'perahu yang terbalik, yang menjulang tinggi seperti gunung. Dan bahkan sekarang, api yang digunakan untuk menyiapkan pesta pernikahan bagi Putri Dayang Sumbi dan Sang Kuriang masih membara di dalam gunung ini. Demikianlah kata legenda.' (MI hlm. 173).
Jauh di timur terbentang Gunung Raung, tempat pandai besi yang malas harus menempa tapal kuda untuk Kuda Sëmbrani, kuda yang dapat hidup di bumi dan di udara karena bersayap dan karenanya dapat terbang (MI hlm. 192).
Bukankah ada Ijen, yang di puncak tertingginya terdapat bunga yang memiliki kekuatan untuk memberikan jimat awet muda dan kecantikan abadi kepada pemakainya? (MI hlm. 150).
Menurut kisah dalam sebuah karya Jawa kuno, Tantu Pagelaran, para dewa membawa Mahameru atau Semeru ke bumi. Namun dalam perjalanan itu, mereka kehilangan potongan-potongan besar, yang jatuh ke bumi dan membentuk pegunungan Jawa. Dari barat ke timur, dari Sumbing di Jogja hingga Tengger dekat Tosari. Tak kurang dari 130 gunung berapi konon ada di Jawa, empatbelas di antaranya masih aktif. Bentuk kerucutnya jelas terlihat, seperti Semeru dan gunung Slamet. Namun, gunung berapi lainnya telah begitu terdeformasi, begitu berubah, begitu terkikis oleh kerusakan waktu yang dahsyat, sehingga hanya reruntuhan yang tersisa, dan para ilmuwan sering meragukan apakah mereka benar-benar gunung berapi.
_____
Buku ini berisi narasi yang bagus tentang kejadian erupsi gunung Kelut, Krakatau, dan Semeru.
Sementara hari ini ilmu geologi dan vulkanologi telah berkembang pesat. Boleh jadi apa yang disampaikan oleh Sleumer pada 100 tahun lalu, kini telah ketinggalan zaman. Namun saya rasa ia penting untuk tetap dibaca, agar kita mengerti tahap-tahap pencapaian ilmu kegunungapian. Di Belanda sendiri, Sleumer adalah seorang guru ilmu terapan dan ekonomi sastra di sebuah sekolah menengah atas. Jadi penuturannya runtut dan mudah dicerna. Selain dilengkapi dengan 29 foto ilustrasi, buku Op Java's vulkanen juga dibuka dengan kata pengantar dari Dr. W. van Bemmelen, ahli geologi Belanda yang masyhur di zamannya.
Mulanya hanya sebuah bahan ajar, lalu menjadi buku. Sleumer tidak pernah meniatkan diri membukukannya, sebenarnya. Sebagai bahan ajar, dari dibacakan menjadi dituliskan, tentu memudahkan pembaca awam seperti saya, meskipun materi itu telah ditulis sekian tahun yang lampau. Sleumer terbukti berhasil membuat susunan perkembangan ilmu tentang gunung-gunung api, dari zaman Junghuhn, Verbeek, Fennema, hingga zaman Bemmelen.
Kata pengantar dari Dr. W. van Bemmelen ditutup dengan kalimat berikut ini.
"Saya mendoakannya agar suatu hari nanti ia dapat tinggal di dunia vulkanik Indonesia, yang makna ilmiahnya, keindahan alamnya, dan kuasa takdirnya yang tak kenal ampun ia ungkapkan dengan begitu penuh semangat dan tepat."
Rupanya Sleumer belum pernah menginjakkan kaki di Indonesia, terutama tanah Jawa.

